HUT ABI 

*Nurul ilm*
Oleh: Akh. Hasan Saleh

Keringnya diri manusia

Karna lama tak tersirami

Gelapnya hati manusia 

Karna tak ada cahaya menyinari

Hausnya dahaga

Karna tiada tetesan yang mengairi
Obat keringnya diri

Penerang gelapnya hati

Penghilang dahaga perih

Hanya ilmu yang menjadi sandaran diri
Ilmu bukan sekedar ilmu

Guru bukan sembarang guru

Pesan bukan sekedar lembar kusut

Namun, sanad menjadi sandaran utama
Kini, cahaya itu telah menyinari keringnya hati

Mampu membasahi lisan dengan dzikir mejernihkan fikir
Kini,  cahaya itu…

Telah meletakkan pondasi dasar iman dan taqwa

Cahaya itu…

Melahirkan cahaya-cahaya dipenjuru dunia

Menerangi negeri yang hilang marwahnya

Cahaya itu…. 

Semakin terang dan terang sampai silau memandang

Cahaya itu… 

Dirindu setiap insan yang memandang

Cahaya itu…. 

Tak kan pernah sirna dalam qolbu setiap insan

Cahaya itu berjalan dan terus berjalan

hingga lebih dari 30 tahun lamanya

Membagi tetesan ilmunya

dari pemilik nur

nur muhammad dan nur ilahi
Insan dloif akan selalu berharap

untuk berjumpa dan berkumpul dengan cahaya itu dalam jannahNya

Walau sekedar “gandol sarunge”

Insan dloif tak kan pernah berpaling

ketika cahaya itu sudah bersamanya
Semoga Allah kumpulkan kita dengan cahaya ilmu itu…

Ya… yang ada disitu

dipuncak gunung pujon

Disitulah cahaya itu. 
Semoga Syafaat Baginda dan Kemuliaan Sang Guru melekat pada nurul ilmi Abina Sang Murobbi

Laula murobbi maa aroftu robbi
Semoga Allah berikan kesehatan dan keberkahan umur beserta ilmu pada Abina wa murobby ruhina KH.Muhammad Ihya ‘Ulumiddin
Kumpulkan kami ya Rob dengan cahaya itu…💐
Pujon, 

 17 dzulqo’dah 1438H

10 Agustus 2017

Iklan

Kabar tentang Vaksinasi

Tahukah Anda Dengan Imunisasi???
SEORANG dokter di sebuah kota kecil di Jawa Barat beberapa tahun yang lalu berkata dalam sebuah forum: “Tiga anak saya satupun tidak ada yang diimunisasi. Dan mereka semua baik-baik saja!” Pernyataan sang dokter sontak membuat semua orang yang tengah bersamanya terkejut. Sebagian mengernyitkan kening. Sebagian lain tampak sudah tahu dari berbagai referensi terutama internet. Sebagian lain tiba-tiba saja menjadi was-was.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, imunisasi menjadi sebuah perhatian besar bagi keluarga muda yang melek media dan teknologi.
Jika kita merunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionisme Internasional.
Dan kenyataannya, mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya : The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS). (Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine Flu PropagAnda”).
Dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi modern (atau kita menyebutnya imunisasi) adalah salah satu campur tangan (baca : konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperbudak seluruh dunia dalam “New World Order” mereka.
Apa Kata Para Ilmuwan Tentang Vaksinasi?
“Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.” (Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika).
“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.” (Dr. Richard Moskowitz, Harvard University).
“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.” (Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris).
“Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum.” (dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional)
“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.” (Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962).
“Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus autisme.” (Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional).
“Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.” (Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika).
“Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” (Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”).
Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan yang lainnya. Dan ternyata faktanya di Jerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat, menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Suspectible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.
SELENGKAPNYA: http://www.islampos.com/apa-siapa-di-balik-vaksin-imunisas…/