Kelompok-kelompok Islam dalam Pandangan Syara’

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Di dunia Islam – semenjak runtuhnya Imperium Islam di Turki tahun 1924 – banyak sekali kelompok ummat Islam yang berusaha mengembalikan kekuatan ummat dengan menegakkan kembali tatanan sistem Islam.

Berawal dari suatu negeri, kelompok-kelompok tersebut berdiri dan kemudian menyebar serta mengakar ke seluruh pelosok negeri di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, kelompok-kelompok tersebut lebih banyak di terima di kalangan kampus. Sehingga bisa dilihat, banyak sekali nama-nama kelompok yang kadangkala berbeda dengan nama kelompok asalnya, namun ide yang dikembangkan sama – di samping ada pula yang tetap menggunakan nama kelompok asalnya. Dari mereka pula lahirlah istilah-istilah seperti : Usrah, Harakah, Jama’ah, Halaqah, dll.

Ada juga kelompok-kelompok pribumi, yaitu kelompok-kelompok yang tidak ada korelasi ideologis dengan kelompok-kelompok Timur Tengah, namun mereka lahir atas tuntutan atau kebutuhan kondisi waktu itu. Kelompok ini agak moderat dan kooperatif dengan sistem yang ada – di samping ada juga yang non-kooperatif dan bersifat radikal.

Keberadaan Kelompok-kelompok Islam dalam Pandangan Syara’

Kelompok Islam juga sering disebut dengan Ormas KeIslaman, Harakah dan Jama’ah Da’wah. Harakah — berdasarkan etimologi Bahasa Arab – diambil dari kata At-Taharruk, yang artinya bergerak atau berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain .

Istilah ini kemudian populer dengan arti : Sekelompok orang atau suatu gerakan yang mempunyai target tertentu dan mereka berusaha bergerak serta berupaya untuk mencapainya.

Dari penjelasan tersebut, Harakah bisa dilakukan oleh individu dan juga oleh suatu organisasi atau jama’ah; karena sifat Harakah adalah pengguliran pemikiran, di mana dengannya diharapkan tujuannya akan tercapai.

Sedangkan Jama’ah — secara etimologi – berasal dari akar kata Al-Jam’u, artinya berkumpul. Arti yang lebih populer : Sekelompok individu yang berkumpul untuk mencapai cita-cita dengan rencana dan pengaturan yang telah dirumuskan.

Dari penjelasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa Harakah dan Jama’ah ada korelasi yang sangat erat; bahwa setiap Jama’ah adalah Harakah, namun tidak sebaliknya, karena Harakah bisa dilakukan oleh individu.

Allah membenarkan adanya kelompok Islam yang bertugas untuk Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, yaitu suatu aktivitas untuk mengingatkan manusia akan pelaksanaan hukum-hukum syara’ secara universal (Lihat Q.S. Ali-‘Imran : 104 dan Q.S. An-Nahl : 89).

Rasulullah SAW sendiri bersabda : dari Umamah beliau berkata : “Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang berada (berpegang-teguh) pada agamanya. Mereka menang dan mengalahkan musuhnya. Tidak merugikan bagi mereka orang-orang yang menyalahi mereka, kecuali rasa sakit, hingga datang pada mereka putusan Allah dan mereka tetap begitu (yaitu tetap di atas kebenaran) … “ (H.R. Abdullah bin Ahmad Wijadah, Ath-Thabraniy dan Ahmad).

Dari sini dapat dijelaskan juga tentang kriteria kelompok/jama’ah menurut hukum Islam sebagai berikut :

Selalu berada dalam kebenaran aqidah Islam
Aktivitas-aktivitasnya terikat terhadap hukum syara’ secara menyeluruh, tidak parsial.
Kelompok tersebut sebagai reformer dari ummat
Ada target yang jelas, dilandasi oleh aqidah Islam dan hukum-hukum syara’
Ada metode yang sesuai dengan hukum syara’ dalam meraih target tersebut.

Problem yang Terjadi Antar Kelompok

Selingkuh dan perselisihan antar kelompok-kelompok Islam kerap terjadi. Hal ini disebabkan adanya perbedaan penafsiran hukum syara’ dalam menentukan target dan metodenya.

Kalau kita lihat fakta di lapangan, maka pada aktivitas kelompok-kelompok Islam tersebut ada beberapa target berbeda yang diambil oleh mereka, yaitu :

Target memperbaiki individu dengan aqidah dan akhlaq
Target memperbaiki masyarakat dengan aktivitas sosial keIslaman, seperti : mengadakan pendidikan Islam, memelihara anak yatim, dan membuka jaringan internet Islam, dsb
Target memperbaiki sistem yang melahirkan masyarakat

Dari beragamnya target yang mereka tentukan, tentunya akan berbeda pula metode mereka dalam menjalankan dan mengaplikasikan target tersebut.

Perbedaan yang terjadi di antara kelompok-kelompok Islam tersebut berakar dari perbedaan pemahaman terhadap hukum syara’, terlebih Siirah Nabawiy.
Untuk lebih jelasnya, penulis akan menjelaskan satu demi satu dalil-dalil mereka di bawah ini.

1.     Dalil-dalil yang digunakan oleh kelompok pertama :
a.     Al-Qur’an. Surat Al-Maidah : 105

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk … “
Q.S. Al-Maidah : 105

b.     Al-Qur’an. Surat Al-Jumu’ah : 2

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah …”
Q.S. Al-Jumu’ah : 2

c.     Al-Qur’an. Surat Ali-‘Imran : 164

“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah …”
Q.S. Ali-‘Imran : 164

d.    Siirah Nabawiy.
Bahwa da’wah pertama kali yang disampaikan oleh Rasulullah SAW adalah melalui perbaikan individu-individu terhadap aqidah mereka, hingga mencapai 40 orang yang dikumpulkan di rumah Al-Arqam bin Abiy Al-Arqam.

2.     Dalil-dalil yang digunakan oleh kelompok kedua :
a.     Al-Qur’an. Surat Huud : 116

“Maka mengapa tidak ada dari ummat-ummat yang sebelum kamu mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang dzalim hanya mementingkan keni’matan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.”
Q.S. Huud : 116

b.    Al-Qur’an. Surat Ali-‘Imran : 104

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; dan merekalah orang-orang yang beruntung.”
Q.S. Ali-‘Imran : 104

Al-Ma’ruf — menurut mereka – bersifat umum; apakah itu aktivitas sosial atau politik. Dan ayat umum tetap keumumannya kecuali ada ayat-ayat yang mengkhususkannya. Imam At-Thabariy memberikan pengertian tentang Al-Ma’ruf sebagai segala sesuatu yang baik menurut syara’ berupa perkataan dan perbuatan. Sedangkan Al-Munkar adalah sesuatu yang buruk menurut syara’ berupa perkataan dan perbuatan.

c.    Siirah Nabawiy.
Aktivitas pertama yang dilakukan Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah adalah membangun masjid sebagai pusat aktivitas da’wah dan mempersaudarakan Muhajirin dengan Anshor. Baru setelah itu Rasulullah membangun sistem Islam dengan dibuatnya Piagam Madinah.

3.     Dalil-dalil yang digunakan oleh kelompok ketiga :
a.    Kelompok ini menafsirkan Al-Qur’an Surat Ali-‘Imran : 104 tentang lafadh Al-Ma’ruf dengan tafsiran bahwa Al-Ma’ruf yang paling agung adalah tegaknya sistem Islam (Khilafah).
b.    Dalam Siirah Nabawiy, menceritakan maksud kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah adalah untuk mendirikan Daulah Islamiyah .
c.    Fakta sekarang menunjukkan tidak mungkin berda’wah tanpa mengubah sistem secara total, karena aktivitas sosial yang ada sekarang ini adalah tugas penguasa Islam, bukan tugas ummat. Oleh karena itu, ummat Islam harus berkonsentrasi terhadap aktivitas untuk mewujudkan penguasa Islam tersebut — yang memiliki otoritas internasional.

Akar Masalah yang Menyebabkan Perbedaan Tersebut

Akar masalah tersebut adalah Siirah Nabawiy; para ‘ulama memandangnya sebagai suatu khasanah keIslaman yang wajib diketahui oleh setiap muslim. Ia merupakan kumpulan hadits yang membicarakan biografi Nabi Muhammad SAW. Al-Maghaziy karya Ibnu Ishaq merupakan kitab siirah yang pertama disusun. Sedangkan Siirah Ibnu Hisyam merupakan siirah yang terkenal dan layak dipakai sebagai referensi sarjana muslim. Ibnu Hisyam adalah murid Ibnu Ishaq (seorang Thabi’in yang meninggal pada tahun 154 H).

Sikap kita terhadap Siirah adalah sama dengan sikap kita terhadap hadits-hadits Rasulullah SAW. Kadangkala bersifat marfu’, mauquf, dan maqfu’ – ini jika dilihat dari sisi sanad. Sedangkan dari sisi kevalidan sanad-nya ada yang shahih, lemah (dha’if) dan palsu. Dan dari sisi periwayatannya ada yang mutawatir serta ahad.

Kalau kita teliti, ternyata jika kita melihat Siirah secara per peristiwa, maka Siirah tersebut bisa dha’if, shahih, bahkan palsu – ini dari sisi keberadaan Siirah. Sedangkan dari sisi dlilalah (pemahaman), maka Siirah bisa bersifat Dzanniy dan ada yang bersifat Qath’iy, seperti turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama kali, para ‘ulama berbeda pendapat; demikian pula ayat yang terakhir kali turun.

Bisa disimpulkan bahwa metodologi dalam meraih target serta penentuan targetnya adalah bersifat Dzanniy. Oleh karena itu, ia merupakan lahan ijtihad. Sedangkan hal-hal yang bersifat ijtihadiyyah adalah benar menurut yang ber-ijtihad.

Bagaimana Kita Bersikap ?

1.    Apapun yang kita lakukan, selama terikat dengan hukum syara’, maka sah adanya. Oleh karena itu, kita harus berlapang dada terhadap perbedaan itu – yang secara alami memang berbeda. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, Surat Huud : 115
“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan”
Q.S. Huud : 115

Bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap aktivitas seorang muslim, bahkan sekecil apapun aktivitas itu. Rasulullah bersabda :

“Janganlah kalian menghina aktivitas baik, sekecil apapun”
(H.R. Muslim)

Kita harus bercermin dan berpedoman dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hujurat : 11-12 ketika kita hidup dalam interaksi dengan kelompok-kelompok Islam, baik di kampus maupun di masyarakat.
Wa Allahu A’lam

Perbedaan Antara ‘Aqidah dan Syari’ah

Pendahuluan

Kerapkali dalam kehidupan masyarakat dijumpai adanya fakta – yang mungkin sulit untuk dibantah — bahwa ternyata Islam itu tidaklah satu (ummatan waahidah). Soal penetapan awal Idul Fithri misalnya; sudah berapa kali kita menghadapi ‘ketidakbersamaan’ dalam merayakan hari kemenangan itu. Belum lagi hal-hal ‘kecil’ yang sudah teramat akrab di telinga kita, semacam sholat shubuh; ada yang pakai qunut, ada yang tidak – sementara yang jarang atau tidak sholat shubuh luput begitu saja dari pembahasan.

Hal ini belum lagi jika ditambah dengan semakin banyaknya istilah yang mungkin bagi orang kebanyakan boleh jadi membingungkan. Apalagi jika istilah tersebut memberikan kesan peng-kotak-an Islam menjadi kelompok-kelompok tertentu. Ada Islam kiri, Islam abangan, Islam modernis, Islam tradisionalis, Islam kejawen, Islam radikal, dan sebagainya. Dan agaknya tidak enak juga untuk tidak menyebut Islam NU dan Islam Muhammadiyah. Sehingga tidak aneh jika ada yang bertanya : sebenarnya Islam itu ada berapa, sih ?

Persoalan semacam ini sebenarnya sudah lama muncul dalam blantika perkembangan Islam. Kita kenal aliran-aliran teologis semacam : mu’tazilah, qadariyah, jabariyah, dan ahlu as-sunnah muncul sejak jamannya Hasan al-Bashri. Bahkan sampai sekarang pun kelompok tersebut masih memiliki pengaruh pada pemikiran-pemikiran umat, sehingga beberapa waktu yang lalu tak heran jika ada yang – masih – mem-blow up adanya neo-mu’tazilah misalnya. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa bagaimanapun persoalan itu turut ambil bagian dalam proses terpuruknya peradaban Islam sampai seperti sekarang ini. Bukankah heterogenitas lebih menyimpan potensi disintegrasi yang lebih besar ?

Banyak sebenarnya latar belakang munculnya ‘keberbedaan’ di kalangan umat tersebut. Satu di antaranya — yang akan dibahas pada makalah sederhana ini – adalah masih adanya kekurangpahaman umat terhadap persoalan kapan bisa berbeda dan kapan harus senada, pada persoalan yang bagaimana bisa berbeda pendapat dan pada persoalan yang bagaimana pula harus sepakat bulat. Persoalan dimaksud adalah persoalan ‘aqidah dan syari’ah; sebuah persoalan yang menurut Bang Imad sebagai buntut dari perbedaan pendapat tentang pemimpin dan kepemimpinan pasca al-khulafa-u ar-rasyidin. Kekurangpahaman pada kedua persoalan tersebut pada saatnya memiliki andil terhadap terjadinya ‘keberbedaan’ itu.
‘Aqidah

Secara lughawiyah (etimologis), ‘aqidah berakar dari kata : ‘aqoda – ya’qidu – ‘agdan wa ‘aqiidatan. ‘Aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Sehingga, ‘aqiidatan atau ‘aqiidah – untuk selanjutnya ditulis ‘aqidah — berarti keyakinan; ‘aqada ‘alaihi al-qalbu, apa-apa yang hati meyakini atasnya, atau keyakinan yang tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian. ‘Aqada ‘alaihi berarti pula jazama bihi, memastikan / memutuskan dengannya, atau shadaqahu yaqiinan, membenarkannya (apa-apa yang di dalam hati) secara yakin. Muhammad Husain ‘Abdullah menambahkannya dengan athma-anna ilaihi, merasa tentram kepadanya.

Pembenaran ini umum sifatnya, meliputi pembenaran atas segala sesuatu. Hanya saja, pembenaran terhadap sesuatu itu harus dilihat kepada sesuatu yang dibenarkan itu. Jika sesuatu itu bersifat amrun asasiyyun (persoalan mendasar) atau merupakan cabang dari sesuatu yang mendasar, maka sesungguhnya sah-sah saja jika dikatakan sebagai sebuah ‘aqidah. Oleh karena itu, sesuatu itu layak untuk dipakai sebagai miqyas (tolok ukur standar /standar penilaian) bagi sesuatu yang lain. Dengan demikian akan ada atsar (pengaruh) yang jelas pada hati dalam meyakini sesuatu itu.

Namun, apabila sesuatu yang diyakini tersebut bukan suatu perkara yang mendasar dan bukan pula merupakan cabang dari suatu perkara yang mendasar, maka sesungguhnya sesuatu itu bukanlah ‘aqidah. Karena keyakinan hati terhadap sesuatu itu tidak menimbulkan atsar (pengaruh) apapun sama sekali. Maka, tidaklah akan didapatkan dengan meyakininya itu suatu faedah apapun.

Adapun apabila hati dalam meyakini sesuatu (yang mendasar) tersebut mampu menimbulkan atsar maka akan mampu mendorongnya dalam menentukan sikap – sebagai buah dari keyakinan itu — dalam pembenaran terhadap sesuatu atau pengingkaran terhadap sesuatu. Itulah ‘aqidah.

Oleh karena itu, ‘aqidah merupakan al-fikroh al-kulliyyah, yaitu pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, kehidupan dan apa-apa yang terjadi sebelum kehidupan dunia dan sesudahnya serta hubungan antara sebelum dan sesudah kehidupan dunia itu. Seperti itulah ‘aqidah diberikan pengertian, khususnya ‘Aqidah Islamiyyah, dimana ‘aqidah Islamiyyah memasukkan pula ke dalamnya persoalan-persoalan yang mughayyabat (ghaib).

Pemikiran yang menyeluruh inilah yang mampu membuka persoalan besar (al-‘uqdatu al-kubro) manusia yang lahir dari pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang : siapa yang menjadikan yang ada ini dari ketiadaannya ? Mengapa ? Dan kemana semua ini akan dikembalikan ? Jika manusia bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan dan meyakinkan atas persoalan besar itu, maka hal itu akan mengantarkannya kepada sebuah ‘aqidah, sampai kepada ‘aqidah yang shahih; yakni dengan pemecahan yang baik sesuai dengan fitrah, memuaskan akal, maupun menentramkan hati.

Dengan demikian, iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qadha’ dan qadar yang baik dan buruk itu datangnya dari Allah; itulah ‘aqidah Islamiyyah. Maka, iman kepada syurga, neraka, malaikat, syaithon, atau apa-apa yang semisal dengannya adalah ‘aqidah Islamiyyah. Khabar atau apa-apa yang berhubungan dengannya dari hal-hal yang bersifat ghaib, dimana panca indra boleh jadi tidak bisa membuktikan keberadaannya, bisa dianggap sebagai ‘aqidah Islamiyyah pula.

Syari’ah

Sedangkan syari’ah atau hukum syara’ adalah khithaabu asy-syari’ (seruan pembuat syara’) yang berhubungan dengan permasalahan af’ali al-‘ibad (aktivitas hamba). Dengan kata lain, hukum syara’ adalah pemikiran-pemikiran tentang aktivitas dari aktivitas-aktivitas manusia atau sifat dari sifat-sifat yang dimiliki manusia yang bisa dikategorikan sebagai aktivitas. Dengan bahasa lain, ‘ulama ushul fiqih mendefinisikan hukum syara’ sebagai doktrin (khithab) syari’ yang bersangkutan dengan perbuatan orang-orang mukallaf secara perintah, diperintah memilih atau berupa ketetapan (taqrir).

Dengan demikian, maka perniagaan, berdagang, melakukan riba, sholat, berzakat, dan sebagainya masuk sebagai persoalan hukum syara’.  Demikian pula bersikap adil, bersabar atas musibah, dan sebagainya.

Dari definisi hukum syara’ menurut ‘ulama ushul tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hukum itu bukan satu macam saja, karena hukum itu adakalanya bersangkutan dengan perbuatan mukallaf dari segi perintah atau diperintah memilih maupun dari segi ketetapannya. Sehingga hukum syara’ terbagi menjadi dua bagian, yaitu : Hukum Taklifi dan Hukum Wadh’i.

1.  Hukum Taklifi

Ialah hukum yang menghendaki dilakukannya suatu pekerjaan oleh mukallaf, atau melarang mengerjakannya, atau melakukan pilihan antara melakukan dan meninggalkannya.

Misalnya hukum yang menghendaki dilakukannya perbuatan oleh mukallaf sebagaimana firman Allah :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.”
(Q.S. At-Taubah : 103)

Contoh hukum yang menuntut meninggalkannya, sebagaimana firman Allah :

“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kelompok yang lain.”
(Q.S. Al-Hujuraat : 11)

Contoh hukum yang memberikan pilihan untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sebagaimana firman Allah :

“… Dan apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi …”
(Q.S. Al-Jumu’ah : 10)

Hukum seperti ini disebut hukum taklifi karena mengandung tuntutan (taklif) kepada mukallaf untuk mengerjakan, meninggalkan atau memilih mengerjakan atau meninggalkannya. Dari sinilah muncul pengertian : Wajib, Sunnat (Nadb), Haram, Makruh dan Mubah.

2.  Hukum Wadh’i

Ialah hukum yang menghendaki meletakkan sesuatu sebagai suatu sebab, syarat atau penghalang bagi sesuatu yang lain.

Contoh hukum yang menghendaki meletakkan sesuatu sebagai sebab dari yang lain sebagaimana firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku-siku.”
(Q.S. Al-Maidah : 6)

Contoh hukum yang menghendaki meletakkan sesuatu sebagai syarat dari yang lain sebagaimana firman Allah :

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”
(Q.S. Ali-Imran : 97)

Contoh hukum yang menghendaki meletakkan sesuatu sebagai penghalang dari yang lain sebagaimana sabda Rasulullah :

“Tidaklah sah nikah itu kecuali dengan (dipersaksikan) oleh dua orang saksi.”                                 (H.R. _________ )

Perbedaan Antara ‘Aqidah dan Syari’ah

Dari sini kita bisa melihat bahwa ada perbedaan antara ‘aqidah dan syari’ah (hukum syara’). ‘Aqidah adalah pembenaran secara pasti terhadap sesuatu sesuai dengan fakta dan dalil yang qath’iy; dimana sesuatu tersebut merupakan persoalan asasi atau cabang dari persoalan asasi. Sedangkan hukum syara’ adalah seruan asy-syari’ yang berkaitan dengan permasalahan aktivitas hamba dan cukup baginya dalil-dalil dhanniy.

Oleh karena itu, sholat sunnah fajar dua raka’at merupakan bagian dari hukum syara’ dilihat dari sisi sholatnya. Oleh karena itu, apabila kita tidak mengerjakannya, tidaklah mengapa, walaupun kalau mengerjakannya akan mendapatkan pahala. Demikian pula, sholat sunnah dua rakaat Maghrib merupakan hukum syara’ dilihat dari sisi sholatnya.

Namun dilihat dari sisi ‘aqidah, pembenaran terhadap keberadaan sholat sunnah fajar dua rakaat merupakan sesuatu perkara yang harus dan karenanya ingkar terhadapnya berarti kufur, karena periwayatan adanya sholat sunnah tersebut mutawatir. Sedangkan meyakini keberadaan sholat sunnah dua rakaat Maghrib memang dituntut, namun ingkar terhadapnya tidaklah digolongkan kufur, oleh karena periwayatan perintah tersebut dari sisi dalil yang dhanniy, yaitu hadits ahad, di mana hadits ahad tidak bisa dijadikan hujjah dalam persoalan ‘aqidah.

Dari sini jelas bahwa seringkali persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat sehingga terjadi peng-kotak-an sedemikian rupa ternyata bukan karena persoalan mendasar (‘aqidah). Bahkan juz’iyyah atau furu’iyyah yang tentunya berasal dari dalil-dalil yang sifatnya dhanniy. Sedangkan dalil-dalil dhanniy menyimpan potensi untuk banyak penafsiran, bahkan bisa saja diinkari pembenaran terhadap keberadaannya. Oleh karena itu, perbedaan di dalam lapangan ini menjadi wajar saja terjadi. Dengan begitu, sebenarnya masih ada pertanyaan tersisa ketika – dalam konteks saat ini – perbedaan di lapangan itu masih saja terjadi : sebenarnya ada apa ?

Wa Allahu A’lamu

Observasi ke Penjara Anak di Blitar

di halaman penjara anak blitar
di halaman penjara anak blitarsholat dhuha di masjid penjara anak blitardoa sholat dluhaHalaqoh tadarrus al-QurHalaqoh & Tadarrus Al-Quran di lapas anak blitarpersiapan setoran tahfidh di masjid lapas anak Blitarikut training ESQpeserta praktik mengangkat temannya dengan jari telunjukpak Hatta dari SBC Kediri sebagai Tutormeski duduk di kursi paling belakang namun tetap seriusada game seru alhamdulillah tak (akan) ketangkap semua tertunduk khusyuakhirnya shidqi dan faris histerisberbaurmuwadda

ak000523

 

Ba’da sholat Shubuh hari ini, santri mim mendapat materi siroh Nabi Yusuf. Kebetulan Tadarus pagi ini ayat yang dibaca juga Surat  yusuf juz 12-13.

Dalam materi siroh Nabi Yusuf ini banyak ilmu dan ibroh yang dapat dijadikan motivasi para santri. Di antaranya adalah pemahaman PENJARA.

masjid lapas anak blitar
masjid lapas anak blitar