rokok membunuhmu…!!!

HUKUM ROKOK

Bahaya merokok sudah sering kita dengar. Bahkan di setiap bungkus rokok tertera peringatan mengenai penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan oleh kebiasaan merokok. Tetapi anehnya, sering kita melihat ustadz-ustadz yang tidak mengindahkan bahaya itu dan dengan bebas merokok di hadapan umum. Di kalangan santri pun, fenomena merokok merupakan hal yang lumrah. Hal inilah yang sering dijadikan hujjah oleh orang-orang awam untuk merokok tanpa ragu. Sebenarnya bagaimanakah hukum rokok dilihat dari segi pandang syariat ?

Kami menjawab

Di kalangan ulama, hukum rokok telah menjadi hal yang kontroversial, sebab rokok memang merupakan hal baru yang tidak ditemukan di zaman Rasul saw, sehingga tidak ada nash shorih baik dari Al-Quran mau pun hadits mengenai hukumnya. Secara ringkas, khilaf ulama mengenai rokok adalah sebagai berikut(1) :

1. Boleh/mubah: Tidak ada dalil yang dengan jelas mengharamkannya dan mereka menganggap rokok tidak berbahaya bagi kesehatan serta bukan termasuk muskir (perkara yang memabukkan) atau mukhoddir (merusak pikiran).

2. Makruh: Tidak ada dalil yang dengan jelas mengharamkannya. Tetapi karena rokok menimbulkan bau yang tidak sedap baik dari asapnya mau pun dari mulut

mereka yang mengkonsumsinya, maka mereka menyamakannya dengan hukum mengkonsumsi bawang merah atau bawang putih mentah.

3. Wajib: Bagi mereka yang Jika tidak merokok dapat membahayakan jiwanya.

4. Sunnah: Jika dokter ahli yang dapat dipercaya merekomendasikannya sebagai obat bagi penyakit seseorang.

5. Haram: Dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

a.Para dokter telah sepakat bahwa rokok dapat membahayakan kesehatan. Mereka yang mengkonsumsinya beresiko terjangkit penyakit kanker, jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Ajaran Islam telah memerintahkan pemeluknya untuk meninggalkan segala yang membahayakan, sebagaimana firman Allah SWT :

           



0T“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-baqarah :195)

0TDan juga hadits Rasulullah 0Tsaw0T:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِ رَارَ

“Janganlah berbuat sesuatu yang membahayakan, dan jangan membalas dengan berbuat sesuatu yang membahayakan.” (HR Ibnu Majah, 2340)

b. Mengkonsumsi rokok juga bisa digolongkan sebagai tindakan isrof atau tabdzir (pemborosan) harta(2), karena tergolong membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaat dan bahkan berbahaya bagi kesehatan. Pemborosan termasuk hal yang diharamkan, sebagaimana firman Allah :

         

         

 

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (al-Isra’ : 26-27)

c.Merokok dapat merubah mental dan watak pecandunya.

Uraian:

Pendapat pertama menyatakan bahwa merokok adalah mubah karena dianggap tidak membahayakan kesehatan. Para ahli

medis telah menyanggah hal ini dan bersepakat bahwa rokok sangat berbahaya bagi kesehatan, baik dalam jangka pendek mau pun jangka panjang

(3). Mengkonsumsi sesuatu yang membahayakan menurut kesepakatan ulama adalah haram.

Pendapat kedua menyatakan bahwa merokok adalah makruh karena tidak ada dalil tegas yang mengharamkannya. Ini pun tersanggah dengan alasan di atas, karena semua yang membahayakan, hukumnya berubah menjadi haram. Bahkan wudhu yang wajib pun bisa menjadi haram jika orang yang berwudhu mengidap penyakit yang berbahaya jika terkena air.

Pendapat ketiga menyatakan bahwa merokok adalah wajib apabila dapat membahayakan jiwa jika tidak dilakukan. Ini bukanlah hukum asal (hukum yang berlaku dalam keadaan normal) akan tetapi hukum aridhi yang baru bisa berlaku ketika keadaan tersebut benar-benar terjadi, dan bukan dalam keadaan normal. Oleh karena itu, kebolehan merokok tidak bisa digunakan sebagai dalil. Bahkan hukum memakan bangkai yang asalnya haram bisa berubah menjadi wajib bagi mereka yang kelaparan dan tidak menemukan makanan lain untuk mempertahankan hidupnya.

Pendapat keempat menyatakan kesunahan rokok jika dokter merekomendasikannya sebagai obat. Ini pun hukum aridhi yang tidak bisa dijadikan landasan dalam keadaan normal. Lagi pula pada kenyataannya para ahli medis telah sepakat mengenai bahaya merokok.

Pendapat terakhir menyatakan keharaman rokok. Pendapat ini menurut kami adalah yang paling tepat ditinjau dari segi dalil dan sikap lebih berhati-hati (ihtiyath). Pendapat ini juga sesuai dengan ruh Islam yang menjadikan kesehatan sebagai nikmat teramat mahal yang perlu dijaga, melarang pemborosan (isrof) dan selalu menganjurkan untuk menyalurkan harta kepada hal-hal yang bermanfaat. Allah swt berfirman:

         

          

   

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” “Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (al-baqarah: 215).

Oleh karena itu, alangkah indah dan eloknya jika setiap muslim sadar untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Terlebih bagi kalangan ustadz, ulama dan tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat awam. Merokok termasuk perbuatan yang tidak

berguna. Bahkan dapat merugikan pelakunya, agama, dan harta. Rasulullah saw bersabda :

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْ نِيهِ ، رواه الترمذي واحمد

“Termasuk kesempurnaan Islam seseorang meninggalkan segala yang tidak manfaat (dalam agama) baginya. “ (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)

Namun sangatlah ironis bahwa ketika orang-orang di luar Islam mulai menyadari bahaya rokok dan berusaha untuk meninggalkannya, justru sebagian ulama muslim, orang-orang yang menjadi uswah / tauladan bagi umat membelanya mati-matian. Ini adalah contoh negatif yang mencoreng wajah Islam. Karena pembelaan ini, banyak orang awam yang dengan bebas merokok tanpa merasa bersalah dengan menjadikan perbuatan mereka sebagai hujjah. Bahkan banyak anak-anak yang belum baligh yang terjerumus dan dengan bebas mengisap rokok. Siapakah yang akan bertanggung-jawab di hadapan Allah nanti di Hari Kiamat ?

Al Habib Abdullah bin Umar as-Syathiri ra berkata :

تَسْتَحْسِنُ التُّنْبَاكَ فِي فِيْكَ # وَتَسْتَحْيِي بِأَنْ تَسْتَعْمِلَ الْمِسْوَاكَا

“Kamu menilai bagus rokok di mulutmu, namun kamu malu

menggunakan siwak.”

وَالشَّرْعُ ثُمَّ الطِّبُّ قَدْ نَهَاكَ عَنْ # ذَاكَ الْأَذَ ى وَبِفِعْلِ ذَا اَمَرَاكَا

“Padahal syariat dan medis benar-benar telah melarangmu

dari penyakit (rokok) itu, dan dengan menggunakan siwak

keduanya (syariat dan medis) menganjurkanmu.”

لَوْ كُنْتَ تَعْكِسُ فِي الْقَضِيَّةِ كَانَ اَوْ # لَى مِنْكَ لَكِنَّ اللَّعِيْنَ اَغْوَاكَا

“Jika kamu membalik kejadian di atas, maka lebih baik bagimu,

namun yang terkutuk (setan) telah menyesatkanmu.”

فَلَكَمْ اَضَعْتَ بِهِ نَفِيْسَ اْلمَالِ لَوْ # اَنْفَقْتَهُ يَا صَاحِ فِي اُخْرَاكَا

“Berapa banyak engkau hamburkan harta yang bernilai,

seandainya saja engkau sedekahkan wahai sahabatku untuk

kebahagiaan akhiratmu.”

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s