Kuttab = TPQ di zaman Baginda Nabi محمد صلى الله عليه وسلم

HUKUM MENGAJARI ANAK KECIL KITAB SUCI AL-QUR’AN

Oleh : Ahmad Syarifuddin

Dalam matan (muatan) hadits Nabi Muhammad SAW., dinyatakan bahwa kita hendaknya menyuruh anak-anak kita mengerjakan sholat kala usia anak-anak kita mencapai 7 tahun. Berikutnya kita diperintahkan memukul anak-anak kita (mendidiknya secara tegas, keras, dan disiplin) atas sholat manakala umur mereka mencapai 10 tahun. Tentunya hitungan umur di sini adalah berpijak pada hitungan kalender qamariyah.
Hadits tersebut merupakan pedoman yang amat indah dan tepat bagi kita dalam melaksanakan pendidikan anak-anak kita.
Beberapa pelajaran dari matan hadits adalah:
(1) pentingnya kita mendidik anak.

(2) pentingnya pendidikan sholat bagi anak-anak kita. Jangan sampai anak kita tidak bisa mengerjakan sholat. Sholat adalah ibadah yang pertama dan utama plus komplit.

(3) adanya tahapan-tahapan yang harus kita ketahui dan kita jalankan dalam pola pendidikan anak.
Untuk ini, ada definisi pendidikan yang telah dikemukakan oleh para pakar. Dan semuanya mengacu pada tahapan perkembangan anak.
Dalam hemat kami, anak adalah manusia yang berada dalam jenjang umur antara 0-18 tahun, yakni usia semenjak lahir sehingga usia akil-baligh yang sempurna.
Sayidina Umar bin Khatthab menyatakan (kurang lebih) hendaknya kita mengajak anak-anak kita bermain pada usia 7 tahun pertama mereka (umur 1-7 tahun). 7 tahun kedua (umur 8-14 tahun) kita berikan pertemanan dan pendidikan kepada mereka. Dan pada 7 tahun ketiga, saatnya kita melepas anak-anak kita.
Pola pendidikan Kuttab (sejenis madrasah tempat anak-anak belajar baca tulis Al-Qur’an) yang digagas pertama oleh Amirul Mukminin II ini mengambil waktu 3 hari dalam sepekan. Beliau mendoakan tidak baik pada kalangan yang merubah pakem Beliau ini. Sikap tegas ini diambil agar terjamin kelangsungan pendidikan Al-Qur’an di samping menghindarkan anak-anak dari kejenuhan belajar yang berefek tidak baik di kemudian hari.
Setelah anak mencapai umur 18 tahun dan selanjutnya, ilmu yang tepat diberikan kepadanya (usia pemuda) adalah ilmu yang bersifat KULLIYAH (keilmuan yang bersifat menyeluruh). Karena mereka telah dianggap siap dan matang.
Adapun sebelum umur 18 tahun, ilmu yang tepat diberikan kepadanya adalah ilmu yang bersifat JUZ’IYAH (ilmu yang bersifat parsial).
Jangan berkebalikan, usia muda (18-35 tahun) kita berikan ilmu Juz’iyah, sedang usia anak-anak (umur 1-18 tahun) kita berikan ilmu Kulliyah.
Tetapi, sifat kita pada umumnya adalah tergesa-gesa, sebagaimana ungkapan Al-Qur’an, 
وكان الانسان عجولا
Pepatah mengatakan,
من تعجل قبل اوانه عوقب بحرمانه

Pendidikan yang ideal adalah yg tepat sesuai dengan tahapannya: tdk tergesa-gesa/terburu-buru, tdk pula melampaui batas.
بين الافراط والتفريط

بين التشدد والتقصير
Apa hubungannya dengan mengajari anak Al-Qur’an di usia dini?
Kita berikan pada mereka pendidikan yang spesial ini sesuai dengan tingkatan akal dan tahapan mereka. 
Hidup kita dan anak-anak kita tidaklah seperti lari 100 m. Tetapi ibarat lari maraton. Dan pemenangnya adalah yang terbaik finish-nya, bukan terbaik start-nya.
Tidaklah boleh kita mengikuti genderang yang ditabuh orang lain.
Kami mendapati pendapat hukum yang disampaikan oleh Said bin Jubair dan Ibrahim An-Nakhai bahwa mendidik anak kecil Al-Qur’an (sebelum waktunya) adalah MAKRUH. (Irsyadus Sari, Syarah Shahih Bukhari, jilid 11 hal. 309).
Wallahu A’lam bis Showab.
—————————-

Author by: Ahmad Syarifuddin, Penulis Buku Mendidik Anak Membaca Menulis dan Mencintai Al-Qur’an.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s