Bid’ahkah ucapan Mohon Maaf Lahir Batin…???

Indonesia Heboh & Gempar gara2 tulisan ini:

*BAGAIMANA UCAPAN IDUL FITRI*
*YANG SESUAI SUNNAH ?*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Oleh : *Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A*.

Sehubungan dengan akan datangnya *Idul Fitri*, sering kita dengar tersebar ucapan:

*”MOHON MAAF LAHIR & BATHIN ”*

Seolah-olah saat *Idul Fitri* hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena *Idul Fitri* bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan.

Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari *Idul Fitri…*

Demikian _*Rasulullah shallallahu alaihi wasallam*_ mengajarkan kita.

Tidak ada satu ayat _*Qur’an*_ ataupun suatu _*Hadits*_ yang menunjukan keharusan mengucapkan *“Mohon Maaf Lahir dan Batin”* disaat-saat *Idul Fitri.*

Satu lagi, saat *Idul Fitri,* yakni mengucapan :
*”MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN”.*

Arti dari ucapan tersebut adalah :
*”Kita kembali dan meraih kemenangan”*

*KITA MAU KEMBALI KEMANA?*
Apa pada ketaatan atau kemaksiatan?

Meraih kemenangan?
Kemenangan apa?

Apakah kita menang melawan bulan *Ramadhan* sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?

Satu hal lagi yang mestik dipahami, setiap kali ada yang mengucapkan
*“ Minal ‘Aidin wal Faizin ”*

Lantas diikuti dengan kalimat,
*“ Mohon Maaf Lahir dan Batin ”*.

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya.

Ini sungguh *KELIRU* luar biasa…

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di *Pakistan, Turki, Saudi Arabia* atau negara-negara lain….

*PASTI PADA BINGUNG….*

Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita *HINDARI.*

Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat _*Rasulullah shallallahu alaihi wasallam*_ , yaitu :

✔ *”TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM”*
(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

Jadi lebih baik, ucapan di SMS /BBM / WA,, kita :

✔ *”Selamat Idul Fitri.*
*Taqobbalallahu minna wa minkum “*
*Barakallahu Fiikum*

Kewajiban kita hanya men-syiar kan selebihnya kembalikan kepada masing-masing.. Karena kita tdk bisa memberi hidayah kpd orang lain hanya *Allah* lah yg bisa memberi hidayah kepada hamba *NYA* yg *IA* kehendaki [⋅}

Semoga bermanfaat…

Versi Video pun banyak beredar…

Maka ada seorang teman di WA group bertanya dan mhn jwban utk statemen ini…

Alhamdulillah ada tulisan ustad muda yang ilmunya seganteng wajah nya menulis seperti ini:

JANGAN RAGU UCAPKAN MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN

Oleh: Faris Khoirul Anam

Pada hari-hari di penghujung Ramadhan ini, beredar BC bertajuk ‘Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?’ Seingat saya, jelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya, BC tersebut juga tersebar.

Intinya, tulisan itu ‘mempermasalahkan’ beberapa hal yang telah menjadi tradisi kebiasaan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Berikut isi lengkap tulisan by no name yang menyebar via BB, WA, atau media sosial lainnya:

“Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan: “MOHON MAAF LAHIR&BATHIN”.

Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri.

Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir & Batin ”di saat-saat Idul Fitri.

Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.”

KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?

Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin ”.

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!

Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.

Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

“TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

TANGGAPAN

Riwayat ‘Taqabbalallahu Minna wa Minkum’ dan Ihwal Ucapan Selainnya

Riwayat yang menjelaskan ucapan ‘Taqabbalallahu Minna wa Minkum’ dituturkan oleh Muhammad bin Ziyad. Ia menceritakan kejadian kala bersama Abu Umamah al-Bahili dan lainnya dari sahabat Rasulullah SAW. Syahdan, sepulang dari Shalat Id, mereka saling mengatakan,

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Imam Ahmad menjelaskan, sanad hadits Abu Umamah ini Jayyid.

Ali bin Tsabit berujar,

سألت مالك بن أنس منذ خمس وثلاثين سنة وقال: لم يزل يعرف هذا بالمدينة.

“Aku bertanya pada Malik bin Anas sejak 35 tahun. Dia menjawab, ‘Hal (ucapan) ini selalu ditradisikan di Madinah.”

Dalam Sunan al-Baihaqi disebutkan:

عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ: لَقِيتُ وَاثِلَةَ بْنَ الأَسْقَعِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ وَاثِلَةُ: لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ.

Diriwayatkan dari Khalid bin Ma’dan, ia berkata, “Aku bertemu Watsilah bin Asqa’ pada hari Raya. Aku katakan padanya: Taqabbalallahu minna wa minka. Watsilah menanggapi, ‘Aku pernah bertemu Rasulullah SAW pada hari raya, lantas aku katakan ‘Taqabbalallahu minna wa minka’. Beliau menjawab, ‘Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”

Kedua riwayat ini memberikan benang merah, ucapan ‘Taqabbalallahu minna wa minka’ merupakan bacaan yang disyariatkan (masyru’) dan hukum mengucapkannya sunnah.

Apakah Ucapan Lain Tidak Boleh?

Ucapan selamat atau tahniah atas datangnya momen tertentu bisa saja merupakan tradisi atau adat. Sementara hukum asal suatu adat adalah boleh, selagi tidak ada dalil tertentu yang mengubah dari hukum asli ini. Hal ini juga merupakan madzhab Imam Ahmad. Mayoritas ulama menyatakan, ucapan selamat pada hari raya hukumnya boleh (lihat: al-Adab al-Syar’iyah, jilid 3, hal. 219).

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, ucapan selamat (tahniah) secara umum diperbolehkan, karena adanya nikmat, atau terhindar dari suatu musibah, dianalogikan dengan validitas sujud syukur dan ta’ziyah (lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jilid 14, hal 99-100).

Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap ucapan baik, apalagi merupakan doa, dalam momen nikmat atau bahkan musibah, adalah sesuatu yang boleh, bahkan baik untuk dilakukan. Dengan kalam lain, ucapan di Idul Fitri yang terbaik memang ‘taqabbalallahu minna wa minkum’. Namun bukan berarti doa dan ucapan lain yang baik itu tidak diperbolehkan.

Meluruskan Makna Minal ‘Aidin Wal Faizin

Minal ‘Aidin wal Faizin dalam bahasa Indonesia berarti ‘Semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan’.

Kita yakin, orang yang mengucapkannya tidak akan memaknainya ‘kembali pada kemaksiatan pascaramadhan, meraih kemenangan atas bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan’.

Pun, jangan memaknai Minal ‘Aidin Wal Faizin’ dengan ‘Mohon Maaf Lahir Batin’, hanya karena biasanya dua kalimat itu beriringan satu sama lain. Itu sama saja dengan ‘membahasa-Inggriskan’ keset dengan welcome, dengan alasan tulisan itu biasanya ada di keset.

Makna popular kalimat tersebut adalah ‘Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin ilal fithrah wal faizin bil jannah’ (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga).

Jadi jangan khawatir. Maknanya bukan kembali ke perbuatan maksiat dan menang telah menaklukkan Ramadhan. Tanda orang yang diterima ibadahnya, ia makin meningkatkan ketaatan dan makin meninggalkan kemaksiatan (min ‘alamati qabulit-tha’ah fa innah tajurru ila tha’atin ukhra).

Apa makna fitrah? Setidaknya ia memiliki dua makna: Islam dan kesucian.

Makna pertama diisyaratkan oleh hadits:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia (sebagai/seperti) Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Sisi pengambilan kesimpulan hukum atau wajh al-istidlal-nya, Nabi telah menyebutkan agama-agama besar kala itu, namun Nabi tidak menyebutkan Islam. Maka fitrah diartikan sebagai Islam.

Dengan ujaran lain, makna kembali ke fitrah adalah kembali ke Islam, kembali pada ajaran, akhlak, dan keluhuran budaya Islam.

Makna fitrah yang kedua adalah kesucian. Makna ini berdasarkan hadits Nabi:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan memotong kumis.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kelima macam fitrah yang disebutkan dalam hadits ini kesemuanya kembali pada praktik kebersihan dan kesucian. Dapat disimpulkan kemudian bahwa makna fitrah adalah bersih dan suci.

Jadi, ‘minal ‘Aidin ilal fithrah’, berarti kita mengharap kembali menjadi orang bersih dan suci. Dengan keyakinan pada hadits Nabi, orang yang shiyam dan qiyam (berpuasa dan menghidupkan malam) di bulan Ramadhan, karena iman dan semata mencari ridha Allah, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Harapannya, semoga kita seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibu, bersih-suci dari salah dan dosa. Amin…

Sementara panjatan doa “Semoga kita menuai kemenangan dengan meraih surga – Wal Faizin bil jannah”, sangat terkait dengan tujuan puasa Ramadhan dan happy ending bagi orang yang berhasil membuktikan tujuan itu.

Dalam al-Baqarah ayat 183 dijelaskan bahwa tujuan puasa Ramadhan adalah ‘agar kalian bertakwa (la’allakum tattaqun)’.

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

Sedangkan Surat al-Hijr ayat 45 dan Ali Imran ayat 133 menjelaskan, bagi orang bertakwa itu hadiahnya adalah surga.

Allah berfirman dalam al Hijr ayat 45:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ.

Sedangkan dalam Ali Imran ayat 133 disebutkan:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.

Ringkasnya, puasa berdampak takwa. Takwa berhadiah surga.

Hal inilah yang menjadi harapan orang yang berpuasa Ramadhan. Ia ingin dijadikan sebagai orang bertakwa dengan sebenarnya, dan mengharap menjadi salah satu penghuni surga.

Itulah makna kemenangan yang terucap dalam ‘wal faizin’ itu. Bukan kemenangan atas Ramadhan, sehingga bebas melakukan keburukan karena merasa sudah ‘menang’!

Minta Maaf di Idul Fitri Keliru?

Orang yang minta maaf di hari Raya, in syaa-Allah tidak meyakini minta maaf itu hanya khusus di hari Raya. Ini adalah ikhtiar untuk kesempurnaan ibadah.

Islam agama paripurna. Tidak sempurna iman seseorang sampai dua sisi tali hablun minallah dan hablun minannas sama-sama dikuatkan. Dalam sekian hadits dijelaskan misalnya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ‘hendaknya dia menghormati tamunya’, ‘hendaknya dia mengatakan yang baik atau diam’, dan seterusnya.

Surat al-Ma’un juga menjelaskan, pendusta hari pembalasan itu orang yang menolak anak yatim dan tidak memperdulikan orang miskin. Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (tanha ‘anil fahsyaa-i wal munkar). Zakat atau sedekah itu membersihkan dan mensucikan mereka (tuthahhiruhum wa tuzakkihim biha).

Dus, dari sekian penjelasan baik dari al-Qur’an maupun Sunnah itu, akhirnya seorang muslim sangat memahami, ada misi kebaikan secara vertikal dan horizontal. Siapa yang mengaku bertauhid, harus baik pula dalam wilayah sosial. Kalau puasa Ramadhan adalah hubungan baik secara vertikal, mengapa kemudian untuk minta maaf pascaramadhan sebagai ranah sosial dilarang?

Wallahu a’lam.

Akhirul kalam.
Selamat merayakan Idul Fitri.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Minal ‘aidin wal faizin.
Mohon maaf lahir batin.

Tulisan senada & seirama jg ditulis apik oleh ust.Junaidi Sahal dari Surabaya.

Minal aidin

☘🍁☘🍁☘🍁☘🍁☘
*Tanya Jawab*
*Bersama*

Tentang ” *Ucapan Saat Idul Fitri*”

☘☘☘☘☘☘☘☘☘

📚➰➰➰➰➰➰📚
(www.dar-alkayyis.com)
Fanpage UJ:
https://m.facebook.com/UstadzJunaidiSahal
❤➰➰➰➰➰❤

🍁 *TANYA* 🍁

Assalamu’alaikum Ustadz,

Ust, katanya keliru ya kalau di hari fithri mengucapkan Mohon maaf lahir bathin, dan mengucapkan minal aidin wal faaizin..
Mestinya cukup dengan ; *Taqobbalallohu minna wa minkum..*
Benarkah..?

📚 *JAWAB*

Wa alaikum Salam warohmatullohi wabarokatuh..

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــم

1. Meminta maaf dan memaafkan..memang mestinya ketika kita punya salah lgs mengucapkan mohon maaf.
Namun tidak terlarang utk melakukan hal tsb pada momen2 tertentu, lebih2 jika moment tsb bertabur kegembiraan dan silaturrahim yg memungkinkan hati menjadi lunak utk bs saling memaafkan.

Memang tdk ada nash Quran dan Hadis yg menunjukkan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” pada moment idul Fithri”

Namun jangan salah juga; Bahwa tidak ada nash Quran dan hadis pun yang MELARANG utk melakukan itu pada moment Idul Fithri 😊..

Bukan kah mengucapkan hal itu sbg bagian dari muamalat diantara manusia, bukan ibadah mahdloh.. Sedangkan ada kaidah dalam masalah Muamalat / Interaksi dantara manuasia sbb;

الاصل في المعاملات اباحة الا ما دل دليل علي تحريمه

_*Asal Hukum bermuamalat itu boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkan hal itu.*_

So, bukan kah di al quran kita diminta utk memberi maaf (umum, kapanpun, bs juga di saat Idul Fithri) Lihat Ali Imron 133.

2. Satu lagi tentang kalimat yg sdh menjadi tradisi di indonesia, dan menurut saya itu ndak pa utk dilakukan , karen lagi2 TIDAK ADA SATU NASH PUN YANG MELARANGNYA.😊😊

Yaitu ucapan Minal Aidin wal Faizin.

Ucapan tsb sesungguhnya sebuah Doa, yang lengkapnya sbb;

Allohummaj’alna Minal aidin wal faaizin wal maqbuulin..

“Ya Alloh jadikan kami termasuk yang kembali (ke Fithrah (tauhid) setelah ditempa Romadlon) dan Menang (sukses di surga) dan termasuk golongan orang yg diterima ibadah puasanya”

Apakah salah berdoa seperti itu? Mana dalil yang menyalahkannya?

Mari kita bahas arti kalimat tsb, yang itu juga ada di al quran lhoo..

1⃣..Aidin= العادين

Kalimat ” ‘Aidin ” derivasi dari ‘aada , ya’uudu , audan yang memiliki arti ;
“KEMBALI KEPADA KEADAAM SEMULA” berbeda dengan ‘raja’a’ yang berarti kembali (tidak harus kpd keadaan semula)..
So… ‘Id itu arinya kembali kepada keadaam yang semula.
Orang yang MUDIK, bisa dikategorikan kembali kepada daerah asalnya, itu ada dalam makna ‘Id…Dan biasanya yang kembali kepada keadaan yang semula, pasti menyenangkan..

Nah yg dimaksud doa tsb adalah kembali Ke Fithrah, yaitu keadaan semula yg seharusnya dimiliki pribadi Muslim setelah ditempa Romadlon..

2⃣Faizin= الفوز
Al Fauz,dgn berbagai redaksinya diulang 29 kali,dan diantara redaksi tsb hanya satu yg menggunakan redaksi tunggal ” افوز ” dlm ayat An Nisa 73 . يا ليتني كنتُ معهم فافوز فوزاً عظيما
Dan ini terkait org munafiq yg kecewa tdk dpat ghonimah krn tdk ikut perang.
Adapun redaksi fauz sll dikaitkan Alloh dg kesuksesan raih surga.
– At taubah 100
و السابقون الاولون من المهاجرين و الانصار و الذين اتبعوهم باحسان رضي الله عنهم و رضوا عنه و اعد لهم جناتٍ تجري تحتها الانهارُ خالدين فيها ابداً ذالك الفوز العظيم
– Yunus 62-64
الآ ان اولياَا الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون @ الذين امنوا و كانوا يتقون@
لهم البشري في الحياة الدنيا و في الاخرة، لا تبديل لكلمات الله ، ذالك هو الفوز العظيم
– Ali imron 185, فمن زحزح عن النار و ادخل الجنة فقد فاز

So.. Faizin, itu adalah golongan manusia yg sukses di akherat… Salahkah kita minta supaya dijadikan Sukses di akherat?? Menang di akherat dg meraih nikmat surga?? Dg apa yg dilakukan terkait ibadah di Romadlon, mestinya itu menjadi bekal Kesuksesan di Surga Alloh…

Mmg kalau kita artikan dg kemenangan di dunia, ya itu kurang tepat… salahnya mengartikan seperti itu…😃

3. Perlu diketahui, bhw Ucapan TAQOBBALALLOHU MINNA WA MINGKUM… itu tidak lgs dari Nabi صلي الله عليه و سلم lhoo.. Itu tradisi yg dilakukan Sahabat2 Nabi..

So.. itu mmg baik dan afdlol, krn itu kalau saya pribadi ya saya gabung…

Dulur, mohon maaf ya lahir batin..
minal aidin wal faizin,
Taqobbalallohu minna wa minkum..
Kullu Amin wa antum bi khair..
Idun Mubaarok….😃

Saudaramu yg mencintaimu. ❤

M Junaidi Sahal dan Klg besar Dar Al Kayyis

☘☘☘☘☘☘☘☘☘

_YA ALLOH……_
_JADIKAN KAMI AL KAYYIS_

🍁🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍁
*Mari Bersama kami menebar Dakwah Meraih Berkah Ramadhan*

Klo cak Reza basalamah ndalilnya slalu :
“Tidak ada satu ayat Qur’an atau suatu Hadits yang menunjukkan keharusan mengucapkan “Mohon maaf Lahir dan Batin” di saat-saat idul Fitri”.
Maka kebanyakan yg ngaji bersama cak Reza Basahlama selalu dan gampang MENYALAHKAN yg tidak sependapat dengannya.

Berbeda dg Cak Ust. Faris KH Anam dan Cak Ust. Junaidi Sahal, beliau berdua ini lbh arif & luas wacananya, bahkan saat beliau menjelaskan bahwa ucapan “selamat hari raya idul fitri, taqobbalallohu minnaa wa minkum mhn maaf lahir batin” adalah ucapan tahni’ah atau ucapan selamat itu hukumnya mubah (Boleh). Lebih mantab lagi saat cak ustadz Faris ini menorehkan Refrensi / rujukan kitabnya yaitu di kitab Al-Adab Al-Syar’iyyah jilid 3 hal.219. Mungkin cak Reza basahlama belum baca kitab tersebut kali ya…???!!!

Sementara itu cak Ust.Junaidi lbh telak lg dalam masalah2 senada yg sering dibid’ah2kan bahkan disesat-sesatkan, maka cak ust.junaidi cukup berkata bahwa tidak ada Qur’an dan Hadits pun yang MELARANG utk melakukan ucapan tahni’ah tsb kapan pun & di manapun.Klo cak Reza basalamah ndalilnya slalu :
“Tidak ada satu ayat Qur’an atau suatu Hadits yang menunjukkan keharusan mengucapkan “Mohon maaf Lahir dan Batin” di saat-saat idul Fitri”.
Maka kebanyakan yg ngaji bersama cak Reza Basahlama selalu dan gampang MENYALAHKAN yg tidak sependapat dengannya.

Berbeda dg Cak Ust. Faris KH Anam dan Cak Ust. Junaidi Sahal, beliau berdua ini lbh arif & luas wacananya, bahkan saat beliau menjelaskan bahwa ucapan “selamat hari raya idul fitri, taqobbalallohu minnaa wa minkum mhn maaf lahir batin” adalah ucapan tahni’ah atau ucapan selamat itu hukumnya mubah (Boleh). Lebih mantab lagi saat cak ustadz Faris ini menorehkan Refrensi / rujukan kitabnya yaitu di kitab Al-Adab Al-Syar’iyyah jilid 3 hal.219. Mungkin cak Reza basahlama belum baca kitab tersebut kali ya…???!!!

Sementara itu cak Ust.Junaidi lbh telak lg dalam masalah2 senada yg sering dibid’ah2kan bahkan disesat-sesatkan, maka cak ust.junaidi cukup berkata bahwa tidak ada Qur’an dan Hadits pun yang MELARANG utk melakukan ucapan tahni’ah tsb kapan pun & di manapun.

Nyawal & Riyoyo Kupat

بسم الله الرحمن الرحيم

حامدا لله

ومصليا ومسلما على رسول الله محمد ﷺ

أما بعد،

Nyawal = puasa 6 hari setelah hari raya idul fitri.

Riyoyo Kupat = hari raya atau perayaan setelah melaksanakan puasa 6 hari setelah hari raya idul fitri yang ditandai dengan makan hidangan ketupat sebagai simbol harapan & doa semoga seluruh dosa dan salah (LePAT dalam bhs jawa) diampuni oleh Alloh Ta’ala.

FAEDAH 📗🙏📗

Pengertian puasa syawal dan cara mengerjakannya

Puasa syawwal adalah puasa yang dikerjakan sesudah hari raya idul fitri. Hukumnya sunat berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshori radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka seolah-olah ia berpuasa selama satu tahun.” (Shahih Muslim, no.1164)

Ulama berkata “alasan menyamainya puasa setahun penuh berdasarkan bahwa satu kebaikan menyamai sepuluh kebaikan, dengan demikian bulan ramadhan menyamai sepuluh bulan lain (1 bulan x 10 = 10 bulan) dan 6 hari di bulan syawal menyamai dua bulan lainnya ( 6 x 10 = 60 = 2 bulan). [ Syarh nawaawi ‘ala Muslim VIII/56 ].

Sedangkan tata cara pelaksanaannya yang paling afdhol adalah setelah hari raya, lalu mengerjakan puasa (mulai tanggal 2 syawwal) selama 6 hari secara terus menerus. Meski begitu, puasa syawal boleh dikerjakan tidak langsung setelah hari raya selama masih dikerjakan dibulan syawal, begitu juga diperbolehkan mengerjakannya terpisah-pisah, tidak terus menerus.

Referensi :

Al-Muhadzdzab, Juz : 1 Hal : 344

يستحب لمن صام رمضان أن يتبعه بست من شوال لما روى أبو أيوب الأنصاري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام من رمضان وأتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر كله

Syarah Shohih Muslim, Juz : 8 Hal : 56

قوله صلى الله عليه وسلم (من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر) فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعي وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة وقال مالك وأبو حنيفة يكره ذلك قال مالك في الموطأ ما رأيت أحدا من أهل العلم يصومها قالوا فيكره لئلا يظن وجوبه ودليل الشافعي وموافقيه هذا الحديث الصحيح الصريح وإذا ثبتت السنة لا تترك لترك بعض الناس أو أكثرهم أو كلهم لها وقولهم قد يظن وجوبها ينتقض بصوم عرفة وعاشوراء وغيرهما من الصوم المندوب قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فإن فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى أواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال

Muhadzdzab Juz 1 Hal 237-241 (BAB UDLHIYYAH)

قال صلى اللَّهُ عليه وسلم من صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا من شَوَّالٍ كان كَصِيَامِ الدَّهْرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ ) فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعى وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة وقال مالك وأبو حنيفة يكره ذلك قال مالك في الموطأ ما رأيت أحدا من اهل العلم يصومها قالوا فيكره لئلا يظن وجوبه ودليل الشافعى وموافقيه هذا الحديث الصحيح الصريح واذا ثبتت السنة لا تترك لترك بعض الناس أو أكثرهم أو كلهم لها وقولهم قد يظن وجوبها ينتقض بصوم عرفة وعاشوراء وغيرهما من الصوم المندوب قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فان فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى اواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال قال العلماء وانما كان ذلك كصيام الدهر لان الحسنة بعشر امثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين وقد جاء هذا في حديث مرفوع في كتاب النسائي وقوله صلى الله عليه و سلم ( ستا من شوال ) صحيح ولو قال ستة بالهاء جاز أيضا قال أهل اللغة يقال صمنا خمسا وستا )

Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Nihayatuz Zain, Al-Maarif, Bandung, Tanpa Tahun, Halaman 197).

( و ) الرابع صوم ( ستة من شوال ) لحديث من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر ولقوله أيضا صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة أي كصيامها فرضا وتحصل السنة بصومها متفرقة منفصلة عن يوم العيد لكن تتابعها واتصالها بيوم العيد أفضل وتفوت بفوات شوال ويسن قضاؤها

PUASA 6 HARI SYAWAL dan QOIDAH MATEMATIKANYA
_________________

Nabi shollallohu Alaihi Wasallam bersabda, _“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim)._

Alasan kok dikatakan sepertihal nya berpuasa setahun dikarenakan satu kebaikan menyamai sepuluh kebaikan. Dengan demikian setiap harinya di nilai dengan 10 kebaikan (dilipatkan: read).

Dalam Kitab yg lain terdapat juga keterangan sebagai berikut:

ويستحب فى هذه الايام ان تكون متتابعة. وتبداء من اليوم الثاني من ايام شوال.
الا انه يجوز له ان يفرقها. وأن يبدأ بها بعد اليوم الثانى من ايام الشهر، من اي أراد. ويكون فى هذه الحالة مدركا لاصل السنة. والى هذا ذهب الامام الشافعى، و احمد، وداود الظا هري.(فقه الصيام لدكتور محمد حن هيتو ص ١٤٨)

Disunnahkan sebenernya puasanya pas pada hari kedua dalam bulan syawal (tanggal 2), namun juga diperbolehkan umpama dipisah2 puasanya (tidak langsung 6 hari berturut2 / gak berkesinambungan), yang seperti itu juga dianggap seperti halnya puasa setahun juga. Hal ini menurut pendapatnya imam syafi’i, imam ahmad dan daud.

Tambahan dari Hasyiyah Bujairimi ala syarah minhaj:

(‍ﻭ‍ﺳ‍‍ﺘ‍‍ﺔ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺷ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﻝ‍) ‍ﻟ‍‍ﺨ‍‍ﺒ‍‍ﺮ ‍ﻣ‍‍ﺴ‍‍ﻠ‍‍ﻢ‍ «‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺻ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﺭ‍ﻣ‍‍ﻀ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﺛ‍‍ﻢ‍ ‍ﺃ‍ﺗ‍‍ﺒ‍‍ﻌ‍‍ﻪ‍ ‍ﺳ‍‍ﺘ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺷ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﻝ‍ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻛ‍‍ﺼ‍‍ﻴ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺪ‍ﻫ‍‍ﺮ» ‍ﻭ‍ﺧ‍‍ﺒ‍‍ﺮ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺋ‍‍ﻲ‍ «‍ﺻ‍‍ﻴ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﺷ‍‍ﻬ‍‍ﺮ ‍ﺭ‍ﻣ‍‍ﻀ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﺑ‍‍ﻌ‍‍ﺸ‍‍ﺮ‍ﺓ ‍ﺃ‍ﺷ‍‍ﻬ‍‍ﺮ ‍ﻭ‍ﺻ‍‍ﻴ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﺳ‍‍ﺘ‍‍ﺔ ‍ﺃ‍ﻳ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﺃ‍ﻱ‍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺷ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﻝ‍ ‍ﺑ‍‍ﺸ‍‍ﻬ‍‍ﺮ‍ﻳ‍‍ﻦ‍ ‍ﻓ‍‍ﺬ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﺻ‍‍ﻴ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﻨ‍‍ﺔ»
(حاشية البجيرمى على شرح المنهج ج ٢ ص ٨٩ )

Hadis riwayat imam muslim menuturkan Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun, dan dari imam Nasa’i, bulan Ramadhan itu adalah 10 bulannya, dan puasa 6 hari di bulan syawalnya yaitu dua bulannya, jadi totalnya adalah 12 bulan (1 tahun).

QOIDAH MATEMATIKA NYA BEGINI:

1 bulan = 30 hari.
30 hari x 10 = 300 hari.
300 hari = 10 bulan.
6 hari x 10 = 60 hari.
60 hari = 2 bulan.
Jadi total nya: 10 bulan + 2 bulan = 12 bulan (1 tahun).

Wallohu a’lam.

*مراجع:*
١. مقاصد الصوم لسلطان العلماء العز بن عبد السلام ص ٣٤.
٢. فقه االصيام لدكتور محمد حن هيتو ص ١٤٨.
٣. حاشية البجيرمى على شرح المنهج ج ٢ ص ٨٩.

SEJARAH KETUPAT

Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa.

Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

*Arti Kata Ketupat.*

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.

*Ngaku Lepat.*

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

*Laku Papat.*

1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.

*Lebaran.*
Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.

*Luberan.*
Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah.

*Leburan.*
Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

*Laburan.*
Berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

*FILOSOFI KUPAT – LEPET*

*KUPAT*
Kenapa mesti dibungkus janur?
Janur, diambil dari bahasa Arab *”Ja’a nur”* (telah datang cahaya ).
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia.
Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.
Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja’a nur).

*LEPET*
Lepet = silep kang rapet.
Monggo dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.
Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
*Robbana Taqobbal Minna*
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin

😊❤👍