Derita Saudara Muslim Kita di Rohingya

SAUDARA KITA DIMUSNAKAN 

berhari-hari mencerit hati ini 

bayi merah, anak-anak, sipil wanita lelaki 

diusir, disiksa, dibantai 

hanya derai tangis menyertai 

para pemimpin Islam tak peduli 

negara Islam tak ngurusi 

berhari-hari menjerit para bayi 

anak-anak, dewasa wanita lelaki 

pergi berlari mencari 

rasa aman minta dilindungi 

berharap sesuap nasi 

namun hanya ada perlakuan keji 

disiksa tanpa henti 

hingga mati 
berhari-hari mereka bergerilya 

mencari muslimin yang ada 

ditangkap, disekap, diikat, dibawa 

dijemur sepanjang waktu tak diberi makan apa-apa 

ditendang, disiksa 

tiba-tiba ditembak kepala 

sekampung musna 
berhari-hari si bengis membantai 

dari kampung ke kampung tanpa henti 

menangkapi 

mengikat, menendang, menembaki 

sekampung musna mati 
dimusnakan saudara kita 

beri do’a 

beri dana 

beri apa yang kita punya 

sebelum habis musna 

Al Azhaar, 1 September 2017 Imam Mawardi Ridlwan

DIAMNYA KITA 

diamnya kita sekarang 

berbagai derita sebrang 

kemulyaan ummat diserang 

nyawa syahadah dihilang 

penyiksaan kejam berulang ulang 

dunia diam tak bertandang 

dunia tak peduli sumbang 

jaminan hidup, sandang pangan 

dunia dan kita diam di kandang

diamnya kita, tak bertandang 
diamnya kita nikmati belaian

belaian toleransi 

belaian anarkisme 

belaian radikalisme 

belaian humanisme 

mengantarkan ummat tidur 

berselimut kekuasaan 
diamnya kita 

saat saudara aqidah diusir lepas 

diberi peluru ganas 

ditendang bebas 

dibakar panas 

diserat tali seutas 

disembelih urat leher rantas 

dikubur saat bernafas 

segala siksa ganas bebas tanpa balas 

dan kita 

dan kita 

dan kita 

sibuk bersolek paras 

sibuk berdandan, berhias 
diamnya kita, berhari-hari

juang izzul Islam wal muslimin dikebiri 

kepedulian, ditali 

keberanian, ditakut-takuti 

pejuang, dibeli 

bekal, dipreteli 
diamnya kita saat iedul qorban 

mendiamkan pengusiran 

mendiamkan pembantaian 

mendiamkan pemerkosaan 

mendiamkan penembakan 

mendiamkan pemusnaan 

tak peduli, tak rela berkorban 

tak peduli, diam bertapa dalam toleran 
Al Azhaar, 31 Agustus 2017 

Imam Mawardi Ridlwan

BISU ATAU TULI 

bisu atau tuli diamanahi kuasa 

diam membeku bagai patung dewa 

tak gunakan kuasa 

saat nestapa menimpa 

muslimin berduka 

saudara kita disiksa tiada tara

super keji, super tega 

membantai anak dan wanita 

tak ada rasa iba 

iblis syetan menjelma 
bisu atau tuli 

diam tak peduli 

hanya bertengkar berhari-hari
bisu atau tuli 

saat saudara kita inista 

para penerima kuasa 

tak upaya 

tak membela 
Al Azhaar, 1 September 2017

Imam Mawardi Ridlwan

Macan pun Tidak Mau Nerkam

BINATANG BUAS TAK DOYAN DAGING AHLUL BAYT / DZURRIYAH ROSULULLOH صلى الله عليه وسلم
Alkisah, di masa Daulah Abbasiyah, tepatnya ketika Khalifah Al Mutawakkil menjabat sebagai kepala negara, seorang wanita bernama Zainab, mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah cucu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menyebut dirinya adalah putri dari pasangan; Ali bin Abi Thalib dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma. 

.

Bagaimana mungkin ia masih hidup ketika itu? Berarti ia hidup selama dua ratus tahun lebih, karena rentang masa antara zaman nubuwah dan Daulah Abbasiyah, berkisar dua abad lamanya. 

.

Meskipun pengakuannya ini tidak masuk akal, tetapi di tengah masyarakat, Zainab merupakan orang yang cukup berpengaruh. Ia memiliki banyak pengikut. Bahkan ia mampu mengeksploitasi harta pengikutnya. Maka Khalifah Al Mutawakkil pun mengeluarkan perintah untuk mengundangnya ke istana. 

.

“Kamu ini seorang gadis dan Rasulullah telah wafat ratusan tahun yang lalu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? ” khalifah mencecar Zainab.

.

Kemudian Zainab berkata, “Sesungguhnya Rasulullah megusap kepalaku dan berdoa kepada Allah untuk mengembalikan masa mudaku setiap empat puluh tahun sekali.” 

.

Masih belum yakin dengan jawaban yang tidak masuk akal ini, Khalifah Al Mutawakkil mengumpulkam masyayikh (para tetua) keturunan Ali bin Abi Thalib, putra-putra Al-‘Abbas, segenap warga Quraisy, dan memberitahu mereka perkara Zainab yang sangat kontroversial. Dan kemudian mereka pun menyebutkan sebuah riwayat bahwa Zainab telah wafat. 

.

“Apa yang kamu katakan untuk menjawab pernyataan mereka?” khalifah kembali bertanya penuh selidik kepada Zainab.

.

“Itu riwayat palsu dan keji. Karena sesungguhnya, privasiku terjaga dari pengetahuan orang-orang. Bahkan mereka tidak tahu tentang kehidupan dan kematianku.” Zainab mematahkan tuduhan itu dengan penuh percaya diri.

.

Kemudian Khalifah bertanya kepada jama’ah yang dia kumpulkan, “Adakah kalian memiliki bukti yang dapat mengungkap tipu daya wanita ini selain riwayat yang kalian sampaikan?” Sayangnya mereka menjawab, “Tidak.” 

.

Namun beberapa saat kemudian, sebagian mereka menawarkan satu solusi untuk memecahkan masalah ini dengan mendatangkan Ali bin Muhammad bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, yang mempunyai laqob (nama panggilan) “Al-Haadi.”

.

Setelah disampaikan kepadanya apa yang sedang terjadi, Al Hadi pun menegaskan bahwa Zainab putri Ali sudah lama meninggal dengan menyebutkan tahun, bulan, dan hari kematiannya. Tetapi bukan jawaban seperti ini yang diinginkan Sang khalifah. Beliau bahkan berjanji tidak akan melepaskan Zainab sebelum membungkamnya dengan hujjah yang kuat.

.

“Jika benar dia adalah anak Fathimah”, akhirnya Ali Al Hadi kembali bersuara, berusaha mengungkap tipu daya Zainab dengan mengajukan sebuah tantangan, “Sesungguhnya jasad keturunan Fathimah tidak akan dimangsa oleh hewan-hewan buas. Maka datangkanlah hewan buas kepadanya. Dan lemparkan ia di tengah kerumunan hewan buas itu.”

.

“Tidak!” teriak Zainab yang raut wajahnya tetiba berubah ketakutan. “Ini hanyalah cara agar dia bisa membunuhku! Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya.” katanya berusaha membela diri.

.

Dengan tenang, Ali Al Hadi berkata, “Ya. Aku berani membuktikannya.” Dan beberapa saat kemudian, ia dimasukkan ke dalam sebuah kandang. Perlahan-lahan, enam ekor singa yang ada di dalam kandang itu, mendekati Ali satu per satu. Dengan lembut, tangan Ali membelai kepala singa-singa yang mendekatinya. Binatang-binatang buas itu, di hadapan Ali Al Hadi, menjadi jinak dan penurut. 

.

Begitu melihat Ali keluar dari kandang dengan selamat, dan dilihatnya dengan mata kepala sendiri sebuah pemandangan yang langka, Zainab pun hanya terdiam seribu bahasa. Dan, akhirnya, ia akui kebohongan yang selama ini ia desuskan, tipu daya yang selama ini dia mainkan. Masyarakat yang mengetahui kejadian ini, menjulukinya dengan sebutan, “Zainab Al Kadzaabah.”

.

Referensi: Al Mafakhir karya An Naisaburi. Lisan Al Mizan karya Ibnu Hajar Al ‘Asqallani. Dan Muruj Adz Dzahab karya Al Mas’udi.

Makna Diampuni Dosa Setahun yang Akan Datang

(فرع)

 قوله صلى الله عليه وسلم في يوم عرفة : { يكف السنة الماضية والمستقبلة } قال الماوردي في الحاوي : فيه تأويلان [ ص: 431 ] أحدهما ) أن الله تعالى يغفر له ذنوب سنتين . 
( والثاني ) أن الله تعالى يعصمه في هاتين السنتين فلا يعصي فيهما . وقال السرخسي : أما السنة الأولى فتكفر ما جرى فيها ، قال : اختلف العلماء في معنى تكفير السنة الباقية المستقبلة . فقال : بعضهم : معناه إذا ارتكب فيه معصية جعل الله تعالى صوم يوم عرفة الماضي كفارة لها ، كما جعله مكفرا لما في السنة الماضية . وقال بعضهم : معناه أن الله تعالى يعصمه في السنة المستقبلة عن ارتكاب ما يحتاج فيه إلى كفارة . وقال صاحب العدة في تكفير السنة الأخرى يحتمل معنيين : ( أحدهما ) المراد السنة التي قبل هذه فيكون معناه أنه يكفر سنتين ماضيتين . 
( والثاني ) أنه أراد سنة ماضية وسنة مستقبلة . قال وهذا لا يوجد مثله في شيء من العبادات أنه يكفر الزمان المستقبل وإنما ذلك خاص لرسول الله صلى الله عليه وسلم غفر الله له ما تقدم من ذنبه وما تأخر بنص القرآن العزيز . وذكر إمام الحرمين هذين الاحتمالين بحروفهما . قال إمام الحرمين : وكل ما يرد في الأخبار من تكفير الذنوب فهو عندي محمول على الصغائر دون الموبقات . هذا كلامه . 
وقد ثبت في الصحيح ما يؤيده ، فمن ذلك حديث عثمانرضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : { ما من امرئ مسلم تحضره صلاة مكتوبة فيحسن وضوءها وخشوعها وركوعها ، إلا كانت له كفارة لما قبلها من الذنوب ما لم يؤت كبيرة . وذلك الدهر كله } رواه مسلم. وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : { الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة كفارة لما بينهن ما لم تغش الكبائر } رواه مسلم . وعن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول : ” { الصلاة الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن من الذنوب إذا اجتنبت الكبائر } رواه مسلم . 
( قلت ) وفي معنى هذه الأحاديث تأويلان : ( أحدهما ) يكفر الصغائر بشرط أن لا يكون هناك كبائر ، فإن كانت كبائر لم يكفر شيئا لا الكبائر ولا الصغائر . 

Sama dgn yg diterangkan Abi ihya’ Ulumiddin sewaktu kajian di RS. Islam A. Yani hari Sabtu ke-4 tgl 26 Agustus’17 jam 07.30 beliau dawuh yang dimaksud diampuni dosa setahun kemudian adalah ia akan dijaga sama Alloh Ta’ala dari berbuat maksiat setahun yang akan datang.

Jadilah Santri yang AKAS

AKAS 

AKAS itu 

amanah, khidmad, action, sidiq 

prinsip utama saat terima tugas 
amanah itu 

tunai tugas secara lugas 

tak ditambah atau dikuras 

seadil-adinya agar pas 

dalam mengemban amanah tugas 

demikianlah amanah tertunai tuntas 

ibadah ikhlas, ridlo ilahi sebagai balas 

demikianlah amanah berbalas 
khidmad sebagai power pengabdian 

mengutamakan kebersamaan

mengabdi orang tua, guru dan persahabatan 

tanggab, prigel, dan beban kerjaan 

nyelesaikan tanggungan 

berkhidmad itu kemulyaan 

nrimo tak ngeluh atau bosan 

letih, berat, sulit tak terhiraukan 

berkhidmad itu pengorbanan 

action itu kerja nyata 

amanah tugas dipercayakan 

tak untuk diskusi atau wacana 

tak untuk dikritisi atau hanya dikira 

tak pula hanya beban derita 

amanah tugas diupaya 

tertunai sempurna 

inilah prinsip kerja, kerja, dan kerja 

tanpa henti aksi sendiri atau bersama 

aksi dari kecil hingga membahana 

tak diam, 

tak berhenti namun berkelana 
sidiq itu berkesesuain prilaku dan pitutur

jalankan tugas berbudi jujur 

sesuai alat ukur 

tak berselisih atau luntur 

lisan, hati, perbuatan dan perkataan selalu akur 

sidiq pasti mujur 

makmur 

teratur 

do’a manjur 
AKAS 

giat, tanggap, prigel 

aman, amin dan supel 

khidmad, ngabdi tiada kesel 

action kerja nyata, siapkan bekal 

sidiq, lugu apa adanya, ngak ngakal 
AKAS dalam terima tugas

gapai berkah 

Al Azhaar, 29 Agustus 2017 

Imam Mawardi Ridlwan

Qurban plus Aqiqoh

AQIQOH DI BARENGNO QURBAN

Tidak sedikit orang yang ketika menginjak usia dewasa belum diaqiqahi oleh orang tuanya. Mungkin karena belum mampu atau sebab hal lain. Saat dewasa, si anak tersebut ingin berkurban, kemudian timbul sebuah pertanyaan: bagaimana jika aqiqah mereka dibarengkan dengan kurban sekalian, apakah yang demikian sah?
Ulama Syafiiyyah berbeda pendapat menyikapi hal ini. Menurut Imam Ibnu Hajar Al Haitami, orang tersebut hanya berhasil mendapatkan pahala salah satunya saja. Sedangkan menurut Imam Romli, ia bisa mendapatkan pahala kedua-duanya. 
Maksudnya, apabila bertepatan antara tanggal 10-13 Dzulhijjah ada orang yang berkurban sekaligus niat juga beraqiqah dengan hewan yang sama berupa satu kambing (untuk wanita) atau dua kambing (untuk laki-laki) menurut Imam Romli hal ini bisa mendapatkan pahala kurban dan aqiqah. Pahalanya berlipat ganda. Tentu harus diniati dari hati orang yang berkurban itu. Apabila tidak diniati, tidak akan mendapat pahala kedua-duanya.
 (مسألة): لو نوى العقيقة والضحية لم تحصل غير واحدة عند (حج) ويحصل الكل عند (م ر)

Artinya : [Masalah] Jika ada orang berniat melakukan aqiqah dan kurban (secara bersamaan) tidak berbuah pahala kecuali hanya salah satunya saja menurut Imam Ibnu Hajar (Al Haitami) dan berbuah pahala kedua-duanya menurut Imam Romli. (Ibnu Hajar Al Haitami, Itsmidil Ain, [Darul Fikr], h:127). 
Jika mengacu pada kutipan Al Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani dari para tabi’in dalam Fathul Bari berikut ini, jelas bahwa orang yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, kemudian ia menjalankan ibadah kurban, maka kurbannya itu saja sudah cukup baginya tanpa perlu juga beraqiqah.
فتح الباري لابن حجر – (ج 15 / ص 397)

وَعِنْد عَبْد الرَّزَّاق عَنْ مَعْمَر عَنْ قَتَادَةَ ” مَنْ لَمْ يَعُقّ عَنْهُ أَجْزَأْته أُضْحِيَّته ” وَعِنْد اِبْنِ أَبِي شَيْبَة عَنْ مُحَمَّد بْن سِيرِينَ وَالْحَسَنِ ” يُجْزِئ عَنْ الْغُلَام الْأُضْحِيَّة مِنْ الْعَقِيقَة

Artinya: “Menurut Abdur Razzaq, dari Ma’mar dari Qatadah mengatakan “Barangsiapa yang belum diaqiqahi maka cukup baginya berkurban”. Menurut Ibnu Abi Syaibah dari Muhammad ibn Sirin dan al-Hasan mengatakan “Cukup bagi seorang anak kurban dari aqiqah” 
Kesimpulannya, terdapat perbedaan pendapat antara Imam Romli yang memperbolehkan satu hewan dengan diniatkan kurban dan aqiqah serta mendapatkan dua pahala sekaligus. Sedangkan menurut Ibnu Hajar Al Haitami, hanya menghasilkan pahala salah satunya saja. 
Jika ingin mengikuti kutipan Ibnu Hajar Al Asqalani, apabila penyembelihan bertepatan waktu kurban maka cukup diniatkan kurban saja. Ini akan mencukupi tuntutan sunnah aqiqah pada seseorang.

Written by cak aji hamid L.A

Qurban ta Kurban…?!?

*Fiqih Qurban, Kitab al-Majmu’ Karya Imam Nawawi (w. 676 H)*
*Hukum Qurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 383)

أما الأحكام فقال الشافعي والأصحاب التضحية سنة مؤكدة وشعار ظاهر ينبغي للقادر عليها المحافظة عليها ولا تجب بأصل الشرع.
*Apakah qurban dianjurkan juga bagi musafir?*
المجموع شرح المهذب (8/ 383)

قال الشافعي رحمه الله في كتاب الضحايا من البويطي الأضحية سنة على كل من وجد السبيل من المسلمين من أهل المدائن والقرى وأهل السفر والحضر والحاج بمنى وغيرهم من كان معه هدي ومن لم يكن معه هدي.
*Hukum Qurban Untuk Sekeluarga?*

المجموع شرح المهذب (8/ 384)

قال أصحابنا التضحية سنة على الكفاية في حق أهل البيت الواحد فإذا ضحى أحدهم حصل سنة التضحية في حقهم.
*Kapan mulai boleh Berqurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 389)

مذهبنا أنه يدخل وقتها إذا طلعت الشمس يوم النحر ثم مضى قدر صلاة العيد وخطبتين كما سبق فإذا ذبح بعد هذا الوقت أجزأه سواء صلى الإمام أم لا وسواء صلى المضحي أم لا وسواء كان من أهل الأمصار أو من أهل القرى أو البوادي أو المسافرين وسواء ذبح الإمام ضحيته أم لا. 
*Bolehkah menyembelih qurban Pada Malam Hari?*
المجموع شرح المهذب (8/ 391)

مذهبنا جواز الذبح ليلا ونهارا في هذه الأيام جائز لكن يكره ليلا وبه قال أبو حنيفة وإسحاق وأبو ثور والجمهور وهو الأصح عن أحمد وقال مالك لا يجزئه الذبح ليلا.
*Bolehkah Berqurban Dengan Selain Bahimatul An’am?*
المجموع شرح المهذب (8/ 393)

أما الأحكام فشرط المجزئ في الأضحية أن يكون من الأنعام وهي الإبل والبقر والغنم سواء في ذلك جميع أنواع الإبل من البخاتي والعراب وجميع أنواع البقر من الجواميس والعراب والدربانية وجميع أنواع الغنم من الضأن والمعز وأنواعهما ولا يجزئ غير الأنعام من بقر الوحش وحميره والضبا وغيرها بلا خلاف.
*Kriteria Hewan Yang Boleh Untuk Dijadikan Qurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 393)

ولا يجزئ من الضأن إلا الجذع والجذعة فصاعدا ولا من الإبل والبقر والمعز إلا الثني أو الثنية فصاعدا هكذا نص عليه الشافعي وقطع به الأصحاب.
*Mana Yang Afdhal Berqurban Dengan Hewan Jantan Atau Betina?*
المجموع شرح المهذب (8/ 397)

يصح التضحية بالذكر وبالأنثى بالإجماع وفي الأفضل منهما خلاف (الصحيح) الذي نص عليه الشافعي في البويطي وبه قطع كثيرون أن الذكر أفضل من الأنثى.
*Jenis Hewan Yang Utama Untuk Qurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 396)

البدنة أفضل من البقرة والبقرة أفضل من الشاة والضأن افضل من المعز فجذعة الضأن أفضل من ثنية المعز لما ذكره المصنف وهذا كله متفق عليه عندنا.
*Batasan Cacat Yg Menghalangi Sahnya Hewan Qurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 404)

أجمعوا على أن العمياء لا تجزئ وكذا العوراء البين عورها والعرجاء البين عرجها والمريض البين مرضها والعجفاء واختلفوا في ذاهبة القرن ومكسورته فمذهبنا أنها تجزئ.
*Satu Kambing Hanya Untuk Satu Orang*
المجموع شرح المهذب (8/ 397)

تجزئ الشاة عن واحد ولا تجزئ عن أكثر من واحد لكن إذا ضحى بها واحد من أهل البيت تأدى الشعار في حق جميعهم وتكون التضحية في حقهم سنة كفاية. وتجزئ البدنة عن سبعة وكذا البقرة سواء كانوا أهل بيت أو بيوت وسواء كانوا متقربين بقربة متفقة أو مختلفة واجبة أو مستحبة أم كان بعضهم يريد اللحم ويجوز أن يقصد بعضهم التضحية وبعضهم الهدي.
*Dua Orang Berserikat Membeli dua Kambing*
المجموع شرح المهذب (8/ 398)

ولو اشترك رجلان في شاتين للتضحية لم يجزئهما في أصح الوجهين ولا يجزئ بعض شاة بلا خلاف بكل حال والله أعلم.
*Mewakilkan Penyembelihan Qurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 405)

قال الشافعي والأصحاب يستحب أن يذبح هديه وأضحيته بنفسه قال الماوردي إلا المرأة فيستحب لها أن توكل في ذبح هديها وأضحيتها رجلا قال الشافعي والأصحاب ويجوز للرجل والمرأة أن يوكلا في ذبحهما من تحل ذكاته والأفضل أن يوكل مسلما فقيها بباب الصيد والذبائح والضحايا وما يتعلق بذلك لأنه أعرف بشروطه وسننه ولا يجوز أن يوكل وثنيا ولا مجوسيا ولا مرتدا ويجوز أن يوكل كتابيا وامرأة وصبيا لكن قال أصحابنا يكره توكيل الصبي.
*Batas Akhir Waktu Penyembelihan Qurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 387)

(وأما) آخر وقتها فاتفقت نصوص الشافعي والأصحاب على أنه يخرج وقتها بغروب شمس اليوم الثالث من أيام التشريق.
*Memberi Upah Tukang Jagal Dengan Sebagian Dari Heawan Qurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 420)

ولا يجوز جعل الجلد وغيره أجرة للجزار بل يتصدق به المضحي والمهدي أو يتخذ منه ما ينتفع بعينه كسقاء أو دلو أو خف وغير ذلك.

المجموع شرح المهذب (8/ 421)

قال الشيخ أبو حامد والبندنيجي والأصحاب إذا أعطى المضحي الجازر شيئا من لحم الأضحية أو جلدها فإن أعطاه لجزارته لم يجز وإن أعطاه أجرته ثم أعطاه اللحم لكونه فقيرا جاز كما يدفع إلى غيره من الفقراء والله أعلم.
*Mana Yang Afdhal Antara Qurban Dan Shadaqah Tathawwu*
المجموع شرح المهذب (8/ 425)

مذهبنا أن الأضحية أفضل من صدقة التطوع للأحاديث الصحيحة المشهورة في فضل الأضحية.
*Niat Qurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 405)

قال أصحابنا والنية شرط لصحة التضحية وهل يجوز تقديمها على حالة الذبح أم يشترط قرنها به فيه وجهان (أصحهما) جواز التقديم كما في الصوم والزكاة على الأصح.
*Berqurban Atas Nama Mayit*
المجموع شرح المهذب (8/ 406)

(وأما) التضحية عن الميت فقد أطلق أبو الحسن العبادي جوازها لأنها ضرب من الصدقة والصدقة تصح عن الميت وتنفعه وتصل إليه بالإجماع. وقال صاحب العدة والبغوي لا تصح التضحية عن الميت إلا أن يوصي بها وبه قطع الرافعي في المجرد والله أعلم.
*Membaca Basmalah Ketika Menyembelih*
المجموع شرح المهذب (8/ 408)

التسمية مستحبة عند الذبح والرمي إلى الصيد وإرسال الكلب ونحوه فلو تركها عمدا أو سهوا حلت الذبيحة لكن تركها عمدا مكروه على المذهب الصحيح كراهة تنزيه لا تحريم.
*Suna Menyembelih Dengan Menghadap Kiblat.*
المجموع شرح المهذب (8/ 408)

 استقبال الذابح القبلة وتوجيه الذبيحة إليها وهذا مستحب في كل ذبيحة لكنه في الهدي والأضحية أشد استحبابا.
*Cara Penyembelihan Qurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 408)

ويستحب أن يضجع البقر والشاة على جنبها الأيسر هكذا صرح به البغوي والأصحاب قالوا ويترك رجلها اليمنى ويشد قوائمها الثلاث.
*Hukum Memotong Rambut dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berqurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 392)

مذهبنا أن إزالة الشعر والظفر في العشر لمن أراد التضحية مكروه كراهة تنزيه حتى يضحي.
*Membaca Shalawat Ketika Menyembelih*
المجموع شرح المهذب (8/ 410)

يستحب مع التسمية على الذبيحة أن يصلي على رسول الله صلى الله عليه وسلم عند الذبح نص عليه الشافعي في الأم وبه قطع المصنف في التنبيه وجماهير الأصحاب.
*Doa Ketika Menyembelih*
المجموع شرح المهذب (8/ 410)

يستحب أن يقول عند التضحية مع التسمية اللهم منك وإليك تقبل مني. وحكى الماوردي وجها أنه لا يستحب وهذا شاذ ضعيف والمذهب ما سبق. ولو قال تقبل مني كما تقبلت من إبراهيم خليلك ومحمد عبدك ورسولك صلى الله عليهما وسلم لم يكره ولم يستحب كذا نقله الروياني في البحر عن الأصحاب. واتفق أصحابنا على استحباب التكبير مع التسمية فيقول بسم الله والله أكبر.
*Hukum Menjual Kulit/ Daging Qurban*

المجموع شرح المهذب (8/ 419)

واتفقت نصوص الشافعي والأصحاب على أنه لا يجوز بيع شئ من الهدي والأضحية نذرا كان أو تطوعا سواء في ذلك اللحم والشحم والجلد والقرن والصوف وغيره.
*Waktu Menyembelih Bagi Yg Berqurban Lebih Dari 1 Ekor.*
المجموع شرح المهذب (8/ 424)

من ضحى بعدد من الماشية استحب أن يفرقه على أيام الذبح فإن كان شاتين ذبح شاة في اليوم الأول وأخرى في آخر الأيام وهذا الذي قاله وإن كان أرفق بالمساكين فهو ضعيف مخالف للسنة الصحيحة فقد ثبتت الأحاديث الصحيحة أن النبي صلى الله عليه وسلم (نحر مائة بدنة أهداها في يوم واحد وهو يوم النحر فنحر بيده بضعا وستين وأمر عليا رضى الله عنه ينحر تمام المائة) فالسنة التعجيل والمسارعة إلى الخيرات والمبادرة بالصالحات إلا ما ثبت خلافه.
*Makan Daging Qurban*
المجموع شرح المهذب (8/ 414)

فللأضحية والهدي حالان (أحدهما) أن يكون تطوعا فيستحب الأكل منهما ولا يجب بل يجوز التصدق بالجميع هذا هو المذهب وبه قطع جماهير الأصحاب وهو مذهب عامة العلماء. وفي القدر الذي يستحب أن لا ينقص التصدق عنه قولان (القديم) يأكل النصف ويتصدق بالنصف (والأصح) الجديد قال الرافعي واختلفوا في التعبير عن الجديد فنقل جماعة عنه أنه يأكل الثلث ويتصدق بالثلثين ونقل المصنف وآخرون عنه أنه يأكل الثلث ويتصدق بالثلث على المساكين ويهدي الثلث إلى الأغنياء أو غيرهم وممن حكى هذا الشيخ أبو حامد ثم قال أبو حامد ولو تصدق بالثلثين كان أفضل. (الحال الثاني) أن يكون الهدي أو الأضحية منذورا قال الأصحاب كل هدي وجب ابتداء من غير التزام كدم التمتع والقران وجبرانات الحج لا يجوز الأكل منه بلا خلاف.

Puasa Tarwiyyah & Arofah

Hari Tarwiyah adalah hari ke-8 bulan Dzulhijjah. Disebut tarwiyah karena pada waktu itu air sangat melimpah. Sedangkan hari ke-9 Dzulhijjah dinamakan Hari Arofah, karena pada hari itu diwajibkan bagi jamaah haji untuk wukuf di Arofah. Jika dilanjutkan, hari ke-10 Dzulhijjah dinamakan Hari Nahr atau Hari Qurban, hari ke-11 disebut Hari Maqorr (menetap di Mina), hari ke-12 Nafar Awal, dan hari ke-13 Nafar Tsani. (Hasyiyah al-Bujairami ala al-Manhaj, VI, 137)

Puasa Tarwiyah dianjurkan bagi yang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji, bahkan beserta tujuh hari sebelumnya, yaitu tanggal 1-7 Dzulhijjah. Sedangkan puasa Arofah hanya disunnahkan bagi yang tidak berhaji.

Keutamaan dua puasa ini disebutkan dalam sebuah hadits.

صَومُ يَوْمِ التَّرْوِيَّةِ كَفَّارَةٌ سَنَةً وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةٌ سَنَتَيْنِ

Puasa Hari Tarwiyah menghapus dosa setahun, dan puasa Hari Arofah menghapus dosa dua tahun. (Jamiul Ahadits, XIV, 34)

Niat puasa Tarwiyah dan Arofah adalah sebagai berikut.

نويتُ صومَ تَرْوِيَة سُنّةً لله تعالى

Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Alloh Ta’ala

نويتُ صومَ عرفة سُنّةً لله تعالى

Saya niat puasa Arofah, sunnah karena Alloh Ta’ala

Ketika Hari Raya Pas Hari Jum’at…!?!

بسم الله الرحمن الرحيم
Kondisi masyarakat dahulu pada zaman Rasulullah _Shallallahu ‘alayhi wa Sallam_ sangat berbeda dengan saat ini. Masyarakat dahulu yang tinggal di pedalaman atau penduduk kampung yang jauh di dalam kitab Fiqh disebutkan _Ahlul ‘Aliyah dan Ahlus Sawad_ , mereka akan merasa lelah jika harus bolak balik ke masjid dan bisa terlambat shalat Jum’at. Sebagian sahabat dahulu juga ada yang memilih menunggu sejak usai shalat id sampai shalat Jum’at, baru kembali ke desa mereka dan sebagian lainnya kembali kedesa mereka, tentunya beda dengan kondisi saat ini, kemanapun tiada kesulitan dan masjid ada dimana-mana.
Didalam madzhab Syafi’iyah, ketika hari raya bersamaan hari Jum’at, tetap tidak menggugurkan shalat Jum’at. Kecuali memang bagi penduduk pedalaman karena kondisi tertentu. Terkait dengan penduduk pedalaman ini, Imam Nawawi _rahimahullah_ didalam kitabnya _*Raudlatuth Thalibin*_ mengatakan:

_“Ketika hari raya bersamaan dengan hari Jum’at; penduduk sebuah desa (أهل القرى) yaitu mereka yang mendengar seruan shalat ‘Ied dan mereka tahu bahwa jika mereka membubarkan diri (pulang ke rumah setelah shalat ‘Ied, penj) pasti mereka akan terlambat shalat Jum’at, maka bagi mereka diperbolehkan membubarkan diri (meninggalkan masjid dan kembali ke rumah, penj) serta meninggalkan shalat Jum’at pada hari itu, berdasarkan pendapat yang shahih yang ter-nas dalam qaul Qadim dan Jadid. Adapun pendapat yang menyimpang (syadz) menyatakan tetap wajib bertahan di masjid”_.
Imam Al Imrani didalam kitab _Al Bayan fi Madzhab al-Imam al-Syafi’i_ mengatakan: 

_“Jika ‘Ied bersamaan dengan Jum’at, tetap wajib melaksanakan shalat Jum’at bagi penduduk kota (أهل المصر) dan shalat Jum’at tidak gugur hanya karena sebab melaksanakan ‘Ied, inilah pendapat aktsarul Fuqaha’_. (mayoritas ahli fiqh).
Jadi, didalam madzhab Syafi’iyah yang shahih, shalat Jum’at tidak gugur bagi penduduk suatu wilayah (أَهْل الْبَلَدِ), sedangkan penduduk yang dari desa lain (أَهْل الْقُرَى) ; ada yang mengatakan tidak ada pengecualian, namun pendapat yang rajih (dikuatkan) adalah gugur bagi mereka sehingga jika mereka sudah shalat ‘Ied maka boleh bagi mereka meninggalkan Jum’at, namun tetap shalat Dhuhur.
_*Makna Hadits Kebolehan Meninggalkan Jum’at Bagi “Man Sya-a”*_
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَم قَالَ: صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ
Dari Zayd bin Arqam ra: _“Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam melaksanakan shalat Ied (pada suatu hari Jumat) kemudian beliau memberikan rukhshah dalam shalat Jumat._ 

Kemudian Nabi bersabda : _Barangsiapa yang berkehendak (ingin kembali shalat Jum’at, penj), hendaklah dia shalat”._ 

(HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Al Hakim, Al Baihaqi)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:قَدِاجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ
Dari Abu Huraiah ra, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda: _“Sungguh telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Maka barangsiapa berkehendak, cukuplah baginya shalat hari raya itu, tak perlu shalat Jumat lagi. Dan sesungguhnya kami akan mengerjakan Jumat.”_ (HR. Abu Dawud)
Di dalam hadits diatas, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam memberikan pilihan, _rukhsoh_ (dispensasi)  bagi yang sudah melaksanakan shalat ‘Ied. Namun, _*ditujukan kepada siapakah rukhsoh tersebut?*_. Rukhsoh tersebut hanya ditujukan kepada penduduk diluar kota atau penduduk pedalaman, bukan penduduk setempat.
Imam al-Syafi’i rahimahullah didalam kitabnya _Al Umm_, dan disebutkan juga oleh Imam Al Baihaqi didalam _Ma’rifatus Sunani wal Atsar_, menuturkan bahwa Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ia berkata : 
اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: من أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ مِنْ أَهْلِ الْعَالِيَةِ فَلْيَجْلِسْ في غَيْرِ حَرَجٍ
_“Telah berhimpun dua hari raya pada masa _Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam,_ beliau bersabda: _“barangsiapa yang suka untuk duduk (tidak shalat Jum’at, penj) bagi ahlul ‘Aliyah (penduduk desa/pedalaman, penj), maka tetaplah duduk tanpa menanggung dosa”_.
عَنْ أَبِيْ عُبَيْدٍ مَوْلىَ ابْنِ أَزْهَرَ قَالَ: شَهِدْتُ الْعِيدَ مع عُثْمَانَ بن عَفَّانَ فَجَاءَ فَصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَخَطَبَ فقال إنَّهُ قد اجْتَمَعَ لَكُمْ في يَوْمِكُمْ هذا عِيدَانِ فَمَنْ أَحَبَّ من أَهْلِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ فَلْيَنْتَظِرْهَا وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَلْيَرْجِعْ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ
“Dari Abu Ubaid, ia berkata : Aku menyaksikan shalat ‘Ied bersama Sayyidina Utsman bin Affan, beliau datang kemudian shalat, lalu ia pindah dan berkhutbah, ia berkata: _“ Sesungguhnya telah berkumpul bagi kalian pada hari ini yaitu dua hari raya, maka barangsiapa dari ahlul ‘Aliyah (penduduk desa/pedalaman, penj) yang suka untuk menunggu shalat Jum’at maka menunggulah, dan barangsiapa yang ingin kembali (ke desanya, penj), maka kembalilah, sungguh aku mengizinkannya”._
Kemudian didalam _Ma’rifatus Sunani wal Atsar_ disebutkan juga bahwa Imam Syafi’i berkata didalam satu riwayat Abu Sa’id:
_“Tidak boleh ini diterapkan pada seorang penduduk kota, dan hadits harus dibawa atas pengertian bagi orang yang hadir shalat ‘Ied dari selain penduduk kota, mereka boleh kembali/ pulang ke desa mereka jika mereka mau dan tidak kembali (ke kota/masjid) untuk shalat Jum’at, dan sebuah pilihan bagi mereka untuk tetap bertahan hingga shalat Jum’at jika merek mampu”_.
Didalam Al Ummu, Imam Syafi’i juga mengatakan hal yang sama : 
_“Tidak boleh ini bagi seorang pun dari penduduk kota tidak kembali untuk melaksanakan shalat Jum’at kecuali disebabkan ada udzur yang membolehkan meninggalkan Jum’at, meskipun hari raya”_.

Copast KH. Damanhuri Penulis Buku Akidah Kaum Santri 
والله يتولى الجميع برعايته

Dzikir & Wirid Ijazah Al-Habib Abu Bakar Gresik

Beliau jg pernah berkata “Aku adalah Ahluddarak,barang siapa yang memohon pertolongan ALLAH melaluiku, maka dengan izin ALLAH aku akan membantunya, barang siapa yang berada dalam kesulitan lalu memanggil-manggil namaku maka aku akan segera hadir di sisinya dengan izin ALLAH.”
Ijazah beliau :
Dalam acara rutinan rauhah 3 Jumadal Ula, 1355 H. Pada acara rauhah di Kediaman beliau di Gresik, al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf menuntun orang-orang yang hadir di acara tersebut dengan kalimat jalalah berikut ini:
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَوْجُودْ فِيْ كُلِّ زَمَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْبُودْ فِيْ كُلِّ مَكَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَذْكُورْ بِكُلِّ لِسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْرُوفْ بِاْلاِحْسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْن
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْأَمَانْ اَلْأَمَانْ مِنْ زَوَالِ الْاِيْمَانْ
وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانْ، يَا قَدِيْمَ الْاِحْسَانْ
كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانْ،
اِحْسَانُكَ الْقَدِيمْ ,يَا حَنَّانْ يَا مَنَّانْ،
يَا رَحِيمُ يَا رَحْمنْ, يَا غَفُورُ يَا غَفَّارْ، اِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينْ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Setelah beliau menuntun hadirin dengan dzikir di atas beliau bercerita: 
”Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang sholeh dia adalah al-Qodhi Abdullah al-Baghdadiy. Dia berkata : “Aku pernah melihat Nabi Muhammad shalallahu a’laihi wa sallam di dalam mimpi dan beliau terlihat pucat sekali lalu aku berkata kepada Nabi Muhammad shalallahu a’laihi wa sallam : “Kenapa engkau wahai Nabi, wajah engkau pucat sekali ?” 
Lalu Nabi Muhammad shalallahu a’laihi wa sallam menjawab : “Di malam ini telah meninggal 1.500 orang dari ummat-KU, dua dari mereka meninggal dalam keadaan iman dan sisanya meninggal tanpa membawa iman (su’ul khotimah).” 
Aku berkata lagi kepada Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam : “lalu apa kiat-kiat dari engkau untuk orang-orang yang bermaksiat agar mereka meninggal dengan membawa iman?” Nabi Muhammad sholallohu a’laihi wa sallam berkata: “Ambilah kertas ini dan baca shalallahu a’laihi wa sallam, siapa orang membacanya dan membawanya lalu dia memindah dari satu tempat ke tempat yang lain ( menyebarkan dan mengajarkan ) maka termasuk dari golongan-KU dan akan meninggal dalam keadaan membawa iman, akan tetapi siapa orang yang telah mendengarkannya dan dia tidak membacanya, tidak menyebarkannya maka dia lepas dari aku dan akupun lepas darinya.” Seketika itu aku langsung terbangun dari tidurku dan aku lihat kertas tersebut yang telah ada di genggamanku ternyata di dalamnya berisi tulisan yang penuh barokah, tulisan tersebut adalah :
بسم الله الرحمن الرحيم
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَوْجُودْ فِيْ كُلِّ زَمَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْبُودْ فِيْ كُلِّ مَكَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَذْكُورْ بِكُلِّ لِسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْرُوفْ بِاْلاِحْسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْن
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْأَمَانْ اَلْأَمَانْ مِنْ زَوَالِ الْاِيْمَانْ
وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانْ، يَا قَدِيْمَ الْاِحْسَانْ
كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانْ،
اِحْسَانُكَ الْقَدِيمْ ,يَا حَنَّانْ يَا مَنَّانْ،
يَا رَحِيمُ يَا رَحْمَانْ, يَا غَفُورُ يَا غَفَّارْ، اِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينْ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Berkah beliau semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang husnul khotimah dan kelak dikumpulkan bersama sayyidi ahlil jannah Rosululloh sholallohu alaihi  Wasallam. Amin…Aamiin…. Aamiinn