Ta’dhim (Pengagungan)

Bila dilihat dengan akal jernih, akan ditemukan tiga macam ta’dhim dalam ajaran Islam, yang tentunya memiliki posisi yang berbeda satu sama lain.

a. Ta’dhim kepada Allah SWT

Penta’dhiman Allah harus dilakukan secara mutlak. Dilakukannya penta’dhiman ini haris di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Artinya tidak diperkenankan melakukan penta’dhiman pada makhluk-Nya di atas penta’dhiman pada Nya. Kalau hal itu terjadi, maka termasuk perbuatan sirik, karena Allah sendiri berfirman dalam QS Al Baqarah,

“Janganlah kalian menjadikan pada diri Allah tandingan-tandingan, sedangkan kalian mengetahui hal itu.”

Penta’dhiman yang sama antara Allah dengan makhluk-Nya, secara tidak langsung menjadikan makhluk itu sebagai tandingan bagi Allah. Ini adalah dosa sangat besar yang tidak akan diampuni, kecuali bagi orang yang bertaubat. Allah berfirman dalam QS An Nisa’ : 38,

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni orang yang mensirikkan diriNya.”

b. Ta’dhim kepada Manusia

1.    Para Nabi

Penta’dhiman para nabi jangan diartikan sebagai ta’dhim yang menjadi tandingan bagi Allah, karena penta’dhiman pada nabi-nabi Allah ini berdasarkan atas perintah-Nya juga. Lebih-lebih penta’dhiman Rasulullah yang tidak sampai mensifatinya dengan sifat-sifat Allah. Artinya bahwa penta’dhiman pada para Nabi tidak sampai mengangkat derajat kenabian mereka pada derajat ketuhanan. Kalau hal itu dilakukan, maka ia telah berbuat sirik, dan boleh dihukumi kufur. ()

Para sahabatpun sangat mengagungkan Rasulullah SAW. Hal itu bisa dilihat, betapa senangnya jika Rasuluillah telah datang dari musafir atau dari peperangan, seraya menari-nari atau berhajal, yaitu melemparkan seseorang kepada yang lain, karena gembiranya atas kedatangan Rasulullah atau karena melihat Rasulullah SAW. Bahkan ada yang sampai bernadzar untuk menabuh rebana di atas kepala Rasulullah, jika Rasulullah kembali dengan selamat dari peperangan.

Dalam riwayat Ibnu Majah dari Anas, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah lewat di sebagian gang-gang kota Madinah, maka tiba-tiba ada gadis-gadis (di kota Madinah) memukul rebana-rebana mereka, mereka menyanyi dan berkata, “Kami gadis-gadis dari Bani Najar, alangkah bagusnya Muhammad sebagai tetangga.”

Kemudian Rasulullah bersabda,”Allah mengetahui sesungguhnya saya mencintai kalian.”

Dan dalam riwayat At Tirmidzi pada manaqib Umar bin Buraidah ia berkata, Rasulullah bepergian pada sebagian perangnnya, maka ketika berpaling (pulang dari perang) datanglah seorang gadis yang berkulit hitam (Negro), seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya telah bernadzar bahwa jika Allah mengembalikan engkau dalam keadaan selamat, saya akan memukul rebana di depanmu dan saya akan menyanyi.” Rasulullah bersabda, “Jika engkau telah bernadzar maka lakukanlah, kalau tidak, maka jangan.”

Dikeluarkan Al ‘Uqoily dan Abu Nu’aim dari hadits Jabir bin Abdillah, ia berkata, “Ketika Ja’far datang dari negeri Habasyah, Rasulullah menemuinya. Maka ketika Ja’far melihat Rasulullah SAW, ia berhajal.”   ()

Dari riwayat-riwayat di atas bisa dipahami bahwa mengagungkan Rasulullah selama tidak sampai pada tingkat ketuhanan adalah boleh. Pengagungan terhadap Rasulullah haruslah melebihi pengagungan terhadap makhluk-makhluk yang lain. Sedangkan orang-orang yang melarang menggunakan kalimat Sayyidina atau berdiri dalam menyambut Rasulullah adalah tidak berdasarkan pada dalil ‘aqly maupun naqly. Karena secara ‘aqly menyebut Sayyidina adalah salah satu bentuk penghormatan kita pada beliau, lebih-lebih kalimat tersebut jika diartikan pada bahasa Indonesia/Inggris berarti “Tuan/Mr”, yang secara budaya sering digunakan manusia ketika mereka memanggil seseorang yang dipandang terhormat. Adapun secara naqly, Rasulullah pernah memerintahkan para sahabat untuk berdiri menghormati sayyid-sayyid mereka, dengan sabda beliau,

“Berdirilah kamu semua pada tuan-tuan kalian.”

2. Penta’dhiman para Ulama dan Orang-orang yang Sudah Tua

Penta’dhiman di sini jelas berbeda dengan penta’dhiman pada Allah dan Rasul-Nya. Kalau penta’dhiman pada Allah disebabkan Dia adalah Sang Pencipta, dan kita sebagai makhluk wajib mengagungkan zat yang bisa mematikan dan menghidupkan kita. Pengagungan kita pada-Nya adalah bentuk keimanan kita, yang kemudian diwujudkan dalam amal-amal ibadah, seperti sholat, puasa, zakat, dan lain-lain. Sedangkan pengagungan kita pada para Rasul adalah pengagungan/penta’dhiman yang memang diperintah oleh Allah SWT sebagai wujud syukur kita pada-Nya dengan mengutusnya Rasulullah pada kita sehingga kita memperoleh hidayah-Nya dengan baik. Penta’dhiman pada mereka ini tidak sampai pada derajat ketuhanan.

Adapun penta’dhiman kita pada orang-orang sholih dan berilmu, disebabkan oleh syariat Islam sendiri yang mengajurkan supaya yang muda menghormati dan memuliakan yang tua. Orang yang tidak berilmu menghormati dan memuliakan orang yang berilmu. Jika kita menafikan derajat kenabian dengan meremehkannya, tidak mengagungkannya, maka kita telah berdosa besar, bahkan bisa termasuk dalam kategori kufur, jika kemudian merendahklan martabat dan derajat keagungan para Nabi. Sedangkan meremehkan orang yang lebih tua dan orang yang berilmu lagi sholih, maka kita telah berdosa karena telah melanggar anjuran syariat Islam.

Dan yang dimaksud penta’dhiman pada ulama adalah memuliakan mereka karena ilmu-ilmu syariat mereka dan hal-hal yang harus ada pada seorang ulama meskipun usianya masih muda. Sedangkan yang dimaksud ta’dhim pada orang tua adalah menghormati mereka karena usianya, meskipun mereka tidak berilmu. ()

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Hendaklah dekat denganku orang-orang dewasa dan yang pandai, kemudian orang-orang yang di bawah mereka”, beliau mengulanginya tiga kali. “Janganlah kamu sekalian bercampur baur seperti orang pasar.”  (HR Muslim)

Dari Abu Musa ra, Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya di antara (yang termasuk) mengagungkan Allah Ta’ala adalah memuliakan orang Islam yang tua, orang yang pandai dalam masalah Al Qur’an yang tidak merasa sombong dan tidak mengabaikannya, serta memuliakan penguasa yang adil.”   (HR Abu Dawud)
Abu Sa’id Samurah bin Jundub ra berkata, “Pada masa Rasulullah saya masih muda, tetapi saya banyak hafal terhadap apa yang beliau sampaikan. Namun di sini saya tidak akan banyak bicara karena banyak orang yang lebih tua daripada saya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ulasan di atas, bisa disimpulkan sebagai berikut :

a.    Mengagungkan ulama sangat dianjurkan, bahkan wajib.
b.    Mengagungkan ulama’ dan orang tua, tidak boleh sampai menganggap mereka suci dari kesalahan dan tidak mengangkat mereka pada derajat kenabian, lebih-lebih pada derajat ketuhanan. Karena pengagungan (ta’dhim) terhadap mereka semata disebabkan oleh usia atau ketinggian ilmu mereka.
c.    Untuk bentuk-bentuk pengagungan, hukumnya adalah mubah, karena terkait dengan budaya setempat. Misalnya, mengagungkan orang yang sudah tua atau ulama dengan cara membungkuk seperti orang Jepang, atau mencium tangan mereka seperti budaya Indonesia, atau dengan mencium pipi mereka seeperti budaya Arab, dan lain-lain, kecuali sujud sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shohihnya dari Ibnu Abi Aufa ra, berkata, “Ketika Mu’adz bin Jabal ra datang dari Syam dan ia melihat orang-orang di Syam datang bersujud pada pendeta-pendeta mereka sehingga ia berkehendak untuk menirunya pada Rasulullah. Namun Rasulullah melarangnya seraya bersabda, “Jangan melakukan itu, maka seandainya aku diperintah untuk menyuruh sesuatu sujud pada sesuatu yang lain, maka aku perintahkan agar isteri sujud pada suaminya ….””   ()   Yang penting adalah unsur pemuliaan dan mendahulukan mereka dari orang yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dari Aisyah ia berkata,

“Rasulullah bersabda, Tempatkanlah manusia itu sesuai dengan kedudukannya.” (HR Abu Dawud)

Hadits ini muncul ketika Aisyah membedakan pengemis yang kotor dengan pengemis kotor yang lain.
d.    Guru adalah posisi yang pantas dan sesuai dengan hadits-hadits di atas, karena guru adalah orang yang lebih tua dari kita dan lebih berilmu dari kita. Oleh karena itu ia adalah yang lebih pantas kita muliakan dan kita dahulukan kepentingannya daripada yang lain. Berkata Asy Syafi’i rahimakumullah,

“Aku utamakan guruku daripada orang tuaku (dalam hal-hal ajaran Islam, karena guru lebih paham daripada mereka) meskipun orang tuaku yang memberikan kemuliaan dan kelebihan padaku karena gurukulah yang mendidik jiwaku dan jasadku.”

e.    Ulama yang boleh dimuliakan adalah Ulama yang sholih yang mengamalkan syariat Islam, bukan ahli bid’ah dan kurafat.
f.    Ta’dhim kita pada ulama tidak harus menghilangkan kekritisan kita terhadap ilmu syariat, artinya bahwa dibolehkan pada kita untuk mendiskusikan sesuatu hal yang belum jelas, sampai kemudian masalah itu bisa dipahami. Namun tetap dengan rasa tawadldlu’ dan tidak sombong. Hal itu sering dilakukan sahabat seperti diskusinya Abu Bakar dengan Umar bin Khaththab dalam masalah pembukuan Al Qur’an.

3. Ta’dhim pada Benda-benda

Penta’dhiman benda-benda seperti hajar aswad, ka’bah dan lain-lain adalah merupakan pelaksanaan syariat yang diperintah Allah. Hakekat ta’dhim tersebut tetap tidak sampai pada pensirikan, misalnya menganggap batu (hajar) aswad yang memberikan manfaat atau yang menolak madlorot, karena hal seperti itu hanyalah haq Allah. Adapun pemuliaan benda-benda yang tidak ada nashnya, seperti keris, batu besar, kereta keraton Solo dan lain-lain, maka pemuliaan tersebut adalah suatu dosa dan akan menjadi dosa besar (sirik) jika sampai merusak keyakinan pada Allah SWT.

Orang-orang yang memuliakan benda-benda yang tidak ada perintah atasnya adalah dosa, tidak sampai sirik, karena kebodohan mereka. Ini berdasarkan ketika para sahabat dengan Rasulullah SAW keluar (untuk perang), melihat pohon yang memiliki akar-akar yang menggantung, tempat kebiasaan orang musrikin menggantungkan pedang-pedang mereka pada akar pohon itu, dan dengan itu mereka meyakini pertolongan akan datang, maka berkata sebagian orang-orang muslim pada Rasulullah, gantungkan pedang-pedang kami pada pohon itu sebagaimana orang-orang dahulu melakukannya, mendengar ucapan itu, Rasulullah bersabda,

“Demi jiwaku ditanganNya, sungguh kamu telah berkelakuan seperti orang-orang sebelum kamu.”  (HR Tirmidzi)

Dari hadits ini, mereka sekedar berdosa saja karena kebodohan dan kelalaian mereka, dan tidak sampai berbuat sirik, karena keyakinan mereka masih utuh. Indikasinya, karena Rasulullah tidak bersabda,

“Kalian telah musyrik.”

Dan hadits di atas sesuai dengan firman Allah QS Al Ahzab,

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang engkau khilaf (lalai), tetapi (yang ada dosanya) apa yang engkau sengaja (yakini) oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  ()

II.    KESOMBONGAN

Makhluk yang pertama kali melakukan kesombongan di jagad raya ini adalah iblis. Dan jika manusia melakukan kesombongan, maka ia termasuk pasukannya iblis, sehingga tidak akan masuk surga sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

“Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebiji sawi kesombongan.”

Adapun definisi sombong (takabbur) adalah,

a.    menurut bahasa (terminilogi) berarti merasa besar, agung. ()
b.    menurut istilah (etimologi) yaitu mencegah diri menerima kebenaran, sekaligus menentangnya () atau sesuai dengan sabda Rasulullah SAW ketika menerangkan  makna takabbur,

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan makhluk.”  ()

Dari definisi di atas, manusia yang selalu menolak kebenaran dari Allah, seperti meninggalkan segala perintah-Nya dan melaksanakan larangan-Nya dan merasa besar diri dengan meremehkan dan merendahkan manusia lain, maka ia telah berlaku sombong, dan sama dengan iblis dalam perilakunya menolak perintah Allah sekaligus menganggap dirinya paling baik dari yang lain. Sungguh Allah tidak mencintai orang-orang yang berperilaku sombong.

“Sesungguhnya Dia tidak menyenangi orang-orang yang sombong.”

Wallahu ‘A’lam bish Showaab

One thought on “Ta’dhim (Pengagungan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s