Apa Surprise Anak Sholih Kepada Kedua Orangtuanya?

Surprise Anak Sholih kepada Kedua Orangtuanya?!? ISTIGHFAR.

Semoga seluruh anak-anak kita bisa menjadi anak sholih yang selalu beristighfar untuk kedua orang tuanya.

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ.

رواه أحمد ١٠٢٠٢
Telah menceritakan kepada kami Yazid, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ashim bin Abu An Nujud dari Abu Sholih dari Abu Huroiroh, dia berkata; Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh ‘azza wajalla akan mengangkat derajat seorang hamba yang sholih di surga, hamba itu kemudian berkata; ‘Wahai Rabb, dari mana semua ini? ‘ maka Alloh berfirman; ‘Dari istighfar anakmu.'”
(HR. Achmad no.10202)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْقِنْطَارُ اثْنَا عَشَرَ أَلْفَ أُوقِيَّةٍ كُلُّ أُوقِيَّةٍ خَيْرٌ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ.

رواه ابن ماجه ٣٦٥٠
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdush Shomad bin Abdul Warits dari Hammad bin Salamah dari ‘Ashim dari Abu Sholih dari Abu Huroiroh dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Satu Qinthar adalah dua belas ribu uqiyah, dan setiap satu uqiyah lebih baik dari pada apa yang ada di antara langit dan bumi.” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Sesungguhnya seseorang akan di angkat derajatnya di surga, lalu orang tersebut akan bertanya, ‘Bagaimana ini bisa terjadi? ‘ lalu dijawab, ‘Karena anakmu telah memohonkan ampun untukmu’.”
(HR. Ibnu Maajah no.3650).
الحمد لله بنعمته تتم الصالحات…!!!
Alhamdulillah… anak-anak kita hari ini semuanya bisa sahur & beristighfar di waktu sahur yaitu waktu terbaik untuk beristighfar.

(إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ * آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ * كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ * وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ)

[Surat Adz-Dzaariyaat 15 – 18]
15. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air,
16. mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik;
17. mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam
18. dan pada waktu sahur (akhir malam) mereka beristighfamemohon ampunan (kepada Alloh).
Semoga kita mendapatkan seluruh janji, hikmah serta rahasia dari istighfar kita juga istighfar anak-anak kita, yaitu rizki kontan dari langit & bumi, dicukupi bahkan diloberi dengan harta2 serta anak keturunan yang banyak nan sholih. Dan semoga Alloh Ta’ala menjamin terus ketersedian & kelengkapan sumber rizki kita.
Sebab Alloh Ta’ala telah berfirman:
(فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا)

[Surat Nuh 10 – 12]
10. maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Sangat Maha  Pengampun,
11. niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,
12. dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”

Karena itu setiap waktu sahur setelah selesai tahajjudnya santri-santri memperbanyak bacaan istighfar, diantaranya dengan sayyidul istighfar dan kalimah istighfar:
أستغفر الله إنه كان غفارا

ASTAGHFIRULLOH…

INNAHUU KAANA GHOFFAARON.
Semoga Alloh Ta’ala  menerima seluruh amal ibada kita.

آمين.
والله يتولى الجيع برعايته

Ngaji Reboan ; Hadits ke-1 bab 44 Kitab Riyadlush Sholihin


باب

توقير العلماء والكبار وأهل الفضل

قال الله تعالى:

(… ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ)

[Surat Az-Zumar 9]

Bab. 44

Memuliakan Alim Ulama, Orang-orang Tua, Ahli Keutamaan Dan Mendahulukan Mereka Atas Lain-lainnya, Meninggikan Kedudukan Mereka Serta Menampakkan Martabat Mereka.
Alloh Ta’ala berfirman:
“…..Katakanlah – hai Muhammad, adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Hanyasanya yang mengingat ialah orang-orang yang menggunakan fikirannya.” (az-Zumar: 9)
 
347. Dari Abu Mas’ud iaitu ‘Uqbah bin ‘Amr al-Badri al-Anshari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Yang berhak menjadi imamnya sesuatu kaum – waktu shalat ialah yang terbaik bacaannya terhadap kitabullah – al-Quran. Jikalau semua jamaah di situ sama baiknya dalam membaca kitabullah, maka yang terpandai dalam as-Sunnah – Hadits  Jikalau semua sama pandainya dalam as-Sunnah, maka yang terdahulu hijrahnya. Jikalau dalam hijrahnya sama dahulunya, maka yang tertua usianya.
Janganlah seseorang itu menjadi imamnya seseorang yang lain dalam daerah kekuasaan orang lain itu dan jangan pula seseorang itu duduk dalam rumah orang lain itu di atas bantalnya- orang lain tadi, kecuali dengan izinnya – yang memiliki.” (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan oleh Imam Muslim: “Maka yang terdahulu masuknya Islam” sebagai ganti “yang tertua usianya.”
Dalam riwayat lain lagi disebutkan:
“Yang berhak menjadi imamnya sesuatu kaum – waktu shalat ialah yang terbaik bacaannya terhadap kitabullah – al-Quran, dan orang yang terdahulu pandai membacanya. Jikalau dalam pembacaan itu sama – dahulu dan pandainya, maka hendaklah yang menjadi imam itu seorang yang terdahulu hijrahnya. Jikalau dalam hijrahnya sama dahulunya, maka hendaknya menjadi imam seorang yang tertua usianya.”
Yang dimaksudkan “bisulthanihi” yaitu tempat kekuasaannya atau tempat yang ditentukan untuknya. “Takrimatihi” dengan fathahnya ta’ dan kasrahnya ra’ ialah sesuatu yang dikhususkan untuk diri sendiri, baik berupa bantal, hamparan, ataupun lain-lainnya.

باب توقير العلماء والكبار وأهل الفضل
قال الله تعالى:

(أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ)

[Surat Az-Zumar 9]
(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.