Tahaji

PEGON DAN SERUAN MENGAJARI ANAK MENULIS AKSARA ARAB

Oleh: Ahmad Syarifuddin

Sepuluh (10) tahun silam, saya berkenalan dengan anak muda mahasiswa dalam perjalanan menuju masjid di sekitaran kampus UMS dan PP Modern Assalam Surakarta. Namanya Edi dari 1 kota di Jateng.
Setelah cair, iseng saya bertanya, ‘Tahukah apa arti nama Edi?!’ ‘Tidak tahu’, jawabnya, seraya menambahkan bahwa nama itu pemberian orangtuanya. ‘Tidak bertanya artinya pada bapak atau ibu?’ ‘Tidak’ katanya.
Sungguh mengagumkan anak muda ini. Ia amat berbaik-sangka kepada kedua orangtuanya.
Lalu kutawarkan spontan, ‘Tidak ingin tahu apa makna Edi?’ Ia sumringah. ‘Edi itu Indah dan Anggun. Berharga tinggi dan (bahasa sekarang) elegan.’ Ia tampak senang mendengarnya dan meminta diyakinkan. Kini dia harus bersyukur kepada ayah ibunya karena memberi nama bagus tersebut.
Dari mana saya tahu arti kata (bahasa Jawa) Edi?
Dahulu guru-guru di Pondok Pesantren mengajarkan kami Kitab Kuning beserta maknanya berbahasa Jawi. Bahasa Jawi adalah bahasa Jawa, Melayu, Sunda, Madura, dan atau bahasa-bahasa lainnya di Nusantara yang ditulis menggunakan aksara Arab. Bahasa dan aksara Jawi tersebut dikenal pula dengan istilah Pegon. 
Kami kerap mendengar dalam Pengajian Kitab Kuning, kata-kata Arab: al-nafis, al-nafisah (bentuk tunggal) atau an-nafais (bentuk jamak), para guru memberi makna Jawa: ‘kang edi (yang indah, anggun, dan atau bernilai tinggi), manakala dinisbatkan misalnya kepada harta benda atau binatang kendaraan. Dengan demikian, nama Edi sama dengan nama Nafis atau Nafisah (dalam bahasa Arab) yang berarti indah, anggun, cantik, dan / elegan.
Sesungguhnya di alam dunia sekarang ada ribuan bahkan ratusan ribu bahasa yang dipergunakan bertutur oleh umat manusia. Ada bahasa yang datang baru (modern), ada bahasa yang lestari, ada bahasa yang usang, bahkan ada banyak bahasa yang telah musnah, ditinggalkan dan tidak dapat dilacak asal-usulnya. Tidak ada penggunanya dan asing.
Setiap bahasa berpeluang usang dan musnah dari muka bumi, seperti bahasa Sansekerta, Ibrani, dll. Namun, ada satu bahasa yang dijamin akan terus kekal abadi. Dialah Bahasa Arab. Karena ia menjadi bahasa mukjizat Kitab Suci Al-Qur’an. Bahasa Arab itu universal, monumental,  seimbang, kaya, indah, lengkap, aktual, dan perkasa, sebagaimana karakter Al-Qur’an.
Mempelajari atau menggunakan Bahasa Arab dengan baik dan benar (fushah) sama dengan menjaga keagungan Kitab Suci Al-Qur’an. Bak ibadah nan berpahala.
Kita umat Islam telah diseru bahkan kita diberikan beban (dipaksa) agar belajar dan menggunakan bahasa Arab, setidaknya pada waktu sholat, azan, dan waktu membaca 2  kalimat syahadat. Oleh karena itu setiap orang Islam masuk surga dan kelak mampu berbahasa Arab di sana, karena ia telah memiliki kunci standarnya, yaitu berbahasa Arab saat bersyahadat, azan, dan sholat.
Anak-anak kita, selain perlu dididik membaca (qiraah) aksara Al-Qur’an (bahasa Arab), mereka juga perlu dididik menulis (kitabah) aksara Al-Qur’an. Dari awal, Kitab Suci kita dinamakan Al-Kitab karena harus ditulis, sebagaimana ia dinamai Al-Qur’an karena harus dibaca. 
Rasulullah SAW. mengingatkan kita,
حق الولد على والده ان يحسن اسمه ويعلمه الكتابة ويزوجه اذا ادرك. رواه الديلمي وابو نعيم
“Hak anak yang harus ditunaikan orangtuanya ialah memilihkan nama yang baik, mengajarkan tulis-menulis, dan menikahkan ketika beranjak dewasa.” (HR. Dailami dan Abu Nuaim dari Abu Hurairah RA.)
Nenek moyang kita terdahulu telah berhasil memasyarakatkan bahasa Arab di tanah Nusantara, terbukti dengan adanya bahasa Jawi atau aksara Pegon, yakni bahasa Nusantara yang ditulis dengan menggunakan bahasa atau aksara Arab. Dan aksara Jawi atau Pegon tersebut telah resmi menjadi bahasa kenegaraan berabad-abad lamanya.
Hingga era tahun 1950-an, bahasa Jawi masih banyak dipergunakan oleh pemerintah negara RI kita. Waktu itu, banyak di antara kita lebih mahir menulis bahasa Arab daripada latin. Di antara mereka ada yang tidak bisa menulis bahasa latin, namun pandai menulis bahasa Arab. Untuk berkomunikasi dengan rakyat tersebut, pemerintah RI memakai bahasa Jawi.
Peninggalan dari warisan Nusantara ini adalah ditemukannya sekian banyak kosa kata bahasa Indonesia (bahasa Melayu) saat ini yang diserap dari bahasa Arab, bahkan menurut Hamka, mencapai separuhnya.
Seiring waktu, kian hari, penggunaan bahasa Jawi atau aksara Pegon, kian pudar. Dengan adanya sistem-sistem ejaan yang diwariskan penjajah yang mengeliminasi aksara Arab. Kita kini kemudian beralih total dan resmi kepada aksara latin. Benteng terakhir kiranya adalah Pondok-pondok Pesantren Salaf (Tradisional). Namun, bagaimana pula bila pihak mulia inipun harus emoh dengan Pegon?
Subhanallah. Generasi pendahulu kita di negeri ini telah melakukan spiritualisasi dengan edi (anggun). Dan kini kita justru suka sekularisasi. Kita rida menjauhkan diri kita dan anak-anak kita dari Bahasa Arab.
Semoga berkibar semangat kita belajar dan mengajar anak-anak kita menulis Arab.
Walllahu A’lam bis Showab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s