Pengagungan Antara Ibadah dan Adab

Oleh : Djunaidy Sahal

Kebanyakan manusia salah dalam memahami hakekat ta’dhim (pengagungan) dan hakekat ibadah. Mereka mencampurkan dua masalah tersebut secara samar, dengan menganggap bahwa segala bentuk pengagungan adalah merupakan ibadah bagi yang diagungkannya. Maka (seperti) berdiri, mencium tangan dan mengagungkan Nabi Besar Muhammad SAW dengan kalimat Sayyidina dan Maulana, serta berhenti di depan beliau pada waktu berkunjung dengan adab yang santun, serius dan tenang (tawadlu’), semua pengagungan itu dianggap terlalu berlebihan yang mengarah pada peng-ibadah-an selain kepada Allah SWT. Anggapan tersebut, pada hakekatnya, adalah suatu anggapan yang bodoh dan mempersulit diri yang Allah dan Rasul-Nya tidak meridloi anggapan itu.Hal itu adalah pemaksaan yang tidak dikehendaki oleh syari’at Islam.

Nabi Adam adalah makhluk pertama dari kalangan manusia dan juga yang pertama dari kalangan hamba Allah yang sholih. Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai pemuliaan dan pengagungan atas ilmu yang diberikan Allah kepadanya, dan juga merupakan pengumuman kepada para malaikat atas penunjukan Adam (sebagai Nabi) bagi seluruh makhluk-makhluk-Nya.

Allah berfirman dalam QS Al Isra’ : 61 – 62,

“Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman pada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, lalu mereka sujud, kecuali Iblis. Dia berkata, ‘Apakah aku akan sujud pada orang yang Engkau ciptakan dari tanah ?’ Dia (iblis) berkata, ‘Terangkanlah kepadaku, inikah orang yang Engkau muliakan atas diriku ?’ ”

Dan di dalam QS Al Hijr : 30-31, Allah berfirman,

“Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama kecuali iblis, ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu.”

Dalam QS Ash Shad : 76,

“Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.’ ”

Malaikat ‘alaihis salam semuanya mengagungkan Nabi Adam, yang Allah juga mengagungkannya. Dan iblis takabbur untuk sujud pada orang yang diciptakan Allah dari tanah. Maka ia (iblis) adalah makhluk pertama yang mengkiaskan (menganalogikan) agama dengan akalnya, seraya berkata, “Saya lebih baik daripadanya.” Ia (iblis) membuat alasan dengan alasan penciptaan, bahwa ia diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam AS diciptakan dari tanah, sehingga ia (iblis) enggan untuk memuliakannya dan tidak mau bersujud kepadanya. Maka dialah (makhluk) pertama dari kalangan orang-orang yang sombong, yang tidak mau mengagungkan manusia padahal Allah mengagungkannya. Maka ia dijauhkan dari rahmat Allah karena kesombongannya pada hamba yang sholih (Nabi Adam AS). Dia adalah (lambang) dari hakekat kesombongan pada Allah, karena sesungguhnya sujud adalah untuk Allah semata. Sedangkan “perintah sujud” pada Nabi Adam adalah sebagai pengagungan dan pemuliaan baginya di atas para malaikat. Iblis sejak dulu termasuk makhluk yang bertauhid, maka (semenjak pembangkangannya) tidak ada lagi manfaat atas ketauhidannya.

Bukti dari pengagungan orang-orang yang sholih adalah firman Allah SWT dalam QS Yusuf : 100, ketika Dia mengagungkan Nabi Yusuf AS,

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya keatas singgahsana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Nabi Yusuf.”

Sujud di sini sebagai penghormatan, pemuliaan dan pengagungan pada Nabi Yusuf AS atas para saudaranya. Sujudnya saudara-saudara Nabi Yusuf AS padanya ke tanah, ditunjukkan dengan kalimat (firman Allah) “merebahkan diri”. Barangkali sujud di antara manusia diperkenankan dalam syariatnya Nabi Yusuf, atau seperti sujudnya malaikat pada Nabi Adam, yang merupakan sujud penghormatan, pemuliaan dan menjalankan perintah Allah. Sujudnya saudara-saudara Nabi Yusuf padanya sebagai ta’wil mimpinya, karena mimpi para Nabi adalah wahyu.

Adapun tentang Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, Allah berfirman dalam  QS Al Fath,

“Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, supaya kalian semua beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menguatkan agama-Nya dan membesarkan-Nya.”

Firman Allah dalam QS Al Hujurat : 1,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan rasul-Nya.”

Pada ayat selanjutnya Allah berfirman,

“Janganlah kalian menjadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebahagian kalian dengan sebahagian yang lain.”

Adalah sebuah larangan jika mendahului Rasul dengan ucapan dan sebuah perangai yang buruk jika mendahului percakapannya. Berkata Sahal bin Abdullah, “Janganlah kalian berkata sebelum beliau (rasul) berkata, dan jika beliau berkata maka dengarkanlah dan diamlah kalian. Dan cegahlah dirimu dari mendahului dan ketergesa-gesaan dalam menjalankan suatu perkara sebelum perkaranya (selesai). Dan janganlah mereka berfatwa dengan sesuatu (secara tergesa-gesa) seperti masalah peperangan atau yang lain dari masalah agama kecuali atas perintahnya. Dan janganlah mereka mendahuluinya. Kemudian Allah menasihati mereka dan memberi peringatan pada mereka dengan firman-Nya pada akhir ayat 1 dari QS Al Hujurat,

“Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dan berkata As Sulamy, “Takutlah kalian kepada Allah dalam melanggar hak Rasulullah dan melalaikan kehormatannya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar ucapan kalian lagi Maha Mengetahui segala aktivitas kalian. Kemudian Allah melarang mereka untuk meninggikan suara di atas suara beliau, yaitu mengeraskan ucapan, seperti mengeraskan ucapan sebahagian mereka dengan sebahagian yang lain dan meninggikan di atas Rasulullah.”

Dan ada yang mengatakan, “Seperti memanggilnya kalian pada sebahagian yang lain dengan menggunakan namanya.”

Berkata Abu Muhammad Makky, “Janganlah kalian mendahului ucapannya dan berkata kasar kepadanya. Dan jangan pula kalian memanggil dengan namanya, seperti panggilan sebagian kalian dengan sebagian yang lain. Akan tetapi agungkanlah beliau dan muliakanlah serta panggillah dengan panggilan yang paling baik dan yang paling hakiki, seperti: Wahai Rasulullah, Wahai Nabiyullah. Inilah yang dimaksud ayat :

“Janganlah menjadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian dengan sebagian yang lain.”

Tentang ayat itu, telah menafsirkan dengan penafsiran yang berbeda dengan Abu Muhammad Makky, yaitu, “Janganlah kalian berkata padanya kecuali bagi orang-orang yang butuh untuk bertanya. Dan kemudian Allah menakut-nakuti mereka (orang yang berkata mendahului Rasul) dengan gugurnya amal-amal mereka jika mereka melakukan perbuatan itu.” Sedangkan ayat tersebut di atas diturunkan pada sekelompok manusia yang mendatangi Nabi Muhammad SAW seraya memanggil beliau dengan panggilan, “Ya Muhammad, keluar engkau pada kami ! ”  Maka kemudian Allah mengecam mereka dengan ungkapan bodoh dan mensifati mereka dengan sifat orang-orang yang tidak berfikir (yaitu orang-orang yang tidak menggunakan akalnya).

Berkata Amru bin ‘Ash ra, “Tidak ada seorangpun yang paling aku cintai kecuali Rasulullah SAW, dan tidak ada yang paling aku agungkan di mataku kecuali beliau. Dan aku tidak mampu memenuhi mataku dengan keagungannya. Dan jika engkau meminta untuk mensifatinya, maka aku tidak mampu, karena mataku tidak bisa menampung keagungannya.”

Telah meriwayatkan At Tirmidzi dari Anas, bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari keluar (menemui) sahabat-sahabatnya dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Ketika itu mereka sedang duduk-duduk. Di antara mereka ada Abu Bakar dan Umar. Maka tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat pandangannya pada Rasulullah, kecuali Abu Bakar dan Umar. Karena sesungguhnya mereka berdua memandang Rasulullah dan Rasulullah pun memandang mereka berdua, dan mereka berdua tersenyum pada beliau, dan beliau juga tersenyum pada mereka.

Diriwayatkan dari Usamah bin Sarik, ia berkata, “Saya mendatangi Rasulullah SAW, ketika itu sahabat-sahabatnya berada di sekitarnya, seakan-akan di kepala mereka ada burung.” Dalam mensifatinya, jika berbicara, maka orang-orang yang duduk sambil menundukkan kepala seakan-akan di kepala mereka ada burung.

Berkata ‘Urwah bin Mas’ud, ketika Quraisy mengutusnya pada tahun Qodliyah kepada Rasulullah SAW. Ia melihat pengagungan sahabat-sahabat pada Rasulullah SAW seperti apa yang ia lihat, bahwa Rasulullah SAW tidak berwudlu kecuali para sahabat bersegera untuk mengambil air wudlu Rasulullah (sisa air wudlunya). Mereka (pada waktu itu) saling berebutan. Rasulullah tidak meludah serta tidak mengeluarkan ingus kecuali mereka (para sahabat) menerima ludah / ingus tadi dengan telapak-telapak tangannya kemudian mengusapkannya pada wajah dan tubuh mereka. Tidak jatuh satu rambut pun dari Rasulullah, kecuali para sahabat segera mengambilnya. Jika beliau memerintah pada sahabat dengan suatu perintah, mereka segera melaksanakan perintahnya dan jika berbicara, maka mereka merendahkan ucapan mereka di hadapan Rasulullah. Mereka pun tidak menajamkan pandangan pada Rasul, sebagai penghormatan padanya.

Maka ketika ‘Urwah bin Mas’ud kembali ke Quraisy, ia berkata, “Wahai orang-orang Quraisy, saya pernah datang ke Kisra (Persi), Kaisar (Romawi) dan Kerajaan Najasy. Sungguh, demi Allah, saya tidak melihat kerajaan dari kaum manapun seperti (yang dimiliki) oleh Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya.” Dalam riwayat (yang lain), “Saya tidak pernah melihat kerajaan dari kaum manapun yang para sahabat mengagungkan Nabi Muhammad SAW, dan sungguh saya telah melihat kaum yang selalu pasrah kepadanya.”

Dikeluarkan oleh Ath Thobarony dan Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya dari Usamah bin Syarik ra, ia berkata, “Kami duduk bersama Nabi SAW , seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Tidak seorangpun dari kami yang berbicara. Ketika datang seseorang kepada beliau sambil berkata pada beliau, ‘Siapa orang yang paling dicintai Allah SWT ?’ Maka Nabi menjawab ‘Adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.'”   ()

Dikeluarkan oleh Abu Yaila dan dishohihkannya, dari Al Barra’ bin ‘Azib ra, ia berkata, “Sungguh dulu saya pernah akan bertanya pada Rasulullah SAW tentang suatu perkara, maka saya tunda pertanyaan itu sampai dua tahun karena kehebatan (wibawa) Rasulullah SAW.”

Dikeluarkan oleh Al Baihaqy dari Az Zuhry, ia berkata, “Berkata padaku orang yang tidak bisa dituduh (kevalidannya) dari kalangan Anshor, bahwa Rasulullah SAW ketika berwudlu atau membuang ingus, maka mereka (sahabat) segera (berebut) ingusnya, kemudian mereka mengusapkan ingus tersebut pada wajah mereka dan kulit-kulit mereka. Maka bersabda Rasulullah SAW, ‘Mengapa kalian melakukan hal itu ?’ Mereka menjawab, ‘Kami mencari berkah darimu.’ Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa yang menginginkan untuk dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka berkatalah yang jujur, melaksanakan amanat dan tidak menyakiti tetangganya’.”  ()

Kesimpulannya, ada dua perkara tentang pengagungan yang harus diperhatikan :

Pengagungan pada Nabi Muhammad SAW, dan mengangkat derajatnya di atas segala makhluk.
Pentauhidan akan Ketuhanan, meyakinkan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala berdiri sendiri atas dzat-Nya, sifat-sifat-Nya dan aktivitas-aktivitas-Nya dari seluruh ciptaan-Nya.

Barang siapa yang meyakini bahwa makhluk dapat disejajarkan pada Allah SWT dalam sesuatu, maka ia telah berbuat sirik. Seperti orang-orang musyrikin yang meyakini ketuhanan berhala-berhala dan memberikan hak kepada berhala untuk disembah.

Siapa yang membatasi derajat Rasulullah SAW maka dia telah bermaksiat atau telah kafir. Adapun orang-orang yang mengagungkan Rasulullah SAW dengan segala macam pengagungan sebatas tidak mensifatinya dengan sifat ketuhanan, maka dia telah melakukan kebenaran dan menjaga sifat ketuhanan dan kerisalahan secara bersama.

Jika ditemukan pada ucapan orang-orang yang beriman tentang penyandaran sesuatu selain pada Allah SWT, maka harus ditafsiri dengan arti kiasan, dan tidak ada jalan untuk mengkafirinya, karena arti kiasan banyak digunakan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

One thought on “Pengagungan Antara Ibadah dan Adab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s