Sholawat Asyghil

Berikut lafaz Sholawat Asyghil, yang semula diajarkan oleh Habib Ahmad Bin Umar al-Hinduan Ba’alawiy:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠﻰَ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ، ﻭَﺃَﺷْﻐِﻞِ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺑِﺎﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ.

ﻭَﺃَﺧْﺮِﺟْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻨِﻬِﻢْ ﺳَﺎﻟِﻤِﻴﻦَ، ﻭَﻋﻠَﻰ ﺍﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴﻦ .

Allohumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin
Wa asyghilidh dhoolimiin bidh-dhoolimiin
Wa akhrijnaa min baynihim saalimiin,… wa’alaa aalihi wa shohbihii ajma’iiiin.

Artinya:
“ Ya Alloh, berikanlah sholawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang dholim agar mendapat kejahatan dari orang dholim lainnya.
Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka.
Dan berikanlah sholawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.”

Selamat Jalan Wahai Sang Guru Idola…!!!

إنا لله وإنا إليه راجعون…. اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأدخله الجنة وقه عذاب النار…

Tilar ndunyo… KH. As’ad Thoha Sampurnan Bungah Gresik.

Beliau Salah satu guru idola kulo….
Tegas dalam santun Cerdas nan anggun…!!!

motivator abadi…

إنا لله وإنا إليه راجعون
Turut berduka atas wafatnya *KH AS’AD THOHA* Bungah Gresik.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ له وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه وَأَكْرِمْ نُزُلَه وَوَسِّعْ مُدْخَلَه وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّه مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْه دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِه وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه وَأَدْخِلْه الْجَنَّةَ وَأَعِذْها مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ…

Smg keluarga yg ditinggalkan sabar tawakkal dan kita bs meneruskan perjuangannya.

*Riwayat singkat berjuang di PW LP Ma’arif NU Jatim.*

KH As’ad Toha karya dan amal jariyah beliau di PWLP Maarif NU adalah menulis buku Pendidikan Aswaja dan Ke Nuan, buku pelajaran agama SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK sebanyak kurang lebih 40 an judul .. dan penggagas Forum Komunikasi Kepala Madrasah Aliyah Maarif NU Se Jatim.

Tahun 2005-2007 beliau ketua Program wakaf buku PW LP Maarif NU Jatim

Antara Alliwaa’, Arrooyah, Bendera & Umbul-umbul

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2164077443603030&id=100000023859053

Alliwa dan Arrayah: Masih Berlaku? (Bag. 1)
____________________________

Ribut tentang bendera tauhid ternyata tak begitu saja berhenti, sayang sekali. Sebagian kawan mencecar pertanyaan yang lumayan macam-macam, dan tentu harus aku jawab jika memang aku tahu. Dan yang paling banyak adalah tentang Alliwa dan Arrayah, panji dan bendera di zaman Rasulullah shalllallah alaih wasallam; bagaimanakah kita seharusnya bersikap atas keduanya?

Pertanyaan yang bagus. Tapi jujur, sebagian besar mencoba menggiring halus kepada pendapat bahwa bendera tauhid kemarin adalah reprentasi dari Arrayah dan Alliwa. Aku hanya tersenyum, hehe.

Dan, oke. Aku ingin membahas Alliwa dan Arrayah ini dari beberapa sisi, yang semoga akhirnya membuat kita semakin luas wawasan dan bisa bersikap.

Hanya siap-siap saja, kalau tulisan kali ini sedikit berbeda dengan tulisanku biasanya. Aku akan menuliskan dengan sedikit ‘berat’ di awal tulisan. Dan ada kejutan di akhir tulisan. Bismillah!

###

Pertama: Apakah Alliwa dan Arrayah?

Ada banyak hadits tentang Alliwa dan Arrayah. Dan secara singkat, Alliwa dan Arrayah di zaman Rasulullah adalah dua bendera yang di amanahkan kepada pasukan: Alliwa untuk Amirul Jaisy atau panglima perang, sedangkan Arrayah untuk perpeleton yang ada di bawah kepemimpinan Amir tadi.

Karena itulah di setiap peperangan hanya terdapat satu liwa, sedangkan di sana ada beberapa rayah. Seperti di peperangan Uhud, ketika Sang Nabi menyerahkan Alliwa kepada Mush’ab ibn Umair, lalu menyerahkan Arrayah yang membawahi kaum Muhajirin kepada Ali ibn Abi Thalib, dan Arrayah yang membawahi kaum Anshar kepada Sa’d ibn Mu’adz.

Seperti itu juga ketika Pembebasan Kota Makkah, Rasulullah menetapkan beberapa Arrayah untuk mengklarifikasikan kaum Muhajirin, Aus, Khazraj, dan setiap kabilah yang bergabung dengan Madinah, seperti kata Al Imam Assyafi’i di Al Umm. Dengan kata lain: sangat banyak rayah di saat itu. Plus, setiap kaum memiliki rayah yang berbeda dengan rayah kaum lainnya, seperti apa yang dikatakan oleh Al Imam Almawardi.

Dan dari sini dipahami, bahwa Alliwa ataupun Arrayah adalah bendera yang Sang Nabi tetapkan di setiap peperangan—bukan sebagai bendera Negara. Apalagi bendera agama.

###

Kedua: Apakah selalu berwarna sama; dan lebih spesifik: apakah harus selalu berwarna hitam?

Bukan hanya warna, bahkan bentuk Alliwa dan Arrayah di zaman Sang Kekasih, shallallah alaih wasallam pun tak menentu. Di riwayat Ibn Majah dan lainnya, dijelaskan bahwa Alliwa milik Sang Nabi berwarna putih, sedangkan Arrayah berwarna hitam. Di riwayat Abu Dawud dan Atturmudzi pula dijelaskan, bahwa Arrayah milik beliau berbentuk persegi empat sama sisi dengan warna hitam dari kain namirah—salah satu macam kain.

Merujuk lagi pada hadits Abu Dawud, tertera pula riwayat bahwa Sang Nabi memiliki rayah berwarna kuning. Lantas Ibn Abi Ashim meriwayatkan bahwa beliau menjadikan Arrayah berwarna merah bagi Bani Sulaim, salah satu kabilah di Madinah. Ibnu Hajar Al Asqalani juga menyatakan bahwa Rasulullah memiliki Arrayah yang berwarna hitam dan beliau memberinya nama Al ‘Uqab, pula memiliki Arrayah yang berwarna putih, dengan sedikit pembeda berwarna hitam di tengahnya.

Dari sini, Ibnu Hajar pun berkata di masterpiece beliau, Fathul Bari, bahwa jumlah dan warna Arrayah dari Rasulullah adalah bermacam-macam, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dan ini pula yang ditetapkan oleh Assarakhsi, salah satu ulama dari Madzhab Hanafi.

###

Ketiga: Apakah tertera kalimat Tauhid di Alliwa ataupun Arrayah milik Rasulullah?

Ada dua riwayat tentang ini. Hadits pertama dari Athhabarani dari Ibn Abbas, bahwa Arrayah milik Rasulullah berwarna hitam, dan Alliwa beliau berwarna putih, tertuliskan di sana dua kalimat syahadat. Hadits ini menurut para ulama berstatus dhaif, dan tak bisa digunakan sebagai hujjah atau argumen. Dan di sisi lain, bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kalimat syahadat tersebut ada di Alliwa—yang notabene berwarna putih, bukan berada di Arrayah yang notabene berwarna hitam.

Hadits kedua, pula dari Ibn Abbas dan diriwayatkan oleh Abu Syaikh dan Ibnu ‘Adiy, bahwa kalimat tauhid tersebut tertera di Arrayah—bukan di Alliwa. Hanya saja, lebih parah dari hadits pertama, hadits ini dihukumi oleh ulama sebagai hadits yang sangat lemah. Bahkan untuk sekadar menenangkan hati pun tak boleh.

Konklusinya, bahwa Alliwa dan Arrayah yang teriwayatkan secara shahih hanyalah berupa bentuk dan warna. Sedangkan tulisan yang tertera sama sekali tak teriwayatkan secara shahih, dan tak dapat digunakan sebagai argumen menurut para ulama. Ya, para ulama yang saat itu hidup di masa kekhilafahan.

###

Nah, apakah Alliwa dan Arrayah di zaman Nabi itu masih terus digunakan usai masa Rasulullah shallallah alaih wasallam? Tunggu ulasan selanjutnya, insya Allah :).

Makkah, Shafar 16, 1440

Alliwa dan Arrayah: Masih Berlaku? (Bag. 2)
__________________________

Sebelum melanjutkan, ada kabar baik yang tentunya harus kita syukuri karena kemarin, 26 Oktober 2018, NU dan Muhammadiyyah sepakat untuk mengakhiri polemik dari kasus bendera tauhid ini. Dan tentu itu harus kita dukung.

Tapi, pembahasan tentang Alliwa dan Arrayah sudah seharusnya kita lanjutkan untuk tetap menambah wawasan, yang semoga jika kasus seperti ini kembali terjadi, kita bisa kembali ke akal sehat. Insya Allah. Monggo lanjut!

###

Keempat: Apakah Alliwa dan Arrayah itu digunakan oleh kekhilafahan di masa lalu?

Alliwa dan Arrayah yang berwarna hitam memang digunakan oleh Khulafaurrasyidin. Hanya saja di zaman Umar ibn Alkhatthab, beliau menambahkan satu Arrayah dengan nama Alkhudhariyyah—bukan Alliwa dan Arrayah yang diwariskan oleh Nabi. Begitu pula Ali ibn Abi Thalib, pun memiliki Arrayah sendiri dengan nama Aljamuh.

Lantas di masa Kerajaan Bani Umayyah, mereka memakai Arrayah dengan warna putih beraksen hijau, hingga pasukan mereka dikenal sebagai Almubyaddhah, mereka yang memiliki bendera putih. Penggunaan bendera ini berlaku di medio 661-750 M.

Beralih ke masa Kerajaan Bani Abbas, mereka merubah Arrayah menjadi warna hitam yang bernama Assahab, plus bendera lain yang mereka namai Addhill. Penggunaan bendera ini berada di medio 750-1258 M, dengan catatan bahwa hingga di tahun 813 Kerajaan Bani Abbas merubah Arrayah mereka dengan warna tambahan perak dan emas. Lalu kembali lagi menjadi hitam murni.

Tapi di Kerajaan Andalus, medio 756-1493 M, karena memang mereka tak bergabung dengan Kerajaan Bani Abbas, Andalus pun memiliki bendera sendiri berwarna merah dan putih. Sedangkan kerajaan lainnya, Kerajaan Fathimiyyah, medio 909-1171 M, mereka menggunakan bendera hijau.

Berbeda lagi dengan Sang Pahlawan, Shalahuddin Al Ayyubi yang nantinya mendirikan Kerajaan Ayyubiyyah, beliau melawan penjajah Palestina dengan menggunakan bendera khusus milik kerajaannya sendiri yang berwarna kuning lengkap dengan gambar elang. Dan itu terjadi di tahun 1187 M.

Dan ketika tampuk kepemimpinan berada di tangan Turki Utsmani, mereka memilih bendera berwarna merah di saat peperangan, dan berwarna hijau sebagai lambang negara. Dan ini hanya tentang warna.

Ulama di masa itu pun, tak mempermasalahkan warna yang dipilih sebagai identitas negara. Ibnul Qayyim menyatakan dianjurkannya keberadaan Arrayah, dan menyatakan bahwa warna apapun yang dipilih adalah boleh. Beliau tak mewajibkan apapun.

Lebih jelas lagi ketika Assarakhsi berkata bahwa, “penggunaan beberapa Arrayah dianjurkan sebagai penanda kelompok peleton di peperangan… dan penggunaan warna hitam dianjurkan karena lebih mudah untuk diketahui posisinya di tengah debu yang berterbangan di saat pertempuran. Tapi dari kacamata syariat, maka tak masalah jika arrayah menggunakan warna putih, kuning atau merah (dan yang lainnya). Hanya saja putih dipilih untuk warna Alliwa karena putih adalah warna yang dicintai oleh Allah.”

###

Kelima: Apa hukum bendera itu sendiri?

Hukum dari bendera sendiri itu sebagai penanda sebuah kedaulatan negara adalah diperbolehkan, selama bendera tersebut tak mengandung hal yang dilarang oleh agama. Ini sesuai dengan kaidah yang dituliskan oleh para ulama: hukum asal segala hal adalah diperbolehkan, selama tak ada dalil yang jelas melarang.

Dan dari sinilah, perkembangan zaman menuntut terbentuknya banyak aturan untuk kedaulatan sebuah negara. Sebagai contoh, ketika Umar ibn Alkhatthab ra. menjadikan Kerajaan Persia sebagai role model untuk mengatur segala administrasi militer kekhilafahan beliau.

Termasuk tuntutan zaman di masa lalu: adanya bendera khusus untuk negara yang berdiri, baik itu di saat Khilafah Rasyidah, ataupun kerajaan-kerajaan Islam setelahnya. Yang akhirnya tuntutan tersebut masih terus berlangsung sesuai dengan jumlah banyak negara di zaman sekarang ini. Keberagaman negara yang ada di saat ini.

Alqurthubi, Ibn Taimiyyah, Assyaukani, Asshan’ani, dan banyak lagi ulama lainnya, tak mengingkari keberagamaan negara—tanpa mengingkari seharusnya ada persatuan ummat Islam. Bahkan Ibn Tamiyyah sendiri berfatwa bahwa disunnahkan agar seluruh ummat Islam berada dalam satu kepemimpinan. Tapi jika zaman menuntut adanya banyak pemimpin berdaulat di banyak tempat, maka setiap masyarakat di tempat tersebut diwajibkan untuk berbaiat setia kepada pemimpin yang ada.

Dan karena ini pula sudah terjadi, maka setiap negara pun berhak memiliki benderanya masing-masing yang menunjukkan persatuan dan kedaulatan mereka. Tanpa ada keharusan memakai Alliwa ataupun Arrayah yang ada di zaman Rasulullah, seperti kerajaan-kerajaan Islam sebelumnya.

###

Lantas, bagaimana dengan sikap kita seharusnya terhadap Alliwa dan Arroyah di zaman Nabi, usai kita mengetahui semua hal di atas? Tunggu ulasan selanjutnya, insya Alloh :).

Makkah, Shafar 17, 1440 H
@bangmiqo

Dedawuh Abuya

Dedawuh Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliky

(disampaikan oleh Abi Ihya’ Ulumiddin)

كل انسان يحتاج إلى مرشد مرب قائد الذي يربي قلبه و يهذب اخلاقه ويأتي بيده إلى الله والذي بصحبته الله يحفظه من الشر والهدى والعصيان