Biyadihil-khoiru

Letak pengucapan dzikir :
بيده الخير

وبالسند المتصل إلى الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله تعالى ونفعنا بعلومه في الدارين آمين.

وبه إليه قال:

حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي حُسَيْنٍ الْمَكِّيُّ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَالَ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ وَيَثْنِيَ رِجْلَهُ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ وَالصُّبْحِ:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
(عَشْرَ مَرَّاتٍ)

كُتِبَ لَهُ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَكَانَتْ حِرْزًا مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ وَحِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَلَمْ يَحِلَّ لِذَنْبٍ يُدْرِكُهُ إِلَّا الشِّرْكَ فَكَانَ مِنْ أَفْضَلِ النَّاسِ عَمَلًا إِلَّا رَجُلًا يَفْضُلُهُ يَقُولُ أَفْضَلَ مِمَّا قَالَ.

(رواه أحمد ١٧٣٠٥)

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ عنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ قَالَ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ وَيَثْنِيَ رِجْلَهُ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ وَالصُّبْحِ:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
(عَشْرَ مَرَّاتٍ)

كُتِبَ لَهُ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَكَانَتْ حِرْزًا مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ وَحِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَلَمْ يَحِلَّ لِذَنْبٍ يُدْرِكُهُ إِلَّا الشِّرْكَ فَكَانَ مِنْ أَفْضَلِ النَّاسِ عَمَلًا إِلَّا رَجُلًا يَفْضُلُهُ يَقُولُ أَفْضَلَ مِمَّا قَالَ.

(رواه أحمد ١٧٣٠٥)

Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Abdulloh bin Abu Husain Al Makki dari Syahr bin Hausyab dari Abdurrohman bin Ghunmin dari Nabi shollallihu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa sebelum bergeser dan
merobah kakinya dari sholat Maghrib dan Shubuh mengucapkan: “LAA ILAAHA ILLALLOH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU BIYADIHIL KHOIRU YUHYII WAYUMIITU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYA`IN QODIIR (Tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Alloh dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya lah seluruh kerajaan dan segala pujian. Di tangan-Nya segala kebaikkan, Dzat Yang menghidupkan dan mematikan. Dia adalah Maha kuasa atas segala sesuatu) ‘ sebanyak sepuluh kali, maka akan ditulis baginya pada setiap kata sepuluh kebaikkan dan dihapuskan dari sepuluh kesalahan. Akan diangkat sepuluh derajat serta menjadi pelindung baginya dari kesulitan dan dari setan yang terkutuk. Ia tidak akan ditimpa siksa dari dosanya kecuali dari perbuatan syirik. Dan ia termasuk manusia yang paling utama amalannya kecuali orang yang berkata dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang ia katakan.”

(HR. Achmad no.17305)

اللاهثون

اللاهثون:

(وَٱتۡلُ عَلَیۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِیۤ ءَاتَیۡنَـٰهُ ءَایَـٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِینَ ۝ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَـٰهُ بِهَا وَلَـٰكِنَّهُۥۤ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَیۡهِ یَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ یَلۡهَثۚ ذَّ ٰ⁠لِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَاۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ یَتَفَكَّرُونَ ۝ سَاۤءَ مَثَلًا ٱلۡقَوۡمُ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا وَأَنفُسَهُمۡ كَانُوا۟ یَظۡلِمُونَ)
[Surat Al-A’roof 175 – 177]

Imam ibnu Katsir menjelaskan ayat2 tersebut:

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Sufyan As-Sauri, dari Al-A’masy dan Mansur, dari Abud Duha, dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas’ud r .a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al­Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. (Al-A’raf: 175), hingga akhir ayat. Dia adalah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil, dikenal dengan nama panggilan Bal’am ibnu Ba’ura.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Syu’bah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, dari Mansur, dengan sanad yang sama.

Sa’id ibnu Abu Arubah mengatakan dari Qatadah, dari Ibnu Abbas, bahwa telaki tersebut bernama Saifi ibnur Rahib.

Qatadah mengatakan, Ka’b pernah menceritakan bahwa dia adalah seorang telaki dari kalangan penduduk Al-Balqa, mengetahui tentang Ismul Akbar, dan tinggal di Baitul Maqdis dengan orang-orang yang angkara murka.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwa dia adalah seorang lelaki dari kalangan penduduk negeri Yaman, dikenal dengan nama Bal’am; ia dianugerahi pengetahuan tentang isi Al-Kitab, tetapi ia meninggalkannya.

Malik ibnu Dinar mengatakan bahwa orang itu adalah salah seorang ulama Bani Israil, terkenal sebagai orang yang mustajab doanya; mereka datang kepadanya di saat-saat kesulitan. Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam mengutusnya ke raja negeri Madyan untuk menyerukan agar menyembah Allah. Tetapi Raja Madyan memberinya sebagian dari wilayah kekuasa­annya dan memberinya banyak hadiah. Akhirnya ia mengikuti agama raja dan meninggalkan agama Nabi Musa ‘alaihissalam

Sufyan ibnu Uyaynah telah meriwayatkan dari Husain, dari Imran ibnul Haris, dari Ibnu Abbas, bahwa orang tersebut adalah Bal’am ibnu Ba’ura. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Ikrimah.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Mugirah, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang tersebut bernama Bal’am. Sedangkan menurut Saqif, dia adalah Umayyah ibnu Abu Silt.

Syu’bah telah meriwayatkan dari Ya’la ibnu Ata, dari Nafi’ ibnu Asim, dari Abdullah ibnu Amr sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami beri­kan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab). (Al-A’raf: 175), hingga akhir ayat. Bahwa dia adalah teman kalian sendiri, yaitu Umayyah ibnu Abu Silt.

Hal ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Abdullah ibnu Amr, dan predikat sanadnya sahih sampai kepadanya. Seakan-akan ia hanya bermaksud bahwa Umayyah ibnu Abus Silt mirip dengan orang yang disebutkan dalam ayat ini, karena sesungguhnya ia telah banyak menerima ilmu syariat-syariat terdahulu, tetapi tidak dimanfaatkannya. Dia sempat menjumpai masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan telah sampai kepadanya tanda-tanda, alamat-alamat, dan mukjizat-mukjizatnya, sehingga tampak jelas bagi semua orang yang mempunyai pandangan mata hati. Tetapi sekalipun menjumpainya, ia tidak juga mau mengikuti agamanya, bahkan dia berpihak dengan orang-orang musyrik dan membantu serta memuji mereka. Bahkan dia mengungkapkan rasa (bela sungkawa dalam bentuk syair)nya atas kematian kaum musyrik yang gugur dalam Perang Badar, hal ini ia ungkapkan dengan bahasa yang berparamasastra; semoga Allah melaknatnya.

Di dalam sebagian hadis disebutkan bahwa dia termasuk orang yang lisannya beriman, tetapi hatinya tidak beriman alias munafik; karena sesungguhnya dia mempunyai banyak syair yang mengandung makna ketuhanan, kata-kata bijak, dan fasih, tetapi Allah; tidak melapangkan dadanya untuk masuk Islam.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayah­ku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Namir, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Sa’id Al-A’war, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al­Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu (Al-A’raf: 175) Bahwa dia adalah seorang lelaki yang dianugerahi tiga doa mustajab, dan ia mempunyai seorang istri yang memberinya seorang anak laki-laki. Lalu istrinya berkata, “Berikanlah sebuah doa darinya untukku.” Ia menjawab, “Saya berikan satu doa kepadamu, apakah yang kamu kehendaki?” Si istri menjawab, “Berdoalah kepada Allah semoga Dia menjadikan diriku wanita yang tercantik di kalangan Bani Israil.” Maka lelaki itu berdoa kepada Allah, lalu Allah menjadikan istrinya seorang wanita yang tercantik di kalangan kaum Bani Israil. Setelah si istri mengetahui bahwa dirinyalah yang paling cantik di kalangan mereka tanpa tandingan, maka ia membenci suaminya dan menghendaki hal yang lain. Akhirnya si lelaki berdoa kepada Allah agar menjadikan istrinya seekor anjing betina, akhirnya jadilah istrinya seekor anjing betina. Dua doanya telah hilang. Kemudian datanglah anak-anaknya, lalu mereka mengatakan, “Kami tidak dapat hidup tenang lagi, karena ibu kami telah menjadi anjing betina sehingga menjadi cercaan orang-orang. Maka doakanlah kepada Allah semoga Dia mengembalikan ibu kami seperti sediakala.” Maka lelaki itu berdoa kepada Allah, lalu kembalilah ujud istrinya seperti keadaan semula. Dengan demikian, ketiga doa yang mustajab itu telah lenyap darinya, kemudian wanita itu diberi nama Al Basus. Asar ini gharib

Adapun asar yang termasyhur yang melatarbelakangi turunnya ayat yang mulia ini hanyalah menceritakan perihal seorang lelaki di masa dahulu, yaitu di zaman kaum Bani Israil, seperti yang telah disebutkan oleh Ibnu Mas’ud dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia adalah seorang lelaki dari kota orang-orang yang gagah perkasa, dikenal dengan nama Bal’am. Dia mengetahui Asma Allah Yang Mahabesar.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf mengatakan bahwa doa lelaki tersebut mustajab; tidak sekali-kali ia memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah mem­berikan kepadanya apa yang dimintanya itu.

Tetapi pendapat yang sangat jauh dari kebenaran —bahkan sangat keliru— ialah yang mengatakan bahwa lelaki itu telah diberi kenabian, lalu ia melepaskan kenabian itu. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir, dari sebagian di antara mereka (ulama), tetapi tidak sahih.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Musa dan orang-orang yang bersamanya turun istirahat di tempat mereka (yakni negeri orang-orang yang gagah perkasa), maka Bal’am (yang bertempat tinggal di negeri itu) kedatangan anak-anak pamannya dan kaumnya. Lalu mereka berkata, “Sesungguhnya Musa adalah seorang lelaki yang sangat perkasa dan mempunyai bala tentara yang banyak. Sesungguhnya dia jika menang atas kita, niscaya dia akan membinasakan kita. Maka berdoalah kepada Allah, semoga Dia mengusir Musa dan bala tentaranya dari kita. Bal’am menjawab, “Sesungguhnya jika aku berdoa kepada Allah memohon agar Musa dan orang-orang yang bersamanya dikembalikan, niscaya akan lenyaplah dunia dan akhiratku.” Mereka terus mendesaknya hingga akhirnya Bal’am mau berdoa. Maka Allah melucuti apa yang ada pada dirinya. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya: kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia tergoda). (Al-A’raf: 175), hingga akhir ayat.

As-Saddi mengatakan bahwa setelah selesai masa empat puluh tahun, seperti apa yang disebutkan di dalam firman Nya : maka sesungguhnya negeri ini diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun. (Al-Maidah: 26) Maka Allah mengutus Yusya’ ibnu Nun sebagai seorang nabi, lalu Yusya’ menyeru kaum Bani Israil (untuk menyembah Allah) dan memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya adalah seorang nabi, dan Allah telah memerintahkannya agar memerangi orang-orang yang gagah perkasa. Lalu mereka berbaiat kepadanya dan mempercayainya Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang dikenal dengan nama Bal’am berangkat dan menemui orang-orang yang gagah perkasa. Dia adalah orang yang mengetahui tentang Ismul A’zam yang rahasia (apabila dibaca, maka semua permintaannya dikabulkan seketika). Tetapi ia kafir dan berkata kepada orang-orang yang gagah perkasa, “Janganlah kalian takut kepada Bani Israil. Karena sesungguh­nya jika kalian berangkat untuk memerangi mereka, maka saya akan mendoakan untuk kehancuran mereka, dan akhirnya mereka pasti hancur.” Bal’am hidup di kalangan mereka dengan mendapatkan semua perkara duniawi yang dikehendakinya, hanya saja dia tidak dapat berhubungan dengan wanita karena wanita orang-orang yang gagah perkasa itu terlalu besar baginya. Maka Bal’am hanya dapat menggauli keledainya. Kisah inilah yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu (Al-A’raf: I75)


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ}

lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda). (Al-A’raf: 175)

Artinya, setan telah menguasai dirinya dan urusannya; sehingga apabila setan menganjurkan sesuatu kepadanya, ia langsung mengerjakan dan menaatinya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan :

{فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ}

makajadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. (Al-A’raf: 175)

Ia termasuk orang-orang yang binasa, bingung, dan sesat.

Sehubungan dengan makna ayat ini terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya. Disebutkan bahwa:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ، عَنِ الصَّلْتِ بْنِ بَهْرام، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، حَدَّثَنَا جُنْدُب الْبَجَلِيُّ في هذا المسجد؛ أن حذيفة -يعني بن الْيَمَانِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -حَدَّثَهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: “أن مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رجُل قَرَأَ الْقُرْآنَ، حَتَّى إِذَا رُؤِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ وَكَانَ رِدْء الْإِسْلَامِ اعْتَرَاهُ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ، انْسَلَخَ مِنْهُ، وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ”. قَالَ: قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ: الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي؟ قَالَ: “بَلِ الرَّامِي”.

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakar, dari As-Silt ibnu Bahram, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Jundub Al-Jabali di masjid ini; Huzaifah ibnul Yaman Radhiyallahu Anhu pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam telah bersabda: Sesungguhnya di antara hal yang saya takutkan terhadap kalian ialah seorang lelaki yang pandai membaca Al-Qur’an, hingga manakala keindahan Al-Qur’an telah dapat diresapinya dan Islam adalah sikap dan perbuatannya, lalu ia tertimpa sesuatu yang dikehendaki oleh Allah, maka ia melepaskan diri dari Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an ia lemparkan di belakang punggungnya (tidak diamalkannya), lalu ia menyerang tetangganya dengan senjata dan menuduhnya telah musyrik. Huzaifah ibnul Yaman bertanya, “Wahai Nabi Allah, manakah di antara keduanya yang lebih musyrik, orang yang dituduhnya ataukah si penuduhnya?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Tidak, bahkan si penuduhlah (yang lebih utama untuk dikatakan musyrik).”

Sanad hadis ini berpredikat jayyid. As-Silt ibnu Bahram termasuk ulama siqah dari kalangan penduduk Kufah, dia tidak pernah dituduh melakukan sesuatu hal yang membuatnya cela selain dari Irja (salah satu aliran dalam mazhab tauhid). Imam Ahmad ibnu Hambal menilainya siqah, demikian pula Yahya ibnu Mu’in dan lain-lainnya.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ}

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. (Al-A’raf: 176)

Sedangkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا}

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu. (Al-A’raf: 176)

Maksudnya, niscaya Kami mengangkatnya dari pencemaran kekotoran duniawi dengan ayat-ayat yang telah Kami berikan kepadanya.

{وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ}

tetapi dia cenderung kepada dunia. (Al-A’raf: 176)

Yakni cenderung kepada perhiasan kehidupan dunia dan kegemerlapannya. Dia lebih menyukai kelezatan, kenikmatan, dan bujuk rayunya. Dia teperdaya oleh kesenangan duniawi sebagaimana teperdaya orang-orang yang tidak mempunyai pandangan hati dan akal.

Abu Rahawaih telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi dia cenderung kepada dunia (Al-A’raf: 176) Bahwa setan menampakkan dirinya kepada dia di atas ketinggian sebuah jembatan di Banias, lalu keledai yang dinaikinya bersujud kepada Allah, tetapi dia sendiri (yakni Bal’am) sujud kepada setan itu. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Jubair ibnu Mafir dan ulama lainnya yang bukan hanya seorang.

Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan bahwa, kisah yang menyangkut lelaki ini antara lain ialah apa yang telah diceritakan kepada kami oleh Muhammad ibnu Abdul A’la. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir, dari ayahnya yang ditanya mengenai makna ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al­Kitab). (Al-A’raf: 175) Maka ayahnya menceritakan kisah yang pernah ia terima dari Sayyar, bahwa dahulu kala ada seorang lelaki yang dikenal dengan nama Bal’am. Bal’am adalah orang yang doanya dikabulkan. Kemudian Nabi Musa berangkat dengan pasukan kaum Bani Israil menuju negeri tempat Bal’am berada, atau negeri Syam. Lalu penduduk negeri tersebut merasa sangat takut dan gentar terhadap Musa ‘alaihissalam Maka mereka mendatangi Bal’am dan mengatakan kepadanya, “Doakanlah kepada Allah untuk kehancuran lelaki ini (yakni Nabi Musa ‘alaihissalam) dan bala tentaranya.” Bal’am menjawab, “Tunggulah sampai aku meminta saran dari Tuhanku, atau aku diberi izin oleh-Nya.” Bal’am meminta saran dari Tuhannya dalam doanya yang memohon untuk kehancuran Musa dan pasukannya. Maka dijawab, “Janganlah kamu mendoakan buat kehancuran mereka, karena sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Ku, dan di antara mereka terdapat nabi mereka.” Maka Bal’am melapor kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku telah meminta saran kepada Tuhanku dalam doaku yang memohon untuk kehancuran mereka, tetapi aku dilarang melakukannya. Maka mereka memberikan suatu hadiah kepada Bal’am dan Bal’am menerimanya. Kemudian mereka kembali kepada Bal’am dan mengata­kan kepadanya, “Doakanlah untuk kehancuran mereka,” Bal’am menjawab, ‘Tunggulah, aku akan meminta saran kepada Tuhanku.” Lalu Bal’am meminta saran Kepada Nya, ternyata Dia tidak memerintahkan sesuatu pun kepadanya. Maka Bal’am berkata (kepada kaumnya), “Sesungguhnya aku telah meminta saran kepada Tuhanku, tetapi Dia tidak memerintahkan sesuatu pun kepadaku.” Kaumnya berkata, “Sekiranya Tuhanmu tidak suka engkau mendoa­kan untuk kehancuran mereka, niscaya Dia akan melarangmu pula sebagaimana Dia melarangmu pada pertama kalinya.” Bal’am terpaksa berdoa untuk kebinasaan mereka. Tetapi apabila ia mendoakan untuk kehancuran mereka (Musa dan pasukannya), maka yang terucapkan oleh lisannya justru mendoakan untuk kehancuran kaumnya. Dan apabila ia mendoakan untuk kemenangan kaumnya, justru lisannya mendoakan untuk kemenangan Musa dan pasukannya atau hal yang semacam itu, seperti apa yang dikehendaki oleh Allah. Maka kaumnya berkata, “Kami tidak melihatmu berdoa melainkan hanya untuk kehancuran kami.” Bal’am menjawab, “Tiada yang terucap­kan oleh lisanku melainkan hanya itu. Sekiranya aku tetap mendoakan untuk kehancurannya, niscaya aku tidak diperkenankan. Tetapi aku akan menunjukkan kepada kalian suatu perkara yang mudah-mudahan dapat menghancurkan mereka. Sesungguhnya Allah murka terhadap perbuatan zina, dan sesungguhnya jika mereka terjerumus ke dalam perbuatan zina, niscaya mereka akan binasa; dan aku berharap semoga Allah membinasakan mereka melalui jalan ini.” Bal’am melanjutkan ucapannya, “Karena itu, keluarkanlah kaum wanita kalian untuk menyambut mereka. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang sedang musafir, mudah-mudahan saja mereka mau berzina sehingga binasalah mereka.” Kemudian mereka melakukan hal itu dan mengeluarkan kaum wanita mereka menyambut pasukan Nabi Musa ‘alaihissalam Tersebutlah bahwa raja mereka mempunyai seorang anak perempuan, perawi menyebutkan perihal kebesaran tubuhnya yang kenyataannya hanya Allah yang mengetahuinya. Lalu ayahnya atau Bal’am berpesan kepadanya, “Janganlah engkau serahkan dirimu selain kepada Musa.” Akhirnya pasukan Bani Israil terjerumus ke dalam perbuatan zina. Kemudian datanglah kepada wanita tadi seorang pemimpin dari salah satu kabilah Bani Israil yang menginginkan dirinya. Maka wanita itu berkata, “Saya tidak mau menyerahkan diri saya selain kepada Musa.” Pemimpin suatu Kabilah menjawab “Sesungguhnya kedudukanmu adalah anu dan anu, dan keadaanku anu dan anu.” Akhirnya si wanita mengirim utusan kepada ayahnya meminta saran darinya. Maka ayahnya berkata kepadanya, “Serahkanlah dirimu kepadanya.” Lalu pemimpin kabilah itu menzinainya. Ketika mereka berdua sedang berzina, datanglah seorang lelaki dari Bani Harun seraya membawa tombak, lalu menusuk keduanya. Allah memberinya kekuatan yang dahsyat sehingga keduanya menjadi satu tersatekan oleh tombaknya, kemudian ia mengangkat keduanya dengan tombaknya itu, sehingga semua orang melihatnya. Maka Allah menimpakan penyakit ta’un kepada mereka, sehingga matilah tujuh puluh ribu orang dari kalangan pasukan Bani Israil.

Abul Mu’tamir mengatakan, Sayyar telah menceritakan kepadanya bahwa Bal’am mengendarai keledainya hingga sampai di suatu tempat yang dikenal dengan nama Al-Ma’luli atau suatu jalan yang menuju Al-Ma’luli. Lalu Bal’am memukuli keledainya, tetapi keledainya itu tidak mau maju, bahkan hanya berdiri saja di tempat. Lalu keledai itu berkata kepadanya, “Mengapa engkau terus memukuliku? Tidakkah engkau melihat apa yang ada di hadapanmu ini?” Tiba-tiba setan menampakkan diri di hadapan Bal’am. Lalu Bal’am turun dan bersujud kepada setan itu. Inilah yang disebutkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al­Kitab) kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. (Al-A’raf: 175) sampai dengan firman-Nya: agar mereka berpikir. (Al-A’raf: 176)

Demikianlah yang diceritakan oleh Sayyar kepadaku, tetapi aku tidak tahu barangkali di dalamnya kemasukan sesuatu dari kisah lainnya.

Menurut kami dia adalah Bal’am. Menurut suatu pendapat yaitu Bal’am Ibnu Ba’ura, menurut pendapat lainnya Ibnu Ibr, dan menurut pendapat yang lainnya dia adalah Ibnu Ba’ur ibnu Syahtum ibnu Qusytum ibnu Maab ibnu Lut ibnu Haran, sedangkan menurut pendapat yang lainnya lagi adalah Ibnu Haran ibnu Azar. Dia tinggal di suatu kampung yang berada di wilayah Al-Balqa.

Ibnu Asakir mengatakan bahwa dialah orang yang mengetahui Ismul A’zam, lalu ia murtad dari agamanya; kisahnya disebutkan di dalam Al-Qur’an. Kemudian sebagian dari kisahnya adalah seperti yang telah disebutkan di atas, bersumberkan dari Wahb dan lain-lainnya.

Muhammad ibnu lshaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Salim Abun Nadr; ia pernah menceritakan bahwa Musa ‘alaihissalam ketika turun di negeri Kan’an—bagian dari wilayah Syam—maka kaum Bal’am datang menghadap kepada Bal’am dan mengatakan kepadanya, “Musa ibnu Imran telah datang bersama dengan pasukan Bani Israil. Dia datang untuk mengusir kita dari negeri kita dan akan membunuh kita, lalu membiarkan tanah ini dikuasai oleh Bani Israil. Dan sesungguhnya kami adalah kaummu yang dalam waktu yang dekat tidak akan mempunyai tempat tinggal lagi, sedangkan engkau adalah seorang lelaki yang doanya diperkenankan Tuhan. Maka keluarlah engkau dan berdoalah untuk kehancuran mereka.” Bal’am menjawab, “Celakalah kalian! Nabi Allah ditemani oleh para malaikat dan orang-orang mukmin, maka mana mungkin saya pergi mendoakan untuk kehancuran mereka, sedangkan saya mengetahui Allah tidak akan menyukai hal itu?” Mereka mengatakan kepada Bal’am, “Kami tidak akan memiliki tempat tinggal lagi.” Mereka terus-menerus meminta dengan memohon belas kasihan dan berendah diri kepada Bal’am untuk membujuknya. Akhirnya Bal’am terbujuk. Lalu Bal’am menaiki keledai kendaraannya menuju ke arah sebuah bukit sehingga ia dapat melihat perkemahan pasukan kaum Bani Israil, yaitu Bukit Hasban. Setelah berjalan tidak begitu jauh, keledainya mogok, tidak mau jalan. Maka Bal’am turun dari keledainya dan memukulinya hingga keledainya mau bangkit dan berjalan, lalu Bal’am menaikinya. Tetapi setelah berjalan tidak jauh, keledainya itu mogok lagi, dan Bal’am memukulinya kembali, lalu menjewer telinganya. Maka secara aneh keledainya dapat berbicara —memprotes tindakannya—seraya mengatakan, “Celakalah kamu. hai Bal’am, ke manakah kamu akan pergi. Tidakkah engkau melihat para malaikat berada di hadapanku menghalang-halangi jalanku? Apakah engkau akan pergi untuk mendoakan buat kehancuran Nabi Allah dan kaum mukminin?” Bal’am tidak menggubris protesnya dan terus memukulinya, maka Allah memberikan jalan kepada keledai itu setelah Bal’am memukuli­nya. Lalu keledai itu berjalan membawa Bal’am hingga sampailah di atas puncak Bukit Hasban, di atas perkemahan pasukan Nabi Musa dan kaum Bani Israil. Setelah ia sampai di tempat itu, maka ia berdoa untuk kehancuran mereka. Tidak sekali-kali Bal’am mendoakan keburukan untuk Musa dan pasukannya, melainkan Allah memalingkan lisannya hingga berbalik mendoakan keburukan bagi kaumnya. Dan tidak sekali-kali Bal’am mendoakan kebaikan buat kaumnya, melainkan Allah memalingkan lisannya hingga mendoakan kebaikan buat Bani Israil. Maka kaumnya berkata kepadanya, “Tahukah engkau, hai Bal’am, apakah yang telah kamu lakukan? Sesungguhnya yang kamu doakan hanyalah untuk kemenangan mereka dan kekalahan kami.” Bal’am menjawab, “Ini adalah suatu hal yang tidak saya kuasai, hal ini merupa­kan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah.” Maka ketika itu lidah Bal’am menjulur keluar sampai sebatas dadanya, lalu ia berkata kepada kaumnya, “Kini telah lenyaplah dariku dunia dan akhiratku, dan sekarang tiada jalan lain bagiku kecuali harus melancarkan tipu muslihat dan kilah yang jahat. Maka aku akan melancarkan tipu muslihat buat kepentingan kalian. Sekarang percantiklah wanita-wanita kalian dan berikanlah kepada mereka berbagai macam barang dagangan. Setelah itu lepaskanlah mereka pergi menuju tempat perkemahan pasukan Bani Israil untuk melakukan jual beli di tempat mereka, dan perintahkanlah kepada kaum wanita kalian agar jangan sekali-kali ada seorang wanita yang menolak bila dirinya diajak berbuat mesum dengan lelaki dari kalangan mereka. Karena sesungguhnya jika ada seseorang dari mereka berbuat zina, maka kalian akan dapat mengalahkan mereka.” Lalu kaum Bal’am melakukan apa yang telah diperintahkan. Ketika kaum wanita itu memasuki perkemahan pasukan Bani Israil seorang wanita dari Kan’an (kaum Bal’am) yang dikenal dengan nama Kusbati, anak perempuan pemimpin kaumnya bersua dengan seorang lelaki dari kalangan pembesar kaum Bani Israil. Lelaki tersebut bernama Zumri ibnu Syalum, pemimpin kabilah Syam’un ibnu Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Ibrahim. Ketika Zumri melihat Kusbati, ia terpesona oleh kecantikannya. Lalu ia bangkit dan memegang tangan Kusbati, kemudian membawanya menghadap kepada Nabi Musa. Zumri berkata, “Sesungguhnya aku menduga engkau akan mengatakan bahwa ini diharamkan atas dirimu, janganlah kamu mendekatinya.” Musa ‘alaihissalam berkata, “Dia haram bagimu!” Zumri menjawab, “Demi Allah, saya tidak mau tunduk kepada perintahmu dalam hal ini.” Lalu Zumri membawa Kusbati masuk ke dalam kemahnya dan menyetubuhinya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan penyakit ta’un kepada kaum Bani Israil di perkemahan mereka. Pada saat Zumri ibnu Syalum melakukan perbuatan mesum itu Fanhas ibnul Aizar ibnu Harun —pengawal pribadi Musa— sedang tidak ada di tempat. Penyakit ta’un datang melanda mereka, dan tersiarlah berita itu. Lalu Fanhas mengambil tombaknya yang seluruhnya terbuat dari besi, kemudian ia memasuki kemah Zumri yang saat itu sedang berbuat zina, lalu Fanhas menyate keduanya dengan tombaknya. Ia keluar seraya mengangkat keduanya setinggi-tingginya dengan tombaknya. Tombaknya itu ia jepitkan ke lengannya dengan bertumpu ke bagian pinggangnya, sedangkan batangnya ia sandarkan ke janggutnya. Dia (Fanhas) adalah anak pertama Al-Aizar. Kemudian ia berdoa, “Ya Allah, demikianlah pembalasan yang kami lakukan terhadap orang yang berbuat durhaka kepada Engkau.” Maka ketika itu juga penyakit ta’un lenyap. Lalu dihitunglah orang-orang Bani Israil yang mati karena penyakit ta’un sejak Zumri berbuat zina dengan wanita itu hingga Fanhas membunuhnya, ternyata seluruhnya berjumlah tujuh puluh ribu orang. Sedangkan menurut perhitungan orang yang meminimkan jumlahnya dari kalangan mereka, dua puluh ribu jiwa telah melayang dalam jarak waktu satu jam di siang hari. Sejak saat itulah kaum Bani Israil memberikan kepada anak-anak Fanhas dari setiap korban yang mereka sembelih, yaitu bagian leher, kaki depan, dan janggut korbannya, serta anak yang pertama dari ternak mereka dan yang paling disayangi, karena Fanhas adalah anak pertama dari ayahnya yang bernama Al-Aizura. Sehubungan dengan Bal’am ibnu Ba’ura ini, kisahnya disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. ( Al-A’ raf: 175) sampai dengan firman-Nya: agar mereka berpikir. (Al-A’raf: 176)


Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ}

maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)- (Al-A’raf: 176)

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai maknanya. Menurut teks Ibnu Ishaq, dari Salim, dari Abun Nadr, lidah Bal’am terjulur sampai dadanya. Lalu dia diserupakan dengan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dalam kedua keadaan tersebut, yakni jika dihardik menjulurkan lidahnya, dan jika dibiarkan tetap menjulurkan lidahnya.

Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah ‘Bal’am menjadi seperti anjing dalam hal kesesatannya dan keberlangsungannya di dalam kesesatan serta tidak adanya kemauan memanfaatkan doanya untuk keimanan. Perihalnya diumpamakan dengan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dalam kedua keadaan tersebut, jika dihardik menjulurkan lidahnya, dan jika dibiarkan tetap menjulurkan lidahnya tanpa ada perubahan. Demikian pula keadaan Bal’am, dia tidak memanfaatkan pelajaran dan doanya buat keimanan; perihalnya sama dengan orang yang tidak memilikinya. Sama halnya dengan pengertian Yang terkandung di dalam Firman-Nya :

{سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ}

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (Al Baqarah: 6, Yasin: 10)

{اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ}

Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. (At-Taubah: 80)

dan ayat-ayat lainnya yang semakna.

Menurut pendapat lainnya, makna yang dimaksud ialah ‘kalbu orang kafir dan orang munafik serta orang yang sesat kosong dari hidayah, hatinya penuh dengan penyakit yang tak terobatkan’. Kemudian pengertian ini diungkapkan ke dalam ungkapan itu. Hal yang semisal telah dinukil dari Al-Hasan Al-Basri dan lain-lainnya.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ}

Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah agar mereka berpikir. (Al-A’raf: 176)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, yaitu Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam: Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah agar mereka (Al-A’raf: 176) yakni agar Bani Israil mengetahui kisah Bal’am dan apa yang telah menimpanyanya yaitu disesatkan oleh Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya, karena dia telah salah menggunakan nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya, nikmat itu ialah Ismul A’zam yang diajarkan Allah kepadanya. Ismul A’zam adalah suatu doa yang apabila dipanjatkan untuk memohon sesuatu, niscaya dikabulkan dengan seketika. Ternyata Bal’am menggunakan doa mustajab ini untuk selain ketaatan kepada Tuhannya, bahkan menggunakannya untuk memohon kehancuran bagi bala tentara- Tuhan Yang Maha Pemurah, yaitu orang-orang yang beriman, pengikut hamba dan rasul-Nya di masa itu, yakni Nabi Musa ibnu Imran ‘alaihissalam yang dijuluki sebagai Kalimullah (orang yang pernah diajak berbicara secara langsung oleh Allah). Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ}

agar mereka berpikir. (Al-A’raf: 176)

Maksudnya, mereka harus bersikap waspada supaya jangan terjerumus ke dalam perbuatan yang semisal, karena sesungguhnya Allah telah memberikan ilmu kepada kaum Bani Israil (di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam) dan membedakan mereka di atas selain mereka dari kalangan orang-orang Arab. Allah telah menjadikan mereka memiliki pengetahuan tentang sifat Nabi Muhammad melalui kitab yang ada di tangan mereka; mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang paling berhak dan paling utama untuk mengikuti Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam, membantu, dan menolongnya, seperti yang telah diberitakan kepada mereka oleh nabi-nabi mereka yang memerintahkan kepada mereka untuk mengikutinya. Karena itulah orang-orang yang menentang dari kalangan mereka (Bani Israil) terhadap apa yang ada di dalam kitab mereka, lalu menyembunyikannya, sehingga hamba-hamba Allah yang lain tidak mengetahuinya, maka Allah menimpakan kepada mereka kehinaan di dunia yang terus berlangsung sampai kehinaan di akhirat.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{سَاءَ مَثَلا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا}

Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami., Al- A’raf: 177) .

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman bahwa seburuk-buruknya perumpamaan adalah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Dengan kata lain, seburuk-buruk perumpamaan adalah perumpamaan mereka yang diserupakan dengan anj ing, karena anj ing tidak ada yang dikejarnya selain mencari makanan dan menyalurkan nafsu syahwat. Barang siapa yang menyimpang dari jalur ilmu dan jalan petunjuk, lalu mengejar kemauan hawa nafsu dan berahinya, maka keadaannya mirip dengan anjing; dan seburuk-buruk perumpamaan ialah yang diserupakan dengan anjing. Karena itulah di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

“لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السَّوْءِ، الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ”

Tiada pada kami suatu perumpamaan yang lebih buruk daripada perumpamaan seseorang yang mencabut kembali hibahnya, perumpamaannya sama dengan anjing, yang memakan kembali muntahnya.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ}

dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’raf: 177)

Maksudnya. Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka sendirilah yang menganiaya dirinya sendiri karena berpaling dari mengikuti jalan hidayah dan taat kepada Tuhan, lalu cenderung kepada keduniawian yang fana dan mengejar kelezatan serta kemauan hawa nafsu.

Ucapan Doa Untuk Orang Sakit

على نية ان الله يشفيها شفاء تاما عاجلا ويفرغ عليها وعلى اهلها صبرا جميلا ويديم لهم الطاعة والصحة والعافية بكرة واصيلا و يخلف على ما انفقوا لها عطاء جزيلا بحق ايات الشفاء وبجاه من انزلت عليه ايات الشفاء وبسر الفاتحة……….

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ.
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ
وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ
فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ

بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْم
۞ أَلحَمدُ لِلّه رَبِّ العَالَمِين ۞ ألرَّحمَنِ الرَّحِِيم ۞ مالِكِ يَوْمِ الدِين ۞ إيّاكَ نَعبُدُ وَ إيّاكَ نَستعِين ۞ إهدِنَا الصِّرَاط المُستَقِيم ۞ صِرَاطَ الَذِينَ أنعَمتَ عَليْهِمَ، غَيْرِالمَغضُوبِ عَليْهِم وَلاَالضَّالِّين ۞ أمِين

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِهَا فَأَنْتَ الشَّافيِ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماًاللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِهَا فَأَنْتَ الشَّافيِ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً

Doa Sujud & Doa Sebelum Salam Sayyidina Ali كرم الله وجهه

عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ : ….
وَإِذَا سَجَدَ قَالَ :

( اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي، لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ، وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللَّهُ، أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ )

ثُمَّ يَكُونُ مِنْ آخِرِ مَا يَقُولُ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ :
( اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ).

( رواه مسلم ١٢٩٠)

Artinya:
Diceritakan dari sayyidina Ali bin Abi Tholib Karromallohu Wajhahu dari Rosululloh محمد ﷺ bahwa :

… Dan apabila beliau sujud beliau membaca: “ALLOHUMMA LAKA SAJADTU, WA BIKA AAMANTU, WA LAKA ASLAMTU, SAJADA WAJHIY LILLADZII KHOLAQAHU WA SHOWWAROHU WA SYAQQO SAM’AHU WA BASHOROHU TABAAROKALLOHU AHSANUL KHOOLIQIIN

(Ya Alloh, hanya kepada Engkau aku sujud, DAn hanya kepada Engkau aku beriman, dan hanya kepada Engkau aku berserah diri. Mukaku sujud kepada Tuhan yang menciptakan dan membentuknya, yang membukakan pendengaran dan penglihatannya. Maha suci Allah sebaik-baik Maha pencipta).” Kemudian pada akhir tasyahud sebelum memberi salam beliau membaca:
“ALLOHUMMAGH FIRLII, MAA QODDAMTU, WA MAA AKHKHORTU, WAMAA ASRORTU, WA MAA A’LANTU, WA MAA ASROFTU, WA MAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII, ANTAL-MUQADDIMU, WA ANTAL-MU`AKHKHIRU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA.

(Ya Alloh, ampunilah dosa-dosaku yang lama dan yang baru yang tersembunyi dan nyata, yang aku lakukan keterlaluan dan engkau lebih tahu daripadaku. Engkaulah yang memajukan dan memundurkan. Tidak ada Tuhan selain Engkau).”

(HR. Muslim no.1290)

وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ….

Perhatikan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, terutama pada ayat-ayat yang serupa tapi tak sama berikut ini:

وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ….

١- (إِنَّ هَـٰذِهِۦۤ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُونِ)
[Surat Al-Anbiya’ 92]

٢- (وَإِنَّ هَـٰذِهِۦۤ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ فَٱتَّقُونِ)
[Surat Al-Mu’minun 52]

Tertib Fatihah TerSingkat

إلى حضرة النبي المصطفى محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين… الفاتحة…

ثم إلى حضرة أبوي السيد محمد بن علوي المالكي الحسني وخليفته: أبوي السيد أحمد بن محمد المالكي الحسني وإخوانه، وأبي إحياء علوم الدين بن سوهاري… بأن الله يغفر لهم ويحفظهم ويرحمهم ويعيد علينا من بركاتهم وأسرارهم وأنوارهم في الدين والدنيا والآخرة.
الفاتحة…
وإلى والدنيا ووالديكم خآصة، وأموات المسلمين عآمة خصوصا:
………

Menyebutkan nama2 yg diinginkan

بأن الله يتغشاهم بالرحمة ويسكنهم الجنة وأن الله يعطي كل سائل منا ومنكم سؤله على ما يرضي الله ورسوله صلى الله عليه وسلم. الفاتحة….

Kisah Pemilik Bait-Bait “Sa’danaa fid-Dunyaa…”

Habib Ahmad Bin Muhammad Al-Muhdhor, Penulis Qosidah Sa’duna Fiddunya

Pasca wafatnya Syaikhina Maimun Zubair, Qosidah Sa’duna Fiddunya mendadak viral. Qasidah kesukaan Mbah Mun ini disenandungkan di berbagai Majelis. Di Youtube ratusan orang berlomba-lomba mengcover Qosidah ini. (denger-denger adek saya Nissa Sabyan termasuk salah satu diantaranya)

Sejak Qosidah ini meledak sampai detik ini, banyak yang mengira bahwa Qosidah ini adalah karangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, dan saya termasuk salah satu yang memiliki perasangka itu. Selain Mbah Mun, Abuya memang salah satu yang mempopulerkan Qosidah ini. Qosidah ini seringkali disenandungkan sendiri oleh Abuya diberbagai kesempatan. Tak sedikit juga yang mengira bahwa Qosidah Sa’duna adalah karangan Mbah Maimun sendiri. 
.

Memang tak dipungkiri, bahwa ada beberapa bait yang ditambahkan oleh Abuya dan Mbah Maimun melebihi teks Aslinya. Ini yang kemudian dijelaskan oleh Gus Idror Maimun bahwa tambahan itu Mbah Yai dapatkan dari alam Ruhaniah. Namun faktanya, “kerangka” asli Qosidah ini memang bukan karangan Abuya dan Mbah Maimun, Qosidah ini ditulis oleh seorang wali besar asal Quwairoh ( dibaca ‘Guweireh’ dengan dialek orang Hadhromi) Hadhramaut yaitu Al-Habib Ahmad Bin Muhammad Al-Muhdhor.

Habib Ahmad adalah ayah dari Habib Muhammad Al-Muhdhor Bondowoso, seorang wali besar yang disebutkan dalam kitab-kitab Habaib bahwa wajah beliau memiliki kemiripan dengan wajah mulia Baginda Rasulullah Saw. Bersama Habib Muhammad Bin Idrus Al-Habsy (murid kesayangan Habib Ali Shohibul maulid), Habib Muhammad Al-Muhdhor dimakamkan di Qubah Ampel. jika anda berziarah ke Ampel, sayang sekali jika tidak menyempatkan diri untuk berziarah ke makam beliau- beliau yang terletak ditengah-tengah pasar Ampel ini.

Kembali ke sejarah Habib Ahmad. Beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki ikatan luar biasa erat dengan Al-Quran. beliau sudah hafal Al-Quran diluar kepala sebelum usia beliau genap 7 tahun. Bahkan 30 tahun sebelum beliau wafat, di liang kuburnya beliau berhasil menghatamkan Al-Quran sebanyak 8000 kali. Semua bermula ketika suatu hari beliau membaca Biografi Robi’ah Adawiyah, seorang wali wanita yang menjadi ikon wanita sholehah sampai saat ini. Sebelum wafatnya, Robiah Adawiyah menggali sendiri liang kuburnya. Disitu ia biasanya berkholwat, berdzikir, mengingat mati dan menghatamkan Alquran hingga 7000 x. Mendengar itu Habib Ahmad termotivasi hingga akhirnya berhasil mencapai 8000 hataman.ketika putra beliau bertanya mengapa beliau melakukan hal itu, Beliau berkata :

” aku tidak mau kalah oleh seorang wanita.. “

Habib Ahmad juga dikenal memiliki kecintaan yang luar biasa kepada Sayyidah Khodijah. Beliau bahkan seringkali mendapatkan “Madad” khusus dari Sayyidah Khodijah. Yang begitu Masyhur adalah sebuah kejadian yang terjadi Sekitar tahun 1250 H ketika beliau bermukim di Mekkah. Ketika Sholat Jum’at beliau melihat Khotib memanjangkan Khutbah dan memendekkan Sholat, toh padahal Rasulullah Saw jelas-jelas bersabda :

إن طول صلاة الرجل وقصر خطبته مَئِنَّة من فقهه، فأطيلوا الصلاة، وأقصروا الخطبة

Setelah sholat Jum’at selesai, Habib Ahmad mendatangi Khotib tadi, menamparnya lantas berkata :

” engkau telah menyalahi sunnah Rasulullah Saw.. ! “

Orang-orang heboh, Sang Khotib yang marah besar menyuruh para tentara untuk mengejar Habib Ahmad, beliau akhirnya melarikan diri menuju pemakaman Ma’la. Ketika hampir saja tentara berhasil menangkap beliau, tiba-tiba pintu Qubah Sayyidah Khodijah terbuka dengan sendirinya (dulu diatas makam Sayyidah Khodijah dibangun Qubah megah yang kemudian dihancurkan Kaum Wahhabi ). Ketika Habib Ahmad masuk, pintu kubah tiba-tiba tertutup dengan sendirinya. Para tentara melakukan segala cara untuk membuka pintu, tapi tidak berhasil. Bahkan ketika akhirnya mereka berhasil membuka pintu dengan bantuan juru kunci Qubah, ternyata di dalam tidak ditemukan siapa-siapa. Habib Ahmad bagaikan lenyap ditelan Bumi.

Kabar kejadian ini akhirnya di dengar oleh Amir Mekkah. Beliau akhirnya mengetahui bahwa Habib Ahmad bukanlah orang biasa. Amir Mekkah meminta maaf dan mengundang khusus Habib Ahmad bahkan menawarkan beliau untuk menjadi penduduk Mekkah. akan tetapi Habib Ahmad menolak. beliau beralasan, setelah meminta izin kepada Sayyidah khodijah, ternyata beliau lebih ridho jika Habib Ahmad pulang dan berdakwah di kampung halamannya di Hadhramaut .

Sejak saat itu beliau dikenal sebagai “anak kesayangan” Sayyidah Khodijah, Qosidah-Qasidah karangan beliau tak pernah sepi dari pujian untuk Ummul Mu’minin Khodijah. (Termasuk Qosidah kegemaran Mbah Mun : Sa’duna Fiddunya ini). Bahkan tiap tahunnya, di bulan Muharrom, beliau selalu mengadakan acara Haul Sayyidah Khodijah yang lebih dikenal dengan acara “Ihda Asyariah”. Sebelum bertolak ke Indonesia, Biasanya Habib Umar selalu menyempatkan hadir ke acara ini. 
.
.
Habib Ahmad juga dikenal sebagai sosok yang humoris. Salah satu kisah unik dan lucu tentang beliau ditulis oleh Habib Ali Bungur dalam kitabnya “Taajul A’ras” :

” dulu Habib Ahmad berkunjung ke desa Taris Hadhramaut bersama putranya yang masih bayi, Habib Muhammad Bin Ahmad Al-Muhdhor. Sesampainya di Taris, Habib Muhammad sakit keras, suhu panasnya tinggi. Ketika keadaan sang anak makin parah, Habib Ahmad pergi berziarah ke makam Habib Hasan Bin Shalih Al-Bahar, seorang wali besar yang disemayamkan di desa Taris, beliau lalu berkata : 
.
.

” Bib.. Anak ana jatuh sakit. Sedangkan ana sekarang ada di daerah kekuasaan ente. Inget ya bib.. Kalo sampe terjadi apa-apa sama anak ana, ana bakal keluar dari golongan Habaib dan bergabung dengan golongan Wahhabi.. “

Habib Ahmad lalu pulang dan menemukan anaknya sudah kembali sehat wal afiyat seperti sedia kala..

Habib Ahmad memiliki banyak santri yang berhasil menjadi ulama-ulama besar, yang paling kesohor adalah Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsy Shohibul Maulid. Habib Ahmad wafat dan dimakamkan di Guweireh Hadhramaut pada tahun 1304 H.

Allah Yarham Habibana Ahmad Al-Muhdhor. Berawal dari rasa cinta beliau kepada Sayyidah Khodijah yang beliau tuangkan dalam bait-bait gubahannya, sampai saat ini beliau berhasil menginspirasi banyak orang (termasuk para kekasih Allah sekelas Abuya dan Mbah Mun) untuk memiliki ikatan dan rasa cinta khusus kepada Sayyidah Khodijah..

Bait-bait Qosidah beliau yang masih kita baca hingga saat ini adalah bukti Bahwa kekuatan cinta adalah kekuatan sejati, yang tak kan pernah lekang oleh waktu dan tak Pernah mengenal kata henti..

(Ismael Amin Kholil,Bangkalan, 15 September 2019)

Ngafalin Al-Qur’an Aja dech…!!!

😭😭😭😭
Kenapa (mesti) menghafal Al Quran?, karena….

✋🏻كلّ الناس سواسية

Semua manusia sama

✋🏻 فى مقامٍ واحد يوم القيامة
✋ Derajatnya sama di hari Kiamat

👌🏻إلا حافظ القرآن
👌 Kecuali hafidz Alquran

👌🏻مع الملائكة..!
👌 Bersama para malaikat..!

👌🏻مع السفرة، الكرام، البررة
👌 Bersama para malaikat yang mulia dan baik

✋🏻كل النّاس يفرّون
✋ Semua manusia berlari..

✋🏻من بعضهم يوم القيامة!
✋ Satu sama lain di hari Kiamat!

👌🏻إلا حافظ القرآن
👌 Kecuali hafidz Alquran

👌🏻يبحث عن والديه ؛
👌 Ia mencari kedua orang tuanya

👌🏻ليلبسهم تاج الوقار 👑
👌 Untuk dikenakan mahkota kehormatan 👑

✋🏻تعبك مع القرآن في حفظه وتجويده حتى وإن لم تظهر آثاره عند معلمك ومعلمتك
✋ Lelahmu bersama Alquran saat menghafalnya , memperbaiki bacaan untuknya, walaupun tidak ada apresiasi dari gurumu, karena akan di bayarkan Alloh Azza wajalla

☝🏻حقه محفوظ عند الله
✋ Adalah hak yang terpelihara di sisi Allah
Bagimu wahai penghafal Al Quran

✋🏻لا يكتفى القرآن بإيصالك للجنة
بل لايزال معك فيها تقرأوه حتى تصل لأعلى درجاتها

(اقرأ، وارتَقِ، ورتِّل)
✋ Tidak cukup Alquran hanya mengantarkanmu ke surga
Namun ia selalu bersamamu sampai ke derajat tertinggi
(Bacalah, naiklah, tartillah)

‏✋🏻لو علم المقصر مع القرآن
ما الذي ينتظره من نعيم حين يشرع في التلاوة ماتردد والله لحظة ..!!
✋ Andai pemalas tahu apa yang menunggunya yang berupa kenikmatan dikala membacanya, demi Allah, ia tidak akan ragu sekejap pun.

✋🏻القرآن ضد كل أوجاع الحياة ..
✋ Alquran melawan semua keperihan hidup.

“القرآن”
👌🏻يروى روحك ويُلملم شتآت قلبك
✋ Alquran menghilangkan dahaga rohanimu dan menyatukan serpihan-serpihan hatimu

‏✋🏻لا مجلس يجارى نعيم الحلقات والتلاوات الشجية تترنم حولك بروحانية ..
ولا حب يناوش مودة أهل القرآن
✋ Tak ada majlis seindah halaqah Alquran, tilawah yang merdu, yang berdengung di sekitarmu oleh ruhnya
Dan tiada cinta sebanding dengan cintanya ahlul quran.

☝🏻اللهم ارزقنا حفظ كتابك
☝ Allah, karuniakan kami membaca dan menghafal kitab-Mu

☝🏻والعمل به وتدبر اياته
☝ Mengamalkannya dan mentadabburi ayat-ayatnya

☝🏻على الوجه الذي يرضيك عنا
☝Sesuai dengan apa yang Kau ridhai

☝🏻 واجعله جليسنا وانيسنا
☝Jadikan ia sebagai teman dekat dan kekasih kami

☝🏻وارزقنا اخلاص النيه
☝ Karuniakan kami keikhlasan niat

☝🏻وارزق ذريتنا حفظه
☝ Karuniakan keturunan kami menghafalnya

☝🏻 وقر اعيننا واجعلنا ممن يلَبسون
☝ Jadikan ia sebagai kebahagiaan kami dan jadikan kami termasuk yang mengenakan mahkota

☝🏻ويُلبسون تاج الوقار برحمتك يالله
☝ Mahkota kehormatan dengan rahmat-Mu, ya Allah

👇🏻👇🏻👇🏻
‏*القرآن القرآن القرآن
👌🏻قال ابن قدامة رحمه الله :
” ويُكره أن يؤخر ختمة القرآن أكثر من أربعين يوما ؛ ”
👌 Alquran Alquran Alquran
Ibnu Qudamah berkata, “Ia tidak suka mengkhatamkannya lebih dari 40 hari.”

👌🏻وقال القرطبي رحمه الله :
” والأربعين مدة الضعفاء وأولي الأشغال “
👌 Alqurthubi berkata, “40 hari adalah masanya orang-orang lemah dan sibuk.” Kalau bisa lebih cepat lebih baik

👌🏻كم من شهور وأربعينات تنقضي ؟ ترتجف لها القلوب لو عقلناها !
👌 Betapa banyak bulan-bulan berlalu dan sirna? (Tanpa Alquran) Andai kita mengerti, pasti hati gemetar!

👌🏻من بركة القرآن
أن الله تعالى يبارك في عقل قارئه وحافظه . .
👌 Diantara keberkahan Alquran bahwa Allah berkahi akal orang yang membaca dan menghafalnya.

  • فعن عبد الملك بن عمير :
    ‘ ( كان يقال إن أبقى الناس عقولا قراء القرآن ) ،
    Dari Abdul Malik bin Umair, “Dikatakan bahwa orang yang paling bertahan akalnya adalah para pembaca dan penghafal Alquran.”
  • وفي رواية :
    ‘ ( أنقى الناس عقولا قراء القرآن ) ‘
    Riawayat lain, “Orang paling bersih akalnya adalah pembaca dan penghafal Alquran.’

👌🏻وقال القرطبي رحمه الله :
من قرأ القرآن مُتّع بعقله وإن بلغ مئة !
👌Qurthubi berkata, “Siapa membaca dan menghafal Alquran ia akan menikmati akalnya walau umurnya sampai 100 (tahun).”

👌🏻وقد أوصى الإمام إبراهيم : المقدسي تلميذه عباس بن عبد الدايم – رحمهم الله :
( أكثر من قراءة القرآن ولا تتركه ، فإنه يتيسر لك الذي تطلبه على قدر ما تقرأ ) ؛

👌 Imam Ibrahim Almaqdisi menasihati muridnya, Abbas bin Addayim, “Perbanyaklah membaca Alquran dan jangan tinggalkan. Sesungguhnya apa yang kamu minta akan menjadi mudah sebatas apa yang kamu baca dan kamu hafalkan

👌🏻وقال ابن الصلاح رحمه الله :

  • ورد أن الملائكة لم يعطوا فضيلة قراءة القرآن ، ولذلك هم حريصون على استماعه من الإنس !
    👌Ibnu Shalah berkata, “Diriwayatkan bahwa malaikat tidaklah dikaruniai kemuliaan membaca dan menghafal Alquran. Makanya mereka sangat ingin selalu mendengarnya dari manusia.”

👌🏻وقال أبو الزناد :
‘ ( كنت أخرج من السّحَر إلى مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم فلا أمر ببيت إلا وفيه قارئ ) ؛
👌Abu Zunad berkata, “Di waktu sahur aku keluar menuju masjid Rasulullah saw, dan aku tidak melewati rumah kecuali disana ada yang sedang membaca Alquran.”

👌🏻وقال شيخ الإسلام رحمه الله :
( ما رأيت شيئا يغذّي العقل والروح ويحفظ الجسم ويضمن السعادة أكثر من إدامة النظر في كتاب الله تعالى ) ؛
👌 Syaikhul Islam berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang memberi asupan kepada akal, menjaga fisik, dan memberi kebahagiaan lebih banyak ketimbang berlama-lama memandangi Alquran.”

👌🏻فتعلق بالقرآن أخي الحبيب تجد البركة . .

  • قال الله تعالى في محكم التنزيل :
    ” كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته “
    👌 Maka kuatkan hubungan dengan Alquran saudaraku niacaya kamu akan mendapat keberkahan.
    Allah berfirman, “Kitab yang kami turunkan yang penuh berkah agar kalian tadabburi ayat-ayatnya.

👌🏻وكان بعض المفسرين يقول :

  • ( اشتغلنا بالقرآن فغمرتنا البركات والخيرات في الدنيا ) ؛
    👌 Seorang mufassir berkata, “Kami sibuk dengan Alquran maka kami mendapatkan limpahan keberkahan dan kebaikan di dunia.”

👌 Yang mengajak kepada kebaikan seperti yang melakukannya.

Barangkali ada orang yang menjadi rajin membaca Alquran karena ajakan mu , maka anda akan mendapatkan pahala karenanya, tanpa mengurangi pahalanya

Kanker dalam Dakwah

Ketika sowan Abi Sang Murobbi Ruuhii, maka pertama kali yang beliau tanyakan adalah: “bagaimana perkembangan dakwahmu?” Beliau hendak memastikan bahwa kami istiqomah dalam mengajak umat atau dakwah ilalloh (menuju Alloh)  bukan dakwah ilainaa (demi kelompok/pribadi).

Tak ada guna ketika kita berdakwah karena adanya kepentingan dunia belaka karena yang terjadi adalah kanker dalam dakwah kita yaitu hubbud dun-ya (cinta dunia), hubbul jaah (cinta kedudukan) dan hubbus syuhroh (cinta popularitas).

Ketahuilah…!!! Sesuatu yang karena Alloh akan langgeng dan yang tidak karena-Nya akan terputus dan terpisah

ما كان لله دام واتصل،
وماكان لغير الله انقطع وانفصل.