Perbedaan USHUL dan FURU’, Mana yang Suka Dibikin Rame?

Perbedaan ada yang tiap varian pendapat memiliki dalil atau dasar syariat, ada pula yang satu pendapat berdasarkan standar syariat sedangkan yang lain tidak demikian. 
Ulama ada yang menyebut jenis perbedaan pertama dengan istilah _ikhtilaf tanawwu’_ dan kedua dengan istilah _ikhtilaf tadhadh._ Ada pula yang mengistilahkan dengan ikhtilaf di bidang furu’ dan ushul. 
Secara eksplisit, perbedaan jenis pertama _(tanawwu’)_ lebih baik dari yang kedua _(tadhadh),_ karena orang atau pihak yang terlibat dalam perbedaan memiliki argumen atau dalil yang mendasari pendapatnya. 
Contoh perbedaan tanawwu’ atau furu’iyah adalah bacaan iftitah dalam shalat, takbir-takbir shalat ‘Id, qunut shalat Subuh, tawassul, keberadaan bid’ah hasanah, konsep tentang tradisi yang berkembang di tengah masyarakat, dan sebagainya. Senarai pendapat dalam aspek-aspek tersebut berdasarkan pada dalil dan argumentasi.
Namun di tengah masyarakat, antara ikhtilaf ushul dan furu’ itu, jenis perbedaan manakah yang sering dibikin rame? 
Sayangnya, di tengah internal umat Islam justru perbedaan jenis _tanawwu’_ atau _furu’iyah_ itulah yang banyak menyebabkan terjadinya permusuhan, perpecahan, dan kebencian.
Shadruddin Abul ‘Izz al-Dimasyqi al-Hanafi dalam _Syarh al-‘Aqidah al-Thahawiyyah_ menjelaskan:
*وَأَكْثَرُ الاِخْتِلاَفِ الذِي يَئُوْلُ إِلَى الأَهْوَاءِ بَيْنَ الأُمَّةِ – مِنَ القِسْمِ الأَوَّلِ، وَكَذَلِكَ إِلَى سَفْكِ الدِّمَاءِ وَاسْتِبَاحَةِ الأَمْوَالِ وَالعَدَاوَةِ وَالبَغْضَاءِ.*

 

_“Kebanyakan perbedaan yang memancing hawa nafsu di tengah umat adalah jenis pertama (tanawwu’ atau furu’iyah). Demikian pula – perbedaan tersebut – telah memancing pertumpahan darah, penghalalan harta benda, permusuhan, dan kebencian.”_
Mengapa bisa demikian? Ulama dari abad ke-8 Hijriyah itu menjelaskan beberapa penyebabnya sebagai berikut. 
*لِأَنَّ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ لاَ تَعْتَرِفُ لِلأُخْرَى بِمَا مَعَهَا مِنَ الحَقِّ، وَلاَ تُنْصِفُهَا، بَلْ تَزِيْدُ عَلَى مَا مَعَ نَفْسِهَا مِنَ الحَقِّ زِيَادَاتٌ مِنَ البَاطِلِ، وَالأُخْرَى كَذَلِكَ. وَلِذَلِكَ جَعَلَ اللهُ مَصْدَرَهُ البَغّيَ فِي قَوْلِهِ {وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ} [البقرة: 213]. لِأَنَّ البَغْيَ مُجَاوَزَةُ الحَدِّ، وَذِكْرُ هَذَا فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ مِنَ القُرْآنِ لِيَكُوْنَ عِبْرَةً لِهَذِهِ الأُمَّةِ.*
_“Penyebabnya adalah karena salah satu dari dua kelompok tidak mengakui kebenaran kelompok lain, tidak bersikap obyektif, bahkan selain mengklaim sebagai pihak yang benar, satu kelompok menambahinya dengan kebatilan-kebatilan. Kelompok kedua juga bersikap sama. Oleh karena itu, Allah menyebutkan bahwa penyebabnya adalah kedengkian. Allah berfirman (yang artinya): “Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 213). Kedengkian itu melampaui batas. Hal ini disebutkan lebih dari satu kali dalam al-Qur’an, agar menjadi pelajaran bagi umat ini._ _(Syarh al-Aqidah al-Thahawiyah,_ hal. 782)
Keterangan al-Dimasyqi itu sangat jelas dalam menganalisa mengapa perbedaan furu’iyah justru menyebabkan permusuhan dan perselisihan. 
Penyebab pertama adalah sikap tidak obyektif dan tidak mengakui bahwa kelompok lain juga memiliki argumentasi untuk amaliah dan pendapatnya. Kedua, karena kedengkian!
💫💫💫💫
*وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ*
_“… dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.”_ (QS. Al-Hasyr [59]: 10)

Wallohu al-Musta’an.
Faris Khoirul Anam 

(Aswaja NU Center Jawa Timur)

Iklan

Antara Santri & Murobbi

KADAR KEBERKAHAN ILMU TERGANTUNG KADAR AKHLAKNYA MURID TERHADAP GURUNYA:
Kalam Hikmah :

AL IMAM AL HABIB ALI BIN HASAN AlALTAS. Beliau berkata :
ان المحصول من العلم والفتح والنور اعني الكشف للحجب،  على قدر الادب مع الشيخ وعلى قدر ما يكون كبر مقداره عندك  يكون لك ذالك المقدار عند الله  من غير شك
” Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (terbukanya hijab-hijab batinnya), adalah sesuai kadar adabmu terhadap gurumu. 
Seberapakah kadar besarnya gurumu di hatimu… 

Maka seperti itu pulalah kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu “. 

(Manhajus Sawiy).
Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa :

” Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekuranganya.dan tidak seorangpun yang menyampaikan kekurangan guruku  kepadaku “. 

(Lawaqihul Anwaaril Qudsiyyah).
Beliau juga pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzib :
“عقوق الوالدين تمحوه التوبة  وعقوق الاستاذ لا يمحوه شيء البتة”.
” Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu (gurumu) tidak ada satupun yang dapat menghapusnya “.
AL IMAM AL HABIB  ABDULLAH BIN ALWI AL HADDAD berkata :

“Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. 

Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali “. 

(Adab Sulukil Murid).
Ada seorang murid yag sedang menyapu madrasah gurunya, tiba2 Nabi Khidir mendatanginya.

Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan tidak mengajak bicara Nabi Khidhir.
Maka Nabi Khidhir berkata : 

“Tidakkah kau mengenalku ?!”
Murid menjawab : 

“Ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir”.
Nabi Khidhir berkata : 

“Kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?!”.
Murid menjawab : 

“Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu”. 

Kalam ( AL IMAM AL  HABIB IDRUS  AL HABSYI ).
AL IMAMA AL HABIB ABDULLAH BIN ALWI AL HADDAD berkata :

“Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya :

“perintahkan aku ini …

berikan aku ini …
Kenapa tidak boleh, karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. 

Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya”.

(Ghoyatul Qashad Wal Murad)
Para ulama ahli hikmah berkata :

“Barangsiapa yang mengatakan “kenapa..?” kepada gurunya.

Maka dia tidak akan bahagia selamanya “.

(Al- Fataawal Haditsiyyah).
Para ulama hakikat  berkata :

” 70% ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan antara murid dengan gurunya.

••••••••••••••••••

العلم بالتعلم  والبركة بالخدمة

Ilmu diperoleh dengan belajar

Berkah diraih dengan khidmah.

••••••••••••••
Semoga Allah Senantiasa Menjaga dan memberikan kesehatan Bagi Guru guru kita…
Aamiin. 

_______
*فمن تأذى منه أستاذه يحرم بركة العلم ولا ينتفع بالعلم إلا قليلا.*
_Barang siapa melukai hati sang gurunya, berkah ilmunya tertutup dan hanya sedikit kemamfaatannya._
Semoga Bermanfaat… 
‎يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق
Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh…
والله يتولى الجميع برعايته

Ketinggalan Sholat Jum’at

Bismillah

Siang ini Achmad Qowim Syibly Abu Arovah kirim pertanyaan via W.A isinya:

Hukum sholat jum’at lek nambah pripun?
Maka agar lebih jelas lagi kiranya pertanyaannya bisa dengan ungkapan bagaimana caranya jika seseorang itu ketinggalan rokaat dalam sholat Jum’at?

Jawaban dari permasalahan diatas diperinci sebagai berikut :

1. Apabila makmum yang ketinggalan satu roka’at sholat jum’at bersama imam tersebut telah mengikuti imam pada saat rukuk dan tuma’ninah, yang berarti ia telah dianggap mengerjakan satu rokaat sholat jum’at bersama imam, maka ia cukup menambahkan satu rokaat lagi setelah imamnya salam dan tidak usah mengerjakan sholat dhuhur sesudahnya.

2. Apabila ia mendapati imam dalam posisi sesudah rukuk atau mendapati imam dalam keadaan rukuk namun tidak sempat rukuk bersama imam dengan tuma’ninah, yang berarti ia tidak dianggap mendapatkan satu roka’at maka setelah imam salam, ia harus mengerjakan sholat dhuhur 4 roka’at. Sedangkan niatnya menurut pendapat yang ashoh tetap memakai niat sholat jum’at . 

Dalil dari perincian hokum diatas adalah hadits yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda;


مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ، فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ


‘Barang siapa menemukan satu roka’at dalam sholat, maka ia telah menemukan sholat tersebut” (Shohih Bukhori, no.580 dan Shohih Muslim, no.607)

Wallohu a’lam.

Referensi :
1. Fathul Mui’n, Hal : 195
2. Al-Majmu’ Syarah Al-Majmu’, Juz : 4  Hal : 555 – 556


Ibarot :
Fathul Mui’n, Hal : 195


ولو أدرك المسبوق ركوع الثانية واستمر معه إلى أن سلم أتى بركعة بعد سلامه جهرا وتمت جمعته إن صحت جمعة الإمام


Al-Majmu’ Syarah Al-Majmu’, Juz : 4  Hal : 555 – 556


قال المصنف رحمه الله : ومن دخل والامام في الصلاة أحرم بها فان أدرك معه الركوع من الثانية فقد أدرك الجمعة فإذا سلم الامام أضاف إليه أخرى وان لم يدرك الركوع فقد فاتت الجمعة فإذا سلم الامام أتم الظهر لما روى أبو هريرة قال ” قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أدرك ركعة من الجمعة فليصل إليها أخرى

…………………………………

الشرح : حديث أبي هريرة هذا رواه الحاكم في المستدرك من ثلاث طرق وقال أسانيدها صحيحة ورواه ابن ماجه والدارقطني والبيهقي وفي إسناده ضعف ويغني عنه حديث أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة ” رواه البخاري ومسلم وبهذا الحديث احتج مالك في الموطأ والشافعي في الأم وغيرهما قال الشافعي معناه لم تفته تلك الصلاة ومن لم تفته الجمعة صلاها ركعتين (وقوله) في حديث الكتاب فليصل إليها أخرى وهو بضم الياء وفتح الصاد وتشديد اللام

أما الاحكام فقال الشافعي والأصحاب إذا أدرك المسبوق ركوع الإمام في ثانية الجمعة بحيث اطمأن قبل رفع الإمام عن أقل الركوع كان مدركا للجمعة فإذا سلم الإمام أتى بثانية وتمت جمعته وإن أدركه بعد ركوعها لم يدرك الجمعة بلا خلاف عندنا فيقوم بعد سلام الإمام إلى أربع للظهر وفي كيفية نية هذا الذي أدركه بعد الركوع وجهان حكاهما صاحب البيان وغيره (أحدهما) ينوي الظهر لأنها التي تحصل له (وأصحهما) وبه قطع الروياني في الحلية وآخرون وهو ظاهر كلام المصنف والجمهور ينوي الجمعة موافقة للإمام


Abahnya Habib Sayyidi Baraqba Jogja Tilar nDunyo


انا لله وانا اليه راجعون
قد توفي إلى رحمة الله العلى: الحبيب عبد الرحمن بن علوي باركبى جوكجاكرتا.

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ له ﻭﺍﺭﺣمه ﻭعافه وﺍعف عنه
 ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻛﺮﻡ ﻧﺰوله ﻭﻭﺳﻊ ﻣﺪﺧله ﻭﺑﺪّله ﺩﺍﺭﺍً ﺧﻴﺮﺍً ﻣﻦ ﺩﺍﺭه ﻭﺃﻫﻼً ﺧﻴﺮﺍً ﻣﻦ ﺍﻫله 

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﺴله ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﺜﻠﺞ ﻭﺍﻟﺒﺮﺩ ﻭنقه ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ ﻛﻤﺎ ﻳﻨﻘﻰ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﺍﻻﺑﻴﺾ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﺲ 

ﺍﻟﻠﻬﻢ ثبته ﺑﺎﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺜﺎﺑﺖ 
ﺍﻟﻠﻬﻢ قه ﻋﺬﺍﺏ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻭﻋﺬﺍﺏ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺩﺧله ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻣﻊ ﺍﻻﺑﺮﺍﺭ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻟﻬﻢ ﺍﻫله ﻭﺫﻭيه ﺍﻟﺼﺒﺮ ﻭﺍﻟﺴﻠﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻻ ﺗﺤﺮﻣﻬﻢ ﺍﺟﺮه ﻭﻻ ﺗﻔﺘﻨﻬﻢ ﺑﻌﺪه ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻭﺍﺭﺣﻢ ﺍﻣﻮﺍﺕ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺍﺭﺣﻤﻨﺎ ﺍﺫﺍ ﻣﺎ ﺻﺮﻧﺎ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﺻﺎﺭﻭﺍ ﺍﻟﻴﻪ
اللهم اكتبه ِفي المحسنين, واجعل ِكتابَه في ِعليين, واخلفه في أهله في الغابرين,

ولا تحرمنا أجره ولا تفتنا بعده

اللهم ابدله دارا خيرا من داره واهلا خيرا من اهله وادخله الجنة واعذه من عذاب القبر ومن عذاب النار …
اللـهـم عامله بما انت اهله ولا تعامله بما هو اهله .
اللـهـم اجزه عن الاحسان إحسانا وعن الأساءة عفواً وغفراناً…
اللـهـم إن كان محسنا فزد من حسناته, وإن كان مسيئا فتجاوز عن سيآته

[28/7 07:25] Muhammad Khusnu: 

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun telah meninggal dunia ayah dari habib sayyidi baraqbah, al habib abdurahman bin alwy baraqbah mohon doa dan fatechah …

[28/7 07:26] Muhammad Khusnu:

 Info waktu dan tempat pemakaman ayah kami Dimakamkan Bakda Ashar berangkat dari rumah almarhum Jalan Timor Timur Gg Mulia 5 no 97 Plemburan Tegal Sariharjo Ngaglik Sleman Jogja , akan dimakamkan di Makam Pakuncen jln H o s Cokroaminoto 

(sebrang pasar klitikan Jogja) 

tolong sebar luaskan . 

(Habib sayyidi baraqbah)

Akhi Tsabit Albunani Tilar nDunyo

إنا لله وإنا إليه راجعون

                               

Nembe tilar donyo Ustadz Tsabit Albunani, alumni Nurul Haromain Pujon Malang, sakmeniko dados pengasuh pesantren Al Qomar Sanan Turen. 
Mugi sedoyo amal ibadah beliau diterima oleh Alloh Ta’ala dan segala kesalahan beliau diampuni oleh Alloh Ta’ala 

                   

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسع مدخله واغسله بالماء والثلج والبرد ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس وأبدله دارا خيرا من داره وزوجا خيرا من زوجه وأهلا خيرا من أهله   الجنة مع الأبرار وأعذه من عذاب القبر ومن عذاب النار، اللهم لا تحرمنا أجره  ولا تفتنا بعده واغفر لنا وله ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل فى قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم. بشفاعة وكرامة ومعجزة وببراكة القرآن، الفاتحة………

Al-Habib Ahmad bin Hamid ALKAFF Palembang

بسم الله الرحمن الرحيم
Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaaf Waliyullah dengan empat pesan

 
Beliau dikenal sebagai salah seorang ulama besar di Palembang. Banyak ulama dari berbagai penjuru Nusantara mengaji kepada beliau.
            Ada pendapat, Palembang bisa di ibaratkan sebagai Hadramaut (markas para Habib dan Ulama besar). Sebab di Palembang memang banyak Habib dan Ulama besar, demikian pula makam-makam mereka. Salah seorang diantaranya adalah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaaf, yang juga dikenal sebagai wali masthur. Yaitu wali yang karamah-karamahnya tersembunyi. Padahal karamahnya cukup banyak.
            Salah satu karamahnya ialah ketika beliau menziarahi orang tua beliau (Habib Hamid Al-Kaff dan Hababah Fathimah AL-Jufri) di kampung yusrain, 10 Ilir Palembang. Dalam perjalanan kebetulan turun hujan lebat dan deras. Untuk bebrapa saat beliau mengibaskan tangan beliau ke langit sambil berdoa. Ajaib, hujanpun reda.
            Nama beliau adalah Ahmad bin Hamid Al-Kaff. Sampai di akhir hayat beliau tinggal di jalan K.H. hasyim Asy’ari No. 1 Rt 01/I, 14 Ulu Palembang. Beliau lahir di Pekalongan Jawa Tengah dan dibesarkan di Palembang. Sejak kecil beliau diasuh oleh Habib Ahmad bin AbduLlah bin Thalib Al-Attas.
            Uniknya, hampir setiap pagi buta Habib Ahmad Alatas menjemput muridnya ke rumahnya untuk shalat subuh berjama’ah karena sangat menyaynginya. Saking akrabnya, ketika bermain-main di waktu kecil, Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff sering berlindung di bawah jubah Habib Ahmad Alatas. Ketika usia 7 tahun saat anak-anak lain duduk di kelas satu madrasah  Ibtidaiyyah, Habib Ahmad belajar ke Tarim Hadramaut Yaman bersama sepupunya Habib Abdullah-yang akrab dipanggil Endung.
            Di sana mereka berguru kepada Habib Ali Al-Habsyi. Ada sekitar 10 tahun beliau mengaji  kepada sejumlah ulama besar di Tarim. Salah seorang guru beliau adalah Habib Ali Al-Habsyi, ulama besar penulis Maulid Simtuth Durar. Selama mengaji  kepada Habib Ali Al-Habsyi , beliau mendapat pendidikan disiplin yang sangat keras. Misalnya sering hanya mendapatkan sarapan 3  butir kurma. Selain kepada Habib Ali , beliau juga belajar tasawuf kepada Habib Alwi bin AbduLlah Shahab . sedangkan sepupu beliau Habib Endung belajar fiqih dan ilmu-ilmu alat seperti nahwu, sharaf dan balaghah. Sepulang dari Hadramaut pada usia 17 tahun . Habib Ahmad Al-Kaff menikah dengan Syarifah Aminah Binti Salim Al-Kaff . meski usianya belum genap 20 tahun namun beliau sudah mulai dikenal sebagai ulama yag menjalani kehidupan zuhud dan mubaligh yang membuka majlis ta’lim. Dua diantara murid beliau yakni Habib alwi bin Ahmad Bahsin dan Habib Syaikhan Al-gathmir belakangan dikenal pula sebagai ulama dan mubaligh.
            Selain di Palembang, Habib Ahmad juga berdakwah dan mengajar di beberapa daerah di tanah air, misalnya madrasah Al-Khairiyah Surabaya. Salah seorang murid beliau yang kemudian dikenal sebagai ulama adalah habib Salim bin ahmad bin Jindan ulama terkemuka di Jakarta, yang wafat pada tahun 1969.
 
Empat Pertanyaan
 
            Ketinggian ilmu dan kewalian Habib Ahmad al-Kaff diakui oleh Habib Alwi bin Muhammad al Haddad ulama besar dan wali yang bermukim di Bogor. Diceritakan pada suatu hari seorang Habib dari Palembang  (Habib Ahmad bi Zen bin Syihab) dan rekan-rekannya menjenguk Habib Alwi, mengharap berkah dan hikmahnya.
            Mengetahui bahwa tamu-tamunya dari Palembang, dengan spontan Habib Alwi berkata, “Bukankah kalian mengenal Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff ?. Buat apa kalian jauh-jauh datang ke sini, sedangkan di kota kalian ada wali yang maqam kewaliannya tidak berbeda denganku ? saya pernah bertemu dia di dalam mimpi”. Tentu saja rombongan dari Palembang tersebut kaget. Maka Habib Alwi menceritakan perihal mimpinya. Suatu hari Habib Alwi berpikir keras bagaimana cara hijrah dari bogor untuk menghindari teror dari aparat penjajah belanda. Beliau kemudian bertawasul kepada RasuluLlah SAW, dan malam harinya beliau bermimpi bertemu RasuluLlah SAW memohon jalan keluar untuk masalah yang dihadapinya. Yang menarik, di sebelah Rasul duduk seorang laki-laki yang wajahnya bercahaya.
            Maka RasuluLlah SAW pun bersabda, “Sesungguhnya semua jalan keluar dari masalahmu ada di tangan cucuku di sebelahku ini”. Dialah Habib Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff. Maka Habib Alwi pun menceritakan persoalan yang dihadapinya kepada Habib Ahmad al-Kaff– yang segera mengemukakan pemecahan/jalan keluarnya. Sejak itulah Habib Alwi membanggakan Habib Ahmad al-Kaff.
            Sebagaimana para waliyullah yang lain, Habib Ahmad al-Kaff juga selalu mengamalkan ibada khusus. Setiap hari misalnya, Mursyid Tariqah Alawiyah tersebut membaca shalawat lebih dari 100.000 kali. Selain itu beliau juga menulis sebuah kitab tentang tatacara menziarahi guru beliau Habib ahmad Alatas. Beliau juga mewariskakn pesan spiritual yang disebut Pesan Pertanyaan yang empat, yaitu empat pertanyaan mengenai  ke mana tujuan manusia setelah meninggal.
            Lahirnya empat pertanyaan tersebut bermula ketika Habib Ahmad al-Kaff diajak oleh salah seorang anggota keluarga untuk menikmati gambus. Seketika itu beliau berkata, “Aku belum hendak bersenang-senang sebelum aku tahu apakah aku akan mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatku. Apakah aku akan selamat dari siksa kubur, apakah timbangan amalku akan lebih berat dari dosaku, apakah aku akan selamat dari jembatan shiratal mustaqim”. Itulah yang dimaksud dengan “empat pertanyaan” yang dipesankannya kepada para murid, keluarga dan keturunannya.
            Habib Ahmad al-Kaff wafat di Palembang pada 25 Jumadil akhir 1275 H/1955 Masehi. Jenasah beliau dimakamkan di komplek pemakaman  Telaga 60, 14 Hulu Palembang. Beliau meninggalkan lima anak  : Habib Hamid, Habib AbduLlah, HabibBurhan, Habib Ali, dan Syarifah Khadijah.