تحرير النية  ؛ Memperbaharui Niat   Wujud Mahabbah Fillaah 


​تحرير النية

Wujud Mahabbah Fillaah
 

24 Syawwal 1438 H.

 19 Juli 2017 M.
Taushiyah Abi
(KH. M. Ihya’ Ulumiddin)
Memperbarui niat, sejatinya merupakan sebuah bentuk perwujudan pemenuhan janji kita & cinta kita pada Alloh. Itu juga merupakan manivestasi janji kita pada diri kita sendiri. 
Sebagaimana yang selama ini telah kita dapatkan bimbingan Alloh melalui guru kita semua, Abuya As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawy Al-Maliky Al-Hasani. Hingga dengannya menghantarkan semua jiwa kita pada rasa cinta karena Alloh (Al-Mahabbah Fillah).

Sebagaimana telah disampaikan Alloh dalam surat Al-Maidah ayat 35,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
Dalam Ayat lain, Alloh memberikan sebuah keterangan pada kita bahwa manusia terbagi menjadi 3 golongan,

1. Sabiqun bilkhoirot

2. Muqtashid

3. Dholim Linafsih
Nafsu pun dalam diri manusia terdapat 3 golongan,

1. Nafsu Lawwamah

2. Nafsu Ammaroh

3. Nafsu Muthmainnah
Yang menjadi pertanyaan kemudian, dimanakah level diri kita…? di golongan mana kita akan dimasukkan Alloh ke dalamnya?

Dari itulah, harapan kita secara berjamaah dalam mencari ridloNya, menjadi sebuah jalan yang menjadikan kita menjadi pribadi yang sesuai harapanNya.
Dasar dan asli makna “Takwa” dalam ayat tersebut di atas, tiada lain adalah tiadanya sikap menyekutukan Alloh. Setelah itu kemudian, bagaimana pribadi kita melakukan beragam amal sholih sebagai bentuk ketaatan dan pencarian “Washilah”. Amal sholih yang dilakukan secara rutin, entah secara pribadi maupun secara jama’i (berjamaah). Karena salah satu amal yang paling disukai Alloh adalah amal istiqomah meski hal tersebut hanya sedikit.

Sabda Rosul,

“Paling disukainya amal di hadapan Alloh, adalah yang terus-menerus, meski hanya sedikit”.
Dari hal itulah, kita temukan kemudian pribadi-pribadi shohabat yang memiliki amal-amal rutin dan istiqomah. Sayyidina Bilal, dengan wudlu’nya. Sayyidina Mu’awiyah dengan surat Al-Ikhlasnya, dll.
Poin berikutnya dalam bahasan ayat tersebut yaitu Jihad Fi Sabilillah. Jihad dalam artian luas, berupa amal dalam meneruskan estafet perjuangan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Jika dalam sholat jamaah, Alloh menilai ibadah tersebut karena “jamaahnya”, bukan karena kesempurnaan pribadi masing-masing pelakunya, maka mudah-mudahan Alloh berikan pula pada kita sebagai orang-orang yang memantapkan hati untuk belajar dan memperdalam ilmu Islam dan menyebarkannya, nadhroh (pandangan) rahmat secara berjamaah. Bukan karena seorang figur atau personal yang mungkin lebih mumpuni dalam melaksanakannya. Menilik pada sebuah sabda Rosul, bahwa setiap orang yang mengambil peran dalam sebuah peperangan, maka sejatinya ia telah ikut berperang. Dan terhitung sebagai orang yang berperang.
Keyakinan kita, bahwa pertemuan kita dan langkah berjamaah yang kita lakukan merupakan sebuah rahmat yang sengaja Alloh berikan pada kita. Berupa pertautan hati (Ta’liful Qulub) yang dilandaskan pada rasa cinta karena Alloh (Al-Mahabbah Fillah). Karena itulah, besar kiranya harapan agar nikmat dan rahmat tersebut kita jaga dengan sangat baik.
Terdapat riwayat, bahwa ada 3 Kelompok manusia yang akan dihadapkan pertama kali di hadapan Alloh saat hari kiamat,

1. Orang Alim

Alloh tanyakan padanya, untuk apa dia mengajar (apa niatnya), ia menjawab, “UntukMu ya Alloh”. Namun ternyata Alloh menjawab, “Kau Bohong, kau mengajar hanya agar kau dipandang ‘Alim oleh orang lain”

2. Orang kaya

Alloh tanyakan padanya, untuk apa harta yang ia miliki, ia habiskan untuk apa. ia menjawab, “UntukMu ya Alloh, untuk perjuangan di jalanMu”. Namun ternyata Alloh menjawab, “Kau Bohong, kau menginfakkan hartamu hanya agar kau dipandang dermawan oleh orang lain”

3. Mujahid Fi Sabilillah

Alloh tanyakan padanya, untuk apa dia berjuang di jalan Alloh, ia menjawab, “UntukMu ya Alloh”. Namun ternyata Alloh menjawab, “Kau Bohong, kau berjuang hanya agar kau dipandang pemberani oleh orang lain”
Hanya karena “niat” salah dan rusak, apa yang dilakukan oleh 3 kelompok berjasa tersebut menjadi sia-sia. Apalagi hanya sekedar kita yang belum tentu amal perbuatan kita bermanfaat dan dipandang baik di hadapan Alloh.
Tahrirun-Niyah, perbaikan dan pelurusan niat inilah yang kemudian menjadikan seorang mukmin masuk dalam golongan orang-orang yang jujur (Shodiqin). Dan termasuk golongan orang-orang yang beruntung karena kejujurannya. Sebagaimana disampaikan Rosul dalam sebuah riwayat,
أفلح إن صدق
“Dia pasti beruntung bila ia jujur”
Karena pentingnya niat inilah, setiap ulama ahli hadits, pasti memulai karya-karya beliau dengan Bab Niat. Dan memulai ajarannya dengan riwayat hadits,

“Sesungguhnya setiap amal dilandaskan pada niat (yang menyertainya)”.
Para shohabat di bawah bimbingan Rosul, mendapatkan bimbingan dan latihan berat dalam bahasan niat ini sendiri. Hingga untuk itu Rosululloh memberikan perhatian tinggi terkait dengan niat Hijrah yang akan mereka lakukan. Apakah hijrahnya murni untuk Alloh dan RosulNya, ataukah hijrahnya bukan karena Alloh. Entah karena dunia yang ia cari ataukah untuk wanita yang ia nikahi. Karena dalam penilaiannya di hadapan Alloh, hal tersebut akan berbeda jauh. Jika karena Alloh, tentunya balasan besar akan ia terima kelak. Entah di dunia maupun di akhirat. Jika bukan karena Alloh, tentunya apa yang akan dia dapatkan hanya apa yang menjadi landasan niatnya. Tiada hal lain dari Alloh.
Mudah-mudahan saja, apa yang kita lakukan saat ini dilandaskan pada niat karena mengharap cinta, rahmat dan keridloan dariNya.
Dalam sebuah kaedah, para ulama mengajarkan pada kita bahwa,

“Dengan niat sholih, segala adat kebiasaan kita akan bernilai sebuah peribadatan”
Sebuah solusi dari aplikasi kewajiban kita dalam firmanNya,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzaariyaat: 56)
Memberikan sebuah pengertian pada kita, bahwa segala amal perbuatan yang kita lakukan di dunia ini, sudah seyogyanya untuk selalu bernilai ibadah. Dan bentuk peribadatan itu, hanya akan bisa dilakukan jika bisa kita sambungkan terus padaNya. Kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun. Entah dalam pelaksanaan ibadah mahdloh, yang tata caranya diatur langsung oleh Alloh. Ataupun dalam pelaksanaan ibadah ghoiru mahdloh. Makan, akan bernilai ibadah jika diawali dengan basmalah. Lari pagi, akan bernilai ibadah jika diniatkan agar sehat jasmani dalam melakukan ketaatan padaNya. Dan bahkan tidur, akan bernilai ibadah jika diawali dengan sunnah-sunnah RosulNya dan diniatkan istirahat untuk bersiap khidmah dan berjuang keesokan harinya.
Dan puncak dari ibadah itu semua, adalah saat setiap pergerakan kita, bisa mengikuti, mencontoh dan mewujudkan akhlak dari akhlak Alloh. Yaitu sifat Ar-Rohman (Maha Pengasih) dan Ar-Rohim (Maha Penyayang). Menyebarkan kasih sayang dan rahmat dalam hati setiap makhluk Alloh. Menyenangkan mereka, tidak kemudian menyusahkan dan mempersulitnya. Karena itu, tidak ada kebaikan dalam ilmu seseorang, jika dengan ilmu tersebut membuat hatinya mengkotak-kotakkan manusia lain dan melevel-levelkan mereka. Menganggap bahwa sebagian orang, tidak sama dan sederajat dengannya dalam sisi keilmuan maupun ketaatan. Karena merupakan sebuah hal yang sangat berbahaya, jika ilmu yang dimiliki bukan kemudian menghantarkan seseorang pada tingginya rasa takut pada Alloh, malah sebaliknya menghantarkan pada kesombongan dan peremehan pada manusia lainnya. Inilah kesalahan niat yang paling fatal.
Padahal jika kita coba kaji, sejatinya ilmu yang kita miliki hanyalah secuil dari ilmu Alloh yang tidak berarti. Ilmu tersebut tidak akan pernah mengalahkan wahyu yang Alloh turunkan pada para NabiNya. Ilmu itu tidak akan pernah bisa menyamai keilmuan yang Alloh ilhamkan pada hamba-hambaNya yang sholih. Di kondisi inilah, kerusakan niat dalam hati seorang hamba seringkali terjadi. Dan kerusakan niat inilah yang bisa menghantarkan pada sebuah bencana besar yang sangat berbahaya. Rosul telah memperingatkan pada kita terkait hal tersebut dalam sabdanya,

“Barangsiapa yang mencari ilmu untuk berdebat dengan orang bodoh, bersaing dengan ulama, dan mengarahkan pandangan manusia padanya, maka bersiap-siaplah untuk menempati tempatnya di neraka”.
Di pesantren, kita temukan sebuah perbedaan mencolok dari institusi lain di negara kita dalam pendidikan. Di pesantren tidak akan kita temukan pengarahan kejuruan pada pembekalan murid dalam menghadapi kehidupan setelah masa pendidikan mereka. Semua materi yang diajarkan sama. Tidak seperti yang diajarkan di universitas atau institusi lainnya yang langsung mengarahkan anak didik pada konsentrasi pengembangan bakatnya. Hal ini merupakan sebuah aplikasi pelurusan dan perbaikan niat. Bahwa tujuan pendidikan, adalah membentuk karakter manusia yang berakhlak dan bermental baik. Bukan membentuk mereka untuk memiliki kemampuan satu dan lainnya. Di pesantren inilah, santri dilatih bagaimana mereka bisa benar-benar memperdalam ilmu dengan tujuan “Tholabul ‘Ilmi”, bukan dengan tujuan mencari pekerjaan atau mencari keuntungan.
Dalam sebuah kesempatan, Abuya (assayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliky Al-Hasany) memberikan isyarat pada seluruh santrinya, tanda bahwa seseorang pantas untuk mengajar, adalah saat beliau memakaikan imamah (surban) pada santri tersebut. Dan alhamdulillah, Abi (KH. Muhammad ihya’ Ulumiddin) mendapatkan keistimewaan tersebut sebanyak 3x. Namun saat setelah penganugerahan tersebut, imamah yang dipakaikan Abuya tidak pernah beliau gunakan lagi karena takut rusaknya niat tulus beliau dalam mengajar. Maa Syaa Alloh…
Di sebuah daerah, terdapat seorang Kyai yang dikenal dengan panggilan Kyai Mad Akik. Karena saat sebelum beliau berjuang dalam dakwah, beliau dikenal sebagai pedagang akik. 
Saat kemudian beliau memutuskan untuk fokus berjuang dakwah menyebarkan ajaran Alloh, beliau sampaikan pada segenap staf, guru dan asatidznya,

“Saat ini kita dalam perjuangan besar berdakwah di jalan Alloh, jangan ada satupun dalam jamaah kita yang memiliki niat mencari penghidupan ataupun keuntungan”.
Abi pun memiliki visi seperti beliau dalam melaksanakan dakwah ini. Salah satu dari doa beliau demi menjaga keutuhan kejamaahan dakwah ini yaitu:
“Jika ada yang salah niat dan mencari keuntungan serta penghidupan dalam jamaah ini, mudah-mudahan gak kerasan”.
Segenap syukur sudah seharusnya kita panjatkan. Bahwa jamaah yang kita ikuti ini merupakan jamaah luar biasa yang tiada lain di bawah pengawasan dan bimbingan Abuya As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawy Al-Maliki Al-Hasani, salah seorang cucu baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.
 Pembimbing yang kita ikuti bukan karena pengkultusan yang selama ini selalu didengungkan orang-orang yang iri, tapi lebih pada karena kita berusaha untuk selalu bersama orang-orang Shodiq (jujur) yang selalu berusaha menjaga niatnya dalam setiap amal. Dan lebih karena pada keyakinan kita, bahwa beliau adalah orang sholih yang sangat dekat dengan Rosululloh, hingga untuk setiap kegiatan yang akan beliau lakukan, beliau pasti menunggu isyarat dan jawaban keridloan dari sang kakek, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.
Sebagaimana dikisahkan oleh Abi dalam sebuah kesempatan, bahwa Abi  pernah menyampaikan pada Abuya As-Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, putra dari Abuya Muhammad, bahwa murid-murid beliau di Indonesia sangat rindu dan mengharap kedatangan beliau ke tanah Jawa (Indonesia). Jawaban beliau saat itu, “Aku belum mendapatkan isyarat (jawaban/izin) untuk hal itu”. Dan isyarat yang dimaksud tiada lain adalah jawaban atau izin dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.
-Taklim Pagi-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s