Belajar & Mengajar Menulis yang Baik dan Benar Ala Abi Ihya’ Ulumiddin

Abi ihya’ Ulumiddin membimbing kami di ma’had Nurul Haromain Pujon Malang dalam segala urusan hingga dalam masalah tulisan pun beliau mengontrol kami sangat detail.
Kontrol Abi terhadap Tulisan kami sampai harus beliau tanda tangani secara berkala. Dan bimbingan beliau secara khusus kepada saya sempat saya catat urutan “kisahnya” sebagai berikut:

  1. Wajib berguru pada ahlinya maka kulo diwajibkan abi utk berguru kpd Akhuya ust.fahad. ini terjadi sesaat setelah sy iseng nulis fawa’id di papan tulis depan ndalem Abi. Maka saat melihat ada tulisan yg salah meski rodok sedikit ada bakat maka Abi mewajibkan saya belajar nulis dg benar.
  2. Praktek langsung nulis bersama akhuya ust.syarifuddin di buletin selosoan “Ash Shuhuf”.

Abi mengkoreksi tulisan di buletin ash-shuhuf saat itu diteliti tiap kata & kalimat. Baik tulisan indonesia apalagi tulisan arabnya.

Semisal: Abi mboten kerso tulisan ALLOH diketik ALLAH. Beliau marah kalau tulisan sholawat disingkat SAW. Abi tidak berkenan bila tulisan Subhanahu Wata’ala disingkat dengan SWT.

  1. Praktek imla’ (didekte abi) live Selosoan saat Abi ngaji di atas podium “singgasana” sundul mihrob (paimaman musholla). Ngaji selosoan plus khidmah jadi “tochscreen & layar projector” manual Abi.🤣🤓🤩
  2. Nulis Khulashoh (Ringkasan) Ngaji Tafsir atau ngaji Hadits kitab ALBUKHORI & MUSLIM di kitab Abi yang biasa beliau pakai ngajar tiap hari senin & selasa pagi.

Ini menjadi uji nyali terbesar & terberat seumur hidup sy. Sbb tidak hanya wajib baik tp wajib benar benar bener. 😧🤔😧🤔😧

Di antara kejelian dan ketelitian Abi dalam mengkontrol hasil kerja saya adalah saat ada tulisan saya yang menurut saya sudah uwwwapik poll… Tp ternyata beliau masih mengatakan kata2 yang paling ditakuti santri-santri ma’had Nurul Haromain Pujon generasi Assabiqunal-Awwalun saat itu adalah “LEE…???”
Yang dampak radiasi gemetarnya 3 hari belum hilang…😭😭😭

Saat itu saya menulis persis dalam gambar yang saya aploud di atas.

Yaitu huruf jer terpisah dg kalimat majrurnya…!!!

“Lee Hakadza…???!!???”

Bentak abi kepada saya sambil menunjuk pada tulisan yang menurut saya sudah baik dan benar tapi masih saja salah.

Abi mboten kerso kalau saya memisahkan huruf jer dengan kalimah (kata) majrurnya. Meskipun alasannya tidak muat tempatnya maka harus ganti di baris berikutnya harus selalu berdampingan mesrah antara huruf في dengan kata الهواء.

Doa “Allohumma…/… اللهم…” dalam Al-Qur’an:

Doa “Allohumma…” dalam Al-Qur’an:

١- (قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِی ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَاۤءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَاۤءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاۤءُۖ بِیَدِكَ ٱلۡخَیۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیرࣱ)
[Surat Aali ‘Imroon 26]

٢- (قَالَ عِیسَى ٱبۡنُ مَرۡیَمَ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَاۤ أَنزِلۡ عَلَیۡنَا مَاۤىِٕدَةࣰ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ تَكُونُ لَنَا عِیدࣰا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَایَةࣰ مِّنكَۖ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَیۡرُ ٱلرَّ ٰ⁠زِقِینَ)
[Surat Al-Ma’idah 114]

٣- (وَإِذۡ قَالُوا۟ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَـٰذَا هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ فَأَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَةࣰ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ أَوِ ٱئۡتِنَا بِعَذَابٍ أَلِیمࣲ)
[Surat Al-Anfaal 32]

٤- (دَعۡوَىٰهُمۡ فِیهَا سُبۡحَـٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِیَّتُهُمۡ فِیهَا سَلَـٰمࣱۚ وَءَاخِرُ دَعۡوَىٰهُمۡ أَنِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ)
[Surat Yunus 10]

٥- (قُلِ ٱللَّهُمَّ فَاطِرَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ عَـٰلِمَ ٱلۡغَیۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ أَنتَ تَحۡكُمُ بَیۡنَ عِبَادِكَ فِی مَا كَانُوا۟ فِیهِ یَخۡتَلِفُونَ)
[Surat Az-Zumar 46]

Sekilas Sejarah Walisongo

Siroh Singkat Walisongo

oleh Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Yahya kepada Idarah ‘Aliyah MATAN

Sebenarnya Wali Sanga di Indonesia itu tidak hanya yang biasa dikatakan oleh ahli sejarah. Maulana Habib Luthfi Bin Yahya mengisahkan sejarah Wali Sanga yang tidak terekam oleh para ahli sejarah. Ahli sejarah itu membuatnya berdasarkan kepentingan politik. Menurut Habib Luthfi, wali sanga itu ada lima generasi.

Generasi pertama dipimpin oleh Syaikh Jamaludin Husein atau Syeikh Jumadil Kubro yang membawahi delapan wali lainnya. Sebagian terpencar di Sumatera.

Generasi kedua dipimpin oleh Syaikh Maulana Al-Malik Ibrahim yang membawahi delapan wali lainnya diantaranya Sayyidina Imam Quthub Syarif bin Abdullah Wonobodro, Syaikh Muhammad Sunan Geseng, Sayyid Ibrahim, Sunan Gribig, Amir Rahmatillah Sunan Tembayen, Imam Ali Ahmad Hisamuddin (Cinangka, Banten lama), al-Imam Ahmad Zainul Alam.

Generasi ketiga dipimpin oleh Imam Maulana Ibrahim Asmoroqondi / Pandito Ratu (Tuban, Gresik) yang membawahi delapan sunan, diantaranya: Sunan Ali Al-Murtadlo (Genjang), Wali Lanang (Maulana Ishaq), Imam Ahmad Rahmatillah, Sayyid Jalal Tuban, Syaikh Datuk Kahfi / Dzatul Kahfi / Sayyid Mahdi Cirebon, Syaikh Muhammad Yusuf Parang Tritis Jogja, Syaikh Maulana Babullah (Belabenung).

Generasi keempat dipimpin oleh Imam Ahmad Rahmatillah (Sunan Ampel) yang membawahi delapan sunan diantaranya: Sultan Abdul Fatah, Sunan Drajat, Syaikh Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syaikh Maulana Utsman Haji, Syaikh Muhammad bin Abdurrahman (Sunan Mejagung), Syaikh Maulana Ja’far Shadiq (Sunan Kudus), Sayyid Abdul Jalil (Sunan Bagus Jeporo, Bukan Syaikh Siti Jenar).

Generasi kelima dipimpin oleh Sunan Bonang yang membawahi delapan wali, diantaranya Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijogo, Sultan Trenggono, Sunan Zainal Abidin / Qadli Demak, Sunan Muria.

Pada masa Syaikh Jamaluddin Husein perjuangan dititikberatkan pada keorganisasian, dedikasi, ekonomi. Kemudian dilanjutkan dalam dunia pendidikan dan pengkaderan pada masa Sayyid Malik Ibrahim, sehingga dapat memasuki wilayah kerajaan tanpa campur tangan politik dan (imbalan) ekonomi. Selanjutnya pada masa Syaikh Asmoroqondi, mulai dilakukan pengaturan struktur organisasi sebagai media dakwah serta memperkuat perekonomian dan spiritual.

Selanjutnya pada masa Sunan Ampel dilanjutkan dengan pemetaan geografi dan antropologi, pembangunan ekonomi dan pertanian, pengelolaan tanah hadiah dari Hayam Wuruk dan Gajah Mada, sehingga bisa menghidupi dakwah dan pendidikan. Selain itu, kerapian organisasi lebih disempurnakan sehingga melahirkan ketatanegaraan/negarawan, ekonom, pertanian, yang diantaranya dipegang oleh putra beliau, Maulana Hasyim, seorang ulama, fuqoha, tasawwuf, ekonom, mampu memberdayakan ekonomi umat, sehingga fuqara, masaakin, aytam, dan para siswa terjamin hidupnya.

Sunan Bonang; merupakan seorang yang ‘allaamah, membidangi segala ilmu, guru besar dari para sultan/ratu, senopati, adipati, tumenggung, dan guru para wali dan ulama. Kedudukan beliau shulthaan al-auliyaa’ fii zamaanihi.

Imam Ja’far Shadiq; merupakan seorang muhaddits dan faqiih, mahir ilmu kelautan, ekonomi, dan pola pendidikan sehingga mampu mensejahterakan kerajaan dan lingkungan, serta seorang budayawan.

Baca Juga > Sayyid Jamaluddin al-Akbar dan Sejarah Masuknya Islam di Sulawesi Selatan (1)
Sunan Kalijogo; merupakan seorang ‘alim yang sangat memahami budaya, sekalipun aliran-aliran dan agama lain, sehingga mampu mengendalikan segala aliran, dari situ beliau mendapat gelar Kalijogo (kalinya aliran-aliran). Disamping itu, beliau merupakan budayawan, seniman, pengarang gending dan lagu yang berbentuk puisi ataupun syair. Beliau juga seorang dalang yang mampu memadukan dari mahabharata menjadi carangan, dari carangan menjadi karangan dan karangan itu menjadi pakem para dalang. Media tersebut juga menjadi media dakwah.

Sunan Giri (Muhammad ‘Ainul Yaqin); merupakan seorang yang mahir hukum, mufti di zamannya dan fatwanya sangat ditaati, pengaruh beliau sampai pada anak cucunya, diantara keabsahan para sultan di jawa, beliaulah yang melantiknya.

Sultan Abdul Fatah; merupakan seorang ‘alim bijaksana, luas wawasannya dalam kebangsaan, seorang negarawan, seorang politisi yang sangat rapi dalam mengatur struktur pemerintahan di zamannya, pengaruh beliau sampai malaka bahkan Turki di zaman itu.

Syaikh Ali Zainal Abidin / Qadli Demak; merupakan orang yang ‘allamah, kebijakan-kebijakan beliau dalam syariat sangat dihargai pada waktu itu, beliau sangat sukses dalam menjaga pemerintahan, keamanan, dan pertahanan nasional.

Sunan Gunung Jati; merupakan orang yang sangat ‘allamah, negarawan, budayawan, ahli strategi, pengaruhnya sangat luar biasa di kalangan muslim maupun non muslim, disegani dan dicintai umat, serta menjadi pelindung umat dan bangsa.

Sunan Muria; merupakan shulthaan al-Auliyaa’ fii zamanihi, pembesar ahli thariqah, budayawan, seniman, ekonom. Pengaruh beliau sangat luar biasa dari semua kalangan menengah, atas, dan bawah. Pertumbuhan thariqoh di zamannya mekar. Beliau pendamai dan sangat disegani dan dicintai umat.

Sunan Bagus Jeporo (Syaikh Abdul Jalil); merupakan seorang sufi yang faqih, pengendali dari bentuk gejolak yang akan membawa perpecahan, sehingga tumbuh kedamaian dan ketentraman. Syaikh Abdul Jalil ini bukan Syaikh Abdul Jalil yang Syaikh Siti Jenar.

Demikianlah Siroh singkat Wali Songo yang disampaikan Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Yahya di ndalem beliau pada hari jumat tanggal 13 April 2012, beliau memberi masukan agar pola pengkaderan di MATAN seperti kisah Wali Songo.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran, hikmah, dan menjadikan kisah di atas sebagai teladan untuk gerak dan perjuangan kita. Amien. Al-Fatihah….