Merayakan Tahun Baru Masehi

​🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Sejenak Pagi:

*MENGGANTI PERAYAAN THN BARU MASEHI DENGAN KEGIATAN KEISLAMAN*
Sebentar lagi malam tahun baru masehi datang, bukan gembira ya, justru waspada. Waspada dari tasyabbuh terhadap orang2 kafir, waspada terhadap pengekoran terhadap perbuatan yg buruk. 

Berikut ini adalah informasi berkaitan dengan perayaan tahun baru.
*Asal Perayaan Tahun Baru*
Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400)
Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.
Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dsb.
*Dalil2 Merayakan Tahun Baru :*
*1. Merayakan tahun baru Masehi sama juga telah mengakui adanya hari raya dalam Islam selain hari raya i’dul fihtri dan ‘idul adha :*
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Alloh telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.” 

*(HR. An Nasa-i no. 1556)*
2. *Ikut serta dalam perayaan tahun baru masehi sama juga perbuatan tasyabbuh (menyerupai perbuatannya) dengan orang2 kafir. Dimana merekalah yg telah memulai perayaan ini, dan kemudian diikuti oleh umat Islam.*
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” *(HR. Ahmad)*
*Dan kaum yg selalu akan diikuti oleh umat Islam adalah Yahudi dan Nasrani :*
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasululloh, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” *(HR. Muslim)*
3. *Mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Alloh.SWT melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (baca: memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka.* Alloh.SWT berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” 

(QS. Al-Mumtahanan: 1)
*Mengganti Perayaan Tahun Baru Dengan Pengajian*
Psikologi manusia akan susah meninggalkan sesuatu yang dicintai dan digandrungi bertahun-tahun dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, perlu mencari dan membuat kegiatan atau disyariatkan dalam Islam untuk mengganti kegiatan malam tahun baru, misal dengan pengajian dllnya. Dengan syarat kegiatan itu bukan untuk merayakan tahun baru dan jika keimanan sudah kokoh maka jalanilah malam tahun baru sebagaimana malam-malam yang lain. 
_“Daripada kita merayakan tahun baru, tahun masehinya orang kafir, lebih baik kita buat acara yang Islami”_
Semoga menjadi lebih baik dan bermanfaat.
Robbana Taqobbal Minna.

Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.

Dr.Soeharjoepri ; Dosen ITS

:)❤👍

Min-Tasnim تَسْنِيمٍ

​(وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ)

[Surat Al-Muthoffifin 27]

Penjelasan dari Tafsir ibn Katsir sebagai berikut:

Adapun firman Alloh Ta’la:

{وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ}

Dan campuran khamr murni itu adalah dari tasnim.  (Al-Muthaffifin: 27)

Yakni campuran khamr ini adalah sesuatu minuman yang disebut tasnim, yang merupakan minuman ahli surga yang paling afdal dan paling terhormat. Demikianlah menurut Abu Sholih dan Ad-Dlohhaak. Karena itulah Alloh Ta’ala berfirman dalam ayat berikutnya:

{عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ}

(yaitu) mata air yang minum darinya orang-orang yang didekatkan kepada Alloh. (Al-Miitaffifin: 28)

Maksudnya, minuman yang hanya diminum oleh orang-orang yang didekatkan dengan Alloh. Minuman tersebut menjadi campuran bagi minuman ashabul yamin atau golongan kanan. Demikianlah menurut Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Masruq, Qatadah, serta selain mereka.

Ayat2 Serupa Tapi Tak Sama

​يتلو  ayat “Yatlu”
١. (رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ)

[Surat Al-Baqarah 129]
٢. (كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ)

[Surat Al-Baqarah 151]
٣. (لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ)

[Surat Aali-Imroon 164]
٤. (وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ)

[Surat Al-Qoshosh 59]
٥. (هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ)

[Surat Al-Jumu’ah 2]
٦. (رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا)

[Surat Ath-Thalaq 11]
٧. (رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً)

[Surat Al-Bayyinah 2]

Santri MiM Tulungagung Turut-Serta Dalam Pembinaan Abna’ Alumni & Jama’ah Al-Haromain 

Alhamdulillah…

Liburan semester awal tahun pelajaran 2016-2017 ini para santri mim tulungagung bisa turut serta dalam pembinaan khusus putra-putri Alumni ma’had Nurul Haromain Pujon Malang. Acara 2 tahunan ini adalah bentuk nyata cinta dan kepedulian Abi kepada “cucu-cucunya” agar tetap dalam manhaj salaf yang terus sambung sanad hingga kepada Baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallama. Dengan harapan bisa menjadi generasi penerus Abi atau ayahnya sebagai pendakwah & pewaris para Nabi. Amiin.

Kumpulan kitab-kitab pdf karya Al-Habib Abu Bakar Al-‘Adny Bin Ali Al-Masyhur:

​من مؤلفات السيد الداعية أبي بكر العدني بن علي المشهور
Kumpulan kitab-kitab pdf karya Al-Habib Abu Bakar Al-‘Adny Bin Ali Al-Masyhur:

فقه التحولات 

الأسس والمنطلقات في تحليل وتفصيل غوامض فقه التحولات

Klik untuk mengakses 0026.pdf


البلسم في حياة المسيح عيسى ابن مريم 

Klik untuk mengakses 0027.pdf


التليد والطارف

Klik untuk mengakses 0028.pdf


الخروج من الدائرة الحمراء

Klik untuk mengakses 0029.pdf


الرموز والأصابع بين قرامطة الأمس وقراصنة اليوم 

Klik untuk mengakses 0030.pdf


النبذة الصغرى 

Klik untuk mengakses 0031.pdf


إحياء منهجية النمط الأوسط 

Klik untuk mengakses 0032.pdf


بين يدي الدجال 

Klik untuk mengakses 0033.pdf


التليد والطارف نسخة جديدة 

Klik untuk mengakses 0034.pdf


إحياء لغة الإسلام العالمية وتجديدها

Klik untuk mengakses 0035.pdf


متن الزبدة في فقه التحولات

Klik untuk mengakses 0036.pdf


منظومة المائدة الرمضانية

Klik untuk mengakses 0037.pdf


منهج السلامة الواعي نسخة قديمة

Klik untuk mengakses 0038.pdf


الأربعون حديثا في فقه التحولات

Klik untuk mengakses 0040.pdf


***

Memakmurkan Masjid

​بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
حمدا لله تبارك وتعالى

ومصليا ومسلما على رسول الله صلى الله عليه وسلم.
قال الله تعالى في كتابه الكريم،
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.
(إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ)

[Surat At-Tawbah 18]
صدق الله العظيم

وصدق رسوله النبي الكريم

ونحن على ذلك من الشاهدين والشاكرين.

والحمد لله رب العالمين.
أما بعد…
إخواني حفظكم الله…

Kita semua pasti ingin digolongkan menjadi orang2 yg betul2 beriman kepada Alloh dan hari Akhir. Kita semua jg berharap menjadi manusia yang punya rasa takut kepada Alloh dan kita semua juga selalu berdoa agar kita menjadi umat nabi muhammad yg selalu terus dalam petunjukNya.
Ketahuilah wahai saudara2ku…
Keinginan, harapan serta doa kita tersebut akan hanya menjadi impian & lamunan kita saja jika tidak kita barengi dengan kesungguhan kita menjalankan amalan2 sholih nyata kita. 
Dan salah satu amalan nyata kita yang akan menghantarkan kita dan akan mewujudkan harapan kita serta membantu dikabulkannya doa kita adalah amal sholih kita dalam memakmurkan dan meramaikan masjid2 yang ada disekitar kita.
Makna dan wujud memakmurkan masjid tidak hanya rajin sholat berjamaah lima waktu saja. Akan tetapi lebih dari itu. Segala sesuatu amal ibadah & amal sholih kita selalu tersentral demi kemakmuran masjid. Misalnya,  termasuk makna kemakmuran masjid adalah bersatu padunya ummat dalam hidup bersama & bermasyarakat atas satu tuntunan dasar aqidah yg sama, satu bendera laa ilaaha illalloh. Maka alangkah indah nya kehidupan tiap keluarga dan masyarakat bila semua agenda kehidupannya tersentral & bermarkaz  pada masjid2 kita.
Hidup Guyup rukun mulyo lan tinoto pasti & jelas akan sangat berasa bila dimulai dari sentral yang sama yaitu masjid2 di sekitar kita. Rasa & manfaatnya pasti untuk semuanya. Bahkan tidak hanya utk yang muslim sj. Yang non muslim jg akan merasakan kesejahteraan dan kedamaian islam ini. Dan ini bukan teori, namun bukti & terbukti hingga kini. Lihatlah kemakmuran masjid sentral umat islam seluruh yaitu masjidil harom Makkah & masjidin Nabawy kota Madinah. Kesejahteraan & kedamaian dua masjid tersebut sudah dirasakan oleh seluruh umat di dunia. Baik muslim maupun non Muslim. Mulai zaman nabi hingga kini.
Ikhwani hafidhokumulloh….
Karena itu mari kita berlomba-lomba utk memakmurkan masjid dg kemampuan kita masing2 semaksimal mungkin yg bisa kita lakukan. 
Dan yakinlah itu semua akan mensejahterakan kita semua. Baik secara pribadi, keluarga hingga seluruh lingkungan sekitar masjid bahkan seluruh masyarakat umumnya.
Ikhwani hafidhokumulloh…

Semoga kita semuanya bisa segera mewujudkannya. Amin… Amin… Yaa Robbal-‘Alamin.
Dan semoga apa yg saya sampaikan bisa bermanfaat dan bila ada khilaf saya mohon maaf.
Wallohu yatawallal-jamii’ biri’aayatihi.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

فقه  الإشارات fiqh isyarot

​فقه الإشارات.
مثل الحديث:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ لَقِيطٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَوَالَةَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَجَا مِنْ ثَلَاثٍ فَقَدْ نَجَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مَوْتِي وَالدَّجَّالُ وَقَتْلُ خَلِيفَةٍ مُصْطَبِرٍ بِالْحَقِّ مُعْطِيهِ.

رواه أحمد ١٦٣٥٩

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq dari Yahya bin Ayyub berkata; telah bercerita kepadaku Yazid bin Abu Habib dari Rabi’ah bin Laqith dari Abdullah bin Hawalah sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barangsiapa yang selamat dari tiga hal, maka dia telah selamat tiga kali: wafatku, Dajjal dan pembunuhan seorang khalifah yang sabar mempertahankan kebenaran, dan khalifah itu telah memasrahkan kebenaran agar dituntaskan.’.
(HR. Achmad no.16359)

Fiqh Tahawwulaat ; Dauroh Fikriyyah Eskatologi Islamiyyah 

فقه التحولات
للحبيب أبو بكر العدني بن علي المشهور

حَدَّثَنِي أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ كَهْمَسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ ح و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ وَهَذَا حَدِيثُهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ قَالَ كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَاجَّيْنِ أَوْ مُعْتَمِرَيْنِ فَقُلْنَا لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلَاءِ فِي الْقَدَرِ فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ دَاخِلًا الْمَسْجِدَ فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِي أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ وَالْآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِي سَيَكِلُ الْكَلَامَ إِلَيَّ فَقُلْتُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ قَالَ فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

ثُمَّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْغُبَرِيُّ وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ مَطَرٍ الْوَرَّاقِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ قَالَ لَمَّا تَكَلَّمَ مَعْبَدٌ بِمَا تَكَلَّمَ بِهِ فِي شَأْنِ الْقَدَرِ أَنْكَرْنَا ذَلِكَ قَالَ فَحَجَجْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَجَّةً وَسَاقُوا الْحَدِيثَ بِمَعْنَى حَدِيثِ كَهْمَسٍ وَإِسْنَادِهِ وَفِيهِ بَعْضُ زِيَادَةٍ وَنُقْصَانُ أَحْرُفٍ و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ وَحُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَا لَقِينَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ فَذَكَرْنَا الْقَدَرَ وَمَا يَقُولُونَ فِيهِ فَاقْتَصَّ الْحَدِيثَ كَنَحْوِ حَدِيثِهِمْ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهِ شَيْءٌ مِنْ زِيَادَةٍ وَقَدْ نَقَصَ مِنْهُ شَيْئًا و حَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِ حَدِيثِهِمْ.

(رواه مسلم ٩)
Telah menceritakan kepadaku Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Kahmas dari Abdullah bin Buraidah dari Yahya bin Ya’mar. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu’adz al-‘Anbari dan ini haditsnya, telah menceritakan kepada kami Bapakku telah menceritakan kepada kami Kahmas dari Ibnu Buraidah dari Yahya bin Ya’mar dia berkata, “Orang yang pertama kali membahas takdir di Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani, maka aku dan Humaid bin Abdurrahman al-Himyari bertolak haji atau umrah, maka kami berkata, ‘Seandainya kami bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami akan bertanya kepadanya tentang sesuatu yang mereka katakan berkaitan dengan takdir.’ Maka Abdullah bin Umar diberikan taufik (oleh Allah) untuk kami, sedangkan dia masuk masjid. Lalu aku dan temanku menghadangnya. Salah seorang dari kami di sebelah kanannya dan yang lain di sebelah kirinya. Lalu aku mengira bahwa temanku akan mewakilkan pembicaraan kepadaku, maka aku berkata, ‘Wahai Abu Abdurrahman, sesungguhnya nampak di hadapan kami suatu kaum membaca al-Qur’an dan mencari ilmu lalu mengklaim bahwa tidak ada takdir, dan perkaranya adalah baru (tidak didahului oleh takdir dan ilmu Allah).’ Maka Abdullah bin Umar menjawab, ‘Apabila kamu bertemu orang-orang tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa saya berlepas diri dari mereka, dan bahwa mereka berlepas diri dariku. Dan demi Dzat yang mana hamba Allah bersumpah dengan-Nya, kalau seandainya salah seorang dari kalian menafkahkan emas seperti gunung Uhud, niscaya sedekahnya tidak akan diterima hingga dia beriman kepada takdir baik dan buruk.’ Dia berkata, ‘Kemudian dia mulai menceritakan hadits seraya berkata, ‘Umar bin al-Khaththab berkata, ‘Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam? ‘ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam menjawab: “Kesaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadlan, serta haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Umar berkata, ‘Maka kami kaget terhadapnya karena dia menanyakannya dan membenarkannya.’ Dia bertanya lagi, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang iman itu? ‘ Beliau menjawab: “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.” Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu? ‘ Beliau menjawab: “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Dia bertanya lagi, ‘Kapankah hari akhir itu? ‘ Beliau menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” Dia bertanya, ‘Lalu kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya? ‘ Beliau menjawab: “Apabila seorang budak melahirkan (anak) tuan-Nya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, penggembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan.” Kemudian dia bertolak pergi. Maka aku tetap saja heran kemudian beliau berkata; “Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa penanya tersebut?” Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda: “Itulah jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama kalian’.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid al-Ghubari dan Abu Kamil al-Jahdari serta Ahmad bin Abdah mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Yazid dari Mathar al Warraq dari Abdullah bin Buraidah dari Yahya bin Ya’mar dia berkata, ‘Ketika Ma’bad berkata dengan sesuatu yang dia bicarakan tentang masalah takdir, maka kami mengingkari hal tersebut.’ Dia berkata lagi, ‘Lalu aku melakukan haji bersama Humaid bin Abdurrahman al-Himyari.’ Lalu mereka menyebutkan hadits dengan makna hadits Kahmas. Di dalamnya terdapat sebagian tambahan dan kekurangan huruf.” Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id al Qaththan telah menceritakan kepada kami Utsman bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah dari Yahya bin Ya’mar dan Humaid bin Abdurrahman keduanya berkata, “Kami bertemu Abdullah bin Umar, lalu kami menyebutkan tentang takdir dan pendapat mereka tentangnya, lalu dia mengisahkan hadits tersebut sebagaimana hadits mereka dari Umar radlialllahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di dalamnya terdapat suatu tambahan dan pengurangan.” Dan telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin asy-Sya’ir telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami al-Mu’tamir dari Bapaknya dari Yahya bin Ya’mar dari Ibnu Umar dari Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan semisal hadits mereka”.
(HR. Muslim no.9)

فقه الإشارات.
مثل الحديث:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ لَقِيطٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَوَالَةَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَجَا مِنْ ثَلَاثٍ فَقَدْ نَجَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مَوْتِي وَالدَّجَّالُ وَقَتْلُ خَلِيفَةٍ مُصْطَبِرٍ بِالْحَقِّ مُعْطِيهِ.

رواه أحمد ١٦٣٥٩

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq dari Yahya bin Ayyub berkata; telah bercerita kepadaku Yazid bin Abu Habib dari Rabi’ah bin Laqith dari Abdullah bin Hawalah sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barangsiapa yang selamat dari tiga hal, maka dia telah selamat tiga kali: wafatku, Dajjal dan pembunuhan seorang khalifah yang sabar mempertahankan kebenaran, dan khalifah itu telah memasrahkan kebenaran agar dituntaskan.’.

(HR. Achmad no.16359)