Maulid Nabi dalam Tabir Para Wali

​~ KEUTAMAAN MAULID ~
ﻗﺎﻝ ﻣﻌﺮﻭﻑ اﻟﻜﺮﺧﻲ ﻗﺪﺱ اﻟﻠﻪ ﺳﺮﻩ: ﻣﻦ ﻫﻴﺄ ﻷﺟﻞ ﻗﺮاءﺓ ﻣﻮﻟﺪ اﻟﺮﺳﻮﻝ ﻃﻌﺎﻣﺎ، ﻭﺟﻤﻊ ﺇﺧﻮاﻧﺎ، ﻭﺃﻭﻗﺪ ﺳﺮاﺟﺎ، ﻭﻟﺒﺲ ﺟﺪﻳﺪا، ﻭﺗﻌﻄﺮ ﻭﺗﺠﻤﻞ ﺗﻌﻈﻴﻤﺎ ﻟﻤﻮﻟﺪﻩ ﺣﺸﺮﻩ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﻊ اﻟﻔﺮﻗﺔ اﻷﻭﻟﻰ ﻣﻦ اﻟﻨﺒﻴﻴﻦ، ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺃﻋﻠﻰ ﻋﻠﻴﻴﻦ. ﻭﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﻣﻮﻟﺪ اﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺩﺭاﻫﻢ ﻣﺴﻜﻮﻛﺔ ﻓﻀﺔ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻭ ﺫﻫﺒﺎ ﻭﺧﻠﻂ ﺗﻠﻚ اﻟﺪﺭاﻫﻢ ﻣﻊ ﺩﺭاﻫﻢ ﺃﺧﺮ ﻭﻗﻌﺖ ﻓﻴﻬﺎ اﻟﺒﺮﻛﺔ ﻭﻻ ﻳﻔﺘﻘﺮ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ ﻭﻻ ﺗﻔﺮﻍ ﻳﺪﻩ ﺑﺒﺮﻛﺔ ﻣﻮﻟﺪ اﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ. 
syeh Ma’ruf al Karkhi wafat 200 H. berkata: barang siapa menyiapken makanan dlm pembacaan Maulid , mengumpulken kerabat / teman, menyalaken lampu, memakai pakaian baru dan wewangian serta membersihken diri. Semua d lakuken semata2 demi memuliaken hari kelahiran Rasululloh SAW . maka Alloh swt akan mengumpulkennya dg kelompok para Nabi yg utama dan dia berada d puncak derajat tertinggi pd hari kiamat.

siapa saja membaca maulid Nabi atas uang logam / kertas , lalu mencampurnya dg uangnya yg lain, maka akan mendapatken keberkahan. Pemiliknya tdk akan menjadi fakir dan tdk akan kehabisan uang dg berkah Maulid Nabi Muhammad SAW.
(ﻭﺣﻜﻲ) ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﺃﻣﻴﺮ اﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻫﺎﺭﻭﻥ اﻟﺮﺷﻴﺪ ﺷﺎﺏ ﻓﻲ اﻟﺒﺼﺮﺓ ﻣﺴﺮﻑ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﺃﻫﻞ اﻟﺒﻠﺪ ﻳﻨﻈﺮﻭﻥ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻌﻴﻦ اﻟﺘﺤﻘﻴﺮ ﻷﺟﻞ ﺃﻓﻌﺎﻟﻪ اﻟﺨﺒﻴﺜﺔ، ﻏﻴﺮ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﺇﺫا ﻗﺪﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﺑﻴﻊ اﻷﻭﻝ ﻏﺴﻞ ﺛﻴﺎﺑﻪ ﻭﺗﻌﻄﺮ ﻭﺗﺠﻤﻞ ﻭﻋﻤﻞ ﻭﻟﻴﻤﺔ ﻭاﺳﺘﻘﺮﺃ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻮﻟﺪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺩاﻡ ﻋﻠﻰ ﻫﺬا اﻟﺤﺎﻝ ﺯﻣﺎﻧﺎ ﻃﻮﻳﻼ، ﺛﻢ ﻟﻤﺎ ﻣﺎﺕ ﺳﻤﻊ ﺃﻫﻞ اﻟﺒﻠﺪ ﻫﺎﺗﻔﺎ ﻳﻘﻮﻝ: اﺣﻀﺮﻭا ﻳﺎ ﺃﻫﻞ اﻟﺒﺼﺮﺓ ﻭاﺷﻬﺪﻭا ﺟﻨﺎﺯﺓ ﻭﻟﻲ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻴﺎء اﻟﻠﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻋﺰﻳﺰ ﻋﻨﺪﻱ، ﻓﺤﻀﺮ ﺃﻫﻞ اﻟﺒﻠﺪ ﺟﻨﺎﺯﺗﻪ ﻭﺩﻓﻨﻮﻩ، ﻓﺮﺃﻭﻩ ﻓﻲ اﻟﻤﻨﺎﻡ ﻭﻫﻮ ﻳﺮﻓﻞ ﻓﻲ ﺣﻠﻞ ﺳﻨﺪﺱ ﻭاﺳﺘﺒﺮﻕ، ﻓﻘﻴﻞ ﻟﻪ ﺑﻢ ﻧﻠﺖ ﻫﺬﻩ اﻟﻔﻀﻴﻠﺔ؟ ﻗﺎﻝ ﺑﺘﻌﻈﻴﻢ ﻣﻮﻟﺪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
d ceritaken pd zaman Khalifah Harun Al Rosyid ada seorang pemuda dr Basrah yg gemar foya2 dan berbuat dosa. sehingga penduduk setempat menganggap hina pemuda tsb. akan tetapi setiap kali datang bulan Rabiul Awal (Maulid) pemuda tsb mencuci bajunya , memakai wewangian , membersihken dirinya dan mengadaken walimah (jamuan makan) serta membaca Maulid Nabi SAW. dan hal tsb menjadi rutinitas sepanjang hidupnya.

dan ketika dia meninggal , masyarakat mendengar bisiken : 
wahai penduduk Basrah , datangilah jenazahnya salah satu wali Alloh , sesungguh dia mulia d sisinya. maka masyarakat datang berduyun2 menghadiri jenazah dan pemakaman pemuda tersebut.

dlm tidur , para penduduk bermimpi bahwa pemuda tersebut d agungken dg mengenaken pakaian sutera dan penduduk (yg bermimpi) bertanya : dg sebab apa kamu memperoleh keutamaan ini ?.
pemuda menjawab : karena telah mengagungken kelahiran Nabi Muhammad SAW.
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ ﺍﻟﻴﻤﻨﻰ: ﻣﻦ ﺟﻤﻊ ﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ‏(ﺹ ‏) ﺇﺧﻮﺍﻧﺎ ﻭﻫﻴﺄ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻭﺃﺧﻠﻰ ﻣﻜﺎﻧﺎ ﻭﻋﻤﻞ ﺇﺣﺴﺎﻧﺎ ﻭﺻﺎﺭ ﺳﺒﺒﺎ ﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ

ﺑﻌﺜﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺪﻳﻘﻴﻦ ﻭﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀ ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ

ﺟﻨﺎﺕ ﺍﻟﻨﻌﻴﻢ
syeh imam yafi’I al yamani berkata : barangsiapa Mengundang saudara2nya berkumpul untuk acara Maulid rosul SAW , menyiapken makanan , meluasken tempat2 , beramal

bagus dan menjadi penyelenggara pembacaan maulid rosululloh saw. maka d hari qiyamat Alloh swt

membangkitkennya bersama orang2 yg jujur , orang2 yg mati syahid , dan para sholihin dan mereka semua d surga Naim.
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺴﺮﻱ ﺍﻟﺴﻘﻄﻲ : ﻣﻦ ﻗﺼﺪ ﻣﻮﺿﻌﺎ ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻴﻪ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ‏( ﺹ ‏)

ﻓﻘﺪ ﻗﺼﺪ ﺭﻭﺿﺔ ﻣﻦ ﺭﻳﺎﺽ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻻﻧﻪ ﻣﺎ ﻗﺼﺪ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﻮﺿﻊ ﺇﻻ ﻟﻤﺤﺒﺔ

ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ
syeh sariy as saqothi , guru dr syeh al Kurkhi berkata : barangsiapa menuju tempat d mana d sana d bacaken Maulid rosululloh saw , maka mereka bagaiken menuju taman2 surga ,

karna tdk ada tujuan menuju tempat tsb kecuali atas dasar cinta Rosululloh saw.
ianah  3  hal  415

Iklan

Aksi Super Damai 212

​Sebelum berangkat niat bela Al-Qur’an yang dinista ada pesan W.A dari group teman2 kita  yang terjangkit virus liberalism. Di Antara mereka masih ada yang  bertanya:

“Besok 212 itu  jihad opo?” “Lawane Sopo?”
Sy enggan & malas ngomentari.

Lha koq 2 mnt kemudian ada kirim tulisan Gutuxmatux bikin mantuxmantux ini..!!!

Tadzkirah dari group…
*AYAT PILIHAN KOMBINASI ANGKA 212 (Tanggal Aksi Super Damai)* 
Ada kawan yang mencoba melakukan penelaahan di ayat Al Qur’an mengenai angka 212 …. Masyaa Allah … saya benar2 terkaget2 dengan arti dari ayat2nya … 
Saya lakukan dengan Al Qur’an Al Hadi keluaran Pusat Kajian Hadits (versi Android), kurang lebih begini yang saya dapatkan :
QS : 2 : 12
أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ ﴿١٢﴾
*”Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”*
Saya lanjutkan lagi dengan QS. 21:2
مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا ٱسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ ﴿٢﴾
*”Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main”*
Makin terkejut saya dengan arti ayat tersebut …. penasaran berlanjut, ada dua surat dalam Al Qur’an yang mempunyai ayat 212.
QS. 2 : 212
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۘ وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴿٢١٢﴾
*”Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”*
Allahu Akbar !!! Allahu Akbar !!!

Duhai Ustadz ku…!!!

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ رَجَاءٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ جَمِيلٍ حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ

ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالْآخَرُ عَالِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ قَالَ سَمِعْت أَبَا عَمَّارٍ الْحُسَيْنَ بْنَ حُرَيْثٍ الْخُزَاعِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ الْفُضَيْلَ بْنَ عِيَاضٍ يَقُولُ عَالِمٌ عَامِلٌ مُعَلِّمٌ يُدْعَى كَبِيرًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ.

رواه الترمذي ٢٦٠٩
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul A’la Ash Shan’ani telah menceritakan kepada kami Salamah bin Raja` telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Jamil telah menceritakan kepada kami Al Qashim Abu Abdurrahman dari Abu Umamah Al Bahili ia berkata; “Dua orang disebutkan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, salah seorang adalah ahli ibadah dan yang lain seorang yang berilmu, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian, ” kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib shahih. Perawi berkata; “Aku mendengar Abu ‘Ammar Al Husain bin Huraits Al Khuza’I berkata; Aku mendengar Al Fudlail bin Iyadl berkata; “Seorang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkan ilmunya akan dipanggil besar oleh para Malaikat yang ada di langit.”

(HR. At-Turmudzy no.2609)

Syeikh Az-Zarnuji mengatakan : Kendati para penuntut ilmu telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, namun banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya. Ini dikarenakan kesalahan dalam cara menuntut ilmu, dan diabaikannya syarat-syarat dalam menuntut ilmu karena barangsiapa salah jalan, tentu akan tersesat dan tidak akan mencapai tujuan. [Ta’limul Muta’allim]

Diantara syarat yang sering diabaikan oleh para penuntut ilmu sekarang adalah kurang bahkan tidak menghormati guru. Dalam kitab Taysirul Khallaq disebutkan seorang penunut ilmu haruslah meyakini bahwa guru mempunyai kedudukan seperti orang tua, bahkan bisa lebih tinggi, karena orang tua memelihara jasadnya, tapi guru berusaha memelihara jiwanya. Orang tua memperhatikan urusan dunia kita, sementara guru memperhatikan urusan akhirat kita. 
Coba kita perhatikan. Kita mengenal Allah, para Nabi, bahkan kita bisa membaca Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber ajaran islam sehingga bisa menggali lebih dalam syariat islam namun terkadang kita lupa dari manakah kita mengenal semua itu? Tidaklah mungkin kita kenal semua itu tanpa bimbingan guru. Maka benarlah perkataan ulama :

لولا المربي، ما عرفت ربي

Seandainya tidak ada guru, niscaya aku tidak mengenal Tuhanku [Kitab Hikmatul Isyraq]

Betapa mulianya seorang guru hingga Sayyidina Ali yang digelari sebagai kotanya ilmu berkata:

أنا عبد من علمنى ولو حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق

Aku adalah hamba sahaya dari seseorang yang mengajariku walau hanya satu huruf, jika ia mau maka ia boleh menjual dan jika ia mau maka ia boleh menjadikan aku sebagai budaknya. [Ta’limul Muta’allim]
Imam Ahmad banyak mengambil ilmu dari Imam Syafi’i hingga ia berkata: Jika dalam suatu permasalahan tidak aku temui haditsnya maka aku memutuskan hukum dengan perkataan Imam Syafii. [Siyar A’lamin Nubala’] Maka sebagai balasannya Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

إِنِّيْ لأَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِيِّ فِيْ صَلاَتِيْ مُنْذُ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً، أَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيِّ

 Aku mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Aku berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” [al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i]
Suatu ketika Habib Umar Bin Abdurrahman Al-Atthas (Penyusun Ratib Al-Atthas) sedang duduk bersama para santrinya dan salah satunya bernama Ali Barash yang sedang memijit kaki beliau. Beliau berkata kepada para santri : “Kita kedatangan tamu istimewa Nabi Khidir dan sekarang beliau sudah berada di gerbang pondok”. Maka serentak para santri berhamburan untuk menyambut kehadiran Nabi Khidir kecuali Ali Barash, ia tetap tenang memijit gurunya. Habib Umar bertanya kepada Ali: “Yaa Ali, kenapa kau tidak ikut santri yang lain?” Ali menjawab: “Wahai guruku, Nabi Khidir datang untuk menemuimu, untuk apa aku lepaskan tanganku dari kakimu karena kedudukanmu sebagai guru di mataku jauh lebih mulia dibandingkan Nabi Khidir”. Mendengar jawaban ini, Habib Umar sangatlah ridlo kepada muridnya ini dan beliaupun berkata: “Tidak akan kuterima hadiah fatihah dari siapapun kepadaku kecuali disertai dengan nama Ali Barash”.
Subhanallah! Lantas bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memuliakan guru kita dimana kita banyak mengambil ilmu dari mereka? Sudahkah kita memposisikan guru seperti yang dilakukan syeikh Ali Barash? Sudahkah kita mendoakan mereka seperti yang dilakukan oleh Imam Ahmad kepada As-Syafi’i? Astagfirullah…Betapa bakhilnya penuntut ilmu zaman ini jangankan memuliakan guru, merekapun enggan menyebut nama guru sebagai sumber ilmunya, padahal disitulah letak keberkahan ilmu. Jalaluddin Abdrurrahman bin Abu Bakar mengatakan :

ومن بركة العلم وشكره عزْوُه إلى قائله

Di antara keberkahan ilmu dan wujud mensyukurinya ialah menisbatkan setiap perkataan kepada orang yang mengatakannya.[ Kitab Al-Muzhir]
Hilangnya keberkahan itu diakibatkan seorang penuntut ilmu telah menjadi pendusta, Simak sabda Nabi SAW :

الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلاَبِسِ ثَوْبَىْ زُورٍ

“Orang yang berpenampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian kedustaan”.  [HR Bukhari] Bahkan ada ulama yang menilai bahwa perbuatan tersebut termasuk sariqah (pencurian) karena ia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya . Ia juga dianggap sebagai penipu karena ia menipu orang lain dengan pembentukan opini bahwa perkataan itu adalah hasil dari jerih payahnya sendiri. Wallahu A’lam. Semoga kita menjadi orang yang memuliakan guru-guru kita dan ilmu mereka sehingga setiap kita berhak mendapatkan ilmu yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. Mari kita doakan guru-guru kita semoga mereka senantiasa mendapat perlindungan dan rahmat dari Allah swt, Lahumul Fatihah. Selamat hari guru…

ibu

​💝*        I  B  U……
Aku mempunyai  pasangan hidup… 

Aku mempunyai ibu…
Saat senang aku cari pasanganku…

Saat sedih aku baru cari ibuku…
Saat sukses aku ceritakan pada pasanganku…

Saat gagal aku ceritakan pada ibuku…
Saat bahagia aku peluk erat pasanganku…

Saat sedih aku peluk erat ibuku…
Saat liburan aku bawa pasanganku…

Saat aku BT aku mampir ke rumah ibuku…
Selalu aku ingat pasanganku…

Selalu ibuku yg ingat aku…
Setiap saat  aku akan telpon pasanganku…

Kalau lagi inget  baru aku akan telpon ibuku..
Selalu aku belikan hadiah untuk pasanganku…

Entah kapan aku akan belikan hadiah untuk ibuku…
Renungkan teman….!!!
“Anakku, kalau kau sudah habis belajar dan berkerja, bolehkah kau kirim uang untuk ibu? Ibu tdk minta banyak, lima puluh ribu sebulan pun cukuplah.
Berderai air mata jika kita mendengarnya…..
Tapi kalau ibu sudah tiada……….kita baru merasakan kasih sayangnya
IBU……

AKU RINDU……

AKU RIIINDDUU……

SANGAT RINDUUUU….
Berapa banyak yang sanggup menyuapkan ibunya….

Berapa banyak yang sanggup melap  muntah ibunya…..

Berapa banyak yang sanggup mengganti lampin ibunya…..

Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya…….

Berapa banyak yang sanggup membuang ulat dan membersihkan luka kudis ibunya….

Berapa banyak yang sanggup berhenti bekerja untuk menjaga ibunya….

Dan akhir sekali, berapa banyak yang mendoakan JENAZAH ibunya…
Surga di telapak kaki Ibu…   Ingat…!!!
Ibu adalah bidadariku
*Seorang ibu mampu merawat 10 anak,tapi 10 anak blm tentu mampu merawat seorang ibu*

💝Semoga bermanfaat

Hikmah & Rahasia Mengajar 

​Kajian Alhikam

Pasal:

*Rahasia mengajar & Menasehati*
من عَبَّرَ مِن بِساطِ احْسانِه اصْمَتـَتْهُ الاِساءةُ ومنْ عَبَّرَ مِن بِساطِاِحْساَنِ اللهِ اليهِ لم يَصْمُتْ اذاأساءَ
“Barang siapa menerangkan ilmu/mengajar dengan memandang bahwa keterangannya itu muncul dari kebaikan dirinya, maka dia akan terdiam jika berbuat salah/maksiat, dan siapa yang menerangkan ilmu/mengajar dengan memandang bahwa ilmu/keterangannya itu pemberian Alloh padanya, maka ia tidak akan diam bila ia berbuat salah/dosa.” 
 
Syarah
Hikmah ini menerangkan tentang orang yang mengajar/memberi nasihat tentang kebaikan dengan merasa bahwa dirinya sudah baik, dan merasa bahwa keterangannya itu hasil dari kebaikannya sendiri(yakni dia masih memandang dirinya sendiri), maka bila suatu saat dia tergelincir dalam dosa, dia akan merasa malu untuk memberi nasihat/mengajar orang lain, akan tetapi bila ia ketika memberi nasihat/mengajarkan ilmu pada orang lain itu hanya memandang bahwa ilmunya itu karunia dari Alloh, ia tidak memandang dirinya, maka dia tidak merasa malu untuk menerangkan ilmu/memberi nasihat jika suatu saat ia tergelincir dalam dosa. Sebab berbuat kebaikan itu hanya semata-mata karunia dari Alloh.
 Syeih Abul-Abbas Al-Mursy ra. Berkata: Manusia itu terbagi menjadi tiga golongan. Pertama : golongan yang selalu memperhatikan apa-apa yang dari dirinya kepada Alloh. kedua : Golongan yang selalu hanya ingat pemberian dan karunia dari Alloh kepda dirinya. Ketiga : Golongan yang hanya memandang bhwa semua dari Alloh kembali pada Alloh.
  Golongan pertama : selalu memikirkan kekurangan diri dalam menunaikan kewajibannya, sehingga selalu berduka cita.
  Golongan kedua : selalu melihat semua itu adalah karunia dari Alloh, maka ia selalu gembira.
  Dan golongan ketiga : Telah lupa pada dirinya sendiri, hanya teringat bahwa semuanya berasal dari Alloh dan akan kembali kepada Alloh, maka semua terserah Alloh.
  Syeih Abul Hasan As-Syadzily ra. Berkata : Pada suatu malam saya membaca surat Qul-a’udzu birobbinnas hingga akhir surat. Tiba-tiba terasa bagiku bahwa : Syarril was-waasil-khonnaas, yang berbisik dalam hati itu ialah yang menyusup antara kau dengan Alloh, untuk melupakan engkau dari karunia-karunia Alloh, yang halus dan samar, dan mengingatkan engkau pada perbuatan-perbuatanmu yang jahat/dosa.  Tujuannya untuk membelokkan engkau dari khusnud-dhon kepada su’udh-dhon terhadap Alloh. Maka waspadalah.  Beliau juga berkata : Seorang ‘Aarif itu ialah seorang yang telah mengetahui rahasia-rahasia karunia Alloh didalam berbagai macam ujian bala’ yang menimpanya sehari-hari. Danjuga menyadari/mengakui kesalahan-kesalahanny didalam lingkungan belas kasih Allohkepadanya. Beliau berkata lagi : Sedikitnya amal dengan mengkui karunia Alloh, itu lebih baik dari banyaknya amal dengan merasa kekurangan diri sendiri. Yakni seolah-olah mempunyai kekuatan sendiri untuk bikin baik, hanya sekarang belum baik, sehingga ia selalu berduka cita memikirkan bagaimana ia dapatnya lebih baik. Padahal seharusnya ia menyerah dan hanya meminta kepada Alloh saja. sebab jika Alloh belum memberi maka tetap tidak ada perubahan pada dirinya, berdasarkan pengertian ayat :
وَمنْ يَتَوكـَّلْ عَلى اللهِ فـَهُوَ حَسْبُهُ
(Dan siapa yang berserah diri kepada Alloh, maka Alloh sendiri yang akan mencukupi/ melengkapi kekurangannya.)