Kelompok-kelompok Islam dalam Pandangan Syara’

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Di dunia Islam – semenjak runtuhnya Imperium Islam di Turki tahun 1924 – banyak sekali kelompok ummat Islam yang berusaha mengembalikan kekuatan ummat dengan menegakkan kembali tatanan sistem Islam.

Berawal dari suatu negeri, kelompok-kelompok tersebut berdiri dan kemudian menyebar serta mengakar ke seluruh pelosok negeri di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, kelompok-kelompok tersebut lebih banyak di terima di kalangan kampus. Sehingga bisa dilihat, banyak sekali nama-nama kelompok yang kadangkala berbeda dengan nama kelompok asalnya, namun ide yang dikembangkan sama – di samping ada pula yang tetap menggunakan nama kelompok asalnya. Dari mereka pula lahirlah istilah-istilah seperti : Usrah, Harakah, Jama’ah, Halaqah, dll.

Ada juga kelompok-kelompok pribumi, yaitu kelompok-kelompok yang tidak ada korelasi ideologis dengan kelompok-kelompok Timur Tengah, namun mereka lahir atas tuntutan atau kebutuhan kondisi waktu itu. Kelompok ini agak moderat dan kooperatif dengan sistem yang ada – di samping ada juga yang non-kooperatif dan bersifat radikal.

Keberadaan Kelompok-kelompok Islam dalam Pandangan Syara’

Kelompok Islam juga sering disebut dengan Ormas KeIslaman, Harakah dan Jama’ah Da’wah. Harakah — berdasarkan etimologi Bahasa Arab – diambil dari kata At-Taharruk, yang artinya bergerak atau berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain .

Istilah ini kemudian populer dengan arti : Sekelompok orang atau suatu gerakan yang mempunyai target tertentu dan mereka berusaha bergerak serta berupaya untuk mencapainya.

Dari penjelasan tersebut, Harakah bisa dilakukan oleh individu dan juga oleh suatu organisasi atau jama’ah; karena sifat Harakah adalah pengguliran pemikiran, di mana dengannya diharapkan tujuannya akan tercapai.

Sedangkan Jama’ah — secara etimologi – berasal dari akar kata Al-Jam’u, artinya berkumpul. Arti yang lebih populer : Sekelompok individu yang berkumpul untuk mencapai cita-cita dengan rencana dan pengaturan yang telah dirumuskan.

Dari penjelasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa Harakah dan Jama’ah ada korelasi yang sangat erat; bahwa setiap Jama’ah adalah Harakah, namun tidak sebaliknya, karena Harakah bisa dilakukan oleh individu.

Allah membenarkan adanya kelompok Islam yang bertugas untuk Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, yaitu suatu aktivitas untuk mengingatkan manusia akan pelaksanaan hukum-hukum syara’ secara universal (Lihat Q.S. Ali-‘Imran : 104 dan Q.S. An-Nahl : 89).

Rasulullah SAW sendiri bersabda : dari Umamah beliau berkata : “Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang berada (berpegang-teguh) pada agamanya. Mereka menang dan mengalahkan musuhnya. Tidak merugikan bagi mereka orang-orang yang menyalahi mereka, kecuali rasa sakit, hingga datang pada mereka putusan Allah dan mereka tetap begitu (yaitu tetap di atas kebenaran) … “ (H.R. Abdullah bin Ahmad Wijadah, Ath-Thabraniy dan Ahmad).

Dari sini dapat dijelaskan juga tentang kriteria kelompok/jama’ah menurut hukum Islam sebagai berikut :

Selalu berada dalam kebenaran aqidah Islam
Aktivitas-aktivitasnya terikat terhadap hukum syara’ secara menyeluruh, tidak parsial.
Kelompok tersebut sebagai reformer dari ummat
Ada target yang jelas, dilandasi oleh aqidah Islam dan hukum-hukum syara’
Ada metode yang sesuai dengan hukum syara’ dalam meraih target tersebut.

Problem yang Terjadi Antar Kelompok

Selingkuh dan perselisihan antar kelompok-kelompok Islam kerap terjadi. Hal ini disebabkan adanya perbedaan penafsiran hukum syara’ dalam menentukan target dan metodenya.

Kalau kita lihat fakta di lapangan, maka pada aktivitas kelompok-kelompok Islam tersebut ada beberapa target berbeda yang diambil oleh mereka, yaitu :

Target memperbaiki individu dengan aqidah dan akhlaq
Target memperbaiki masyarakat dengan aktivitas sosial keIslaman, seperti : mengadakan pendidikan Islam, memelihara anak yatim, dan membuka jaringan internet Islam, dsb
Target memperbaiki sistem yang melahirkan masyarakat

Dari beragamnya target yang mereka tentukan, tentunya akan berbeda pula metode mereka dalam menjalankan dan mengaplikasikan target tersebut.

Perbedaan yang terjadi di antara kelompok-kelompok Islam tersebut berakar dari perbedaan pemahaman terhadap hukum syara’, terlebih Siirah Nabawiy.
Untuk lebih jelasnya, penulis akan menjelaskan satu demi satu dalil-dalil mereka di bawah ini.

1.     Dalil-dalil yang digunakan oleh kelompok pertama :
a.     Al-Qur’an. Surat Al-Maidah : 105

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk … “
Q.S. Al-Maidah : 105

b.     Al-Qur’an. Surat Al-Jumu’ah : 2

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah …”
Q.S. Al-Jumu’ah : 2

c.     Al-Qur’an. Surat Ali-‘Imran : 164

“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah …”
Q.S. Ali-‘Imran : 164

d.    Siirah Nabawiy.
Bahwa da’wah pertama kali yang disampaikan oleh Rasulullah SAW adalah melalui perbaikan individu-individu terhadap aqidah mereka, hingga mencapai 40 orang yang dikumpulkan di rumah Al-Arqam bin Abiy Al-Arqam.

2.     Dalil-dalil yang digunakan oleh kelompok kedua :
a.     Al-Qur’an. Surat Huud : 116

“Maka mengapa tidak ada dari ummat-ummat yang sebelum kamu mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang dzalim hanya mementingkan keni’matan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.”
Q.S. Huud : 116

b.    Al-Qur’an. Surat Ali-‘Imran : 104

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; dan merekalah orang-orang yang beruntung.”
Q.S. Ali-‘Imran : 104

Al-Ma’ruf — menurut mereka – bersifat umum; apakah itu aktivitas sosial atau politik. Dan ayat umum tetap keumumannya kecuali ada ayat-ayat yang mengkhususkannya. Imam At-Thabariy memberikan pengertian tentang Al-Ma’ruf sebagai segala sesuatu yang baik menurut syara’ berupa perkataan dan perbuatan. Sedangkan Al-Munkar adalah sesuatu yang buruk menurut syara’ berupa perkataan dan perbuatan.

c.    Siirah Nabawiy.
Aktivitas pertama yang dilakukan Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah adalah membangun masjid sebagai pusat aktivitas da’wah dan mempersaudarakan Muhajirin dengan Anshor. Baru setelah itu Rasulullah membangun sistem Islam dengan dibuatnya Piagam Madinah.

3.     Dalil-dalil yang digunakan oleh kelompok ketiga :
a.    Kelompok ini menafsirkan Al-Qur’an Surat Ali-‘Imran : 104 tentang lafadh Al-Ma’ruf dengan tafsiran bahwa Al-Ma’ruf yang paling agung adalah tegaknya sistem Islam (Khilafah).
b.    Dalam Siirah Nabawiy, menceritakan maksud kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah adalah untuk mendirikan Daulah Islamiyah .
c.    Fakta sekarang menunjukkan tidak mungkin berda’wah tanpa mengubah sistem secara total, karena aktivitas sosial yang ada sekarang ini adalah tugas penguasa Islam, bukan tugas ummat. Oleh karena itu, ummat Islam harus berkonsentrasi terhadap aktivitas untuk mewujudkan penguasa Islam tersebut — yang memiliki otoritas internasional.

Akar Masalah yang Menyebabkan Perbedaan Tersebut

Akar masalah tersebut adalah Siirah Nabawiy; para ‘ulama memandangnya sebagai suatu khasanah keIslaman yang wajib diketahui oleh setiap muslim. Ia merupakan kumpulan hadits yang membicarakan biografi Nabi Muhammad SAW. Al-Maghaziy karya Ibnu Ishaq merupakan kitab siirah yang pertama disusun. Sedangkan Siirah Ibnu Hisyam merupakan siirah yang terkenal dan layak dipakai sebagai referensi sarjana muslim. Ibnu Hisyam adalah murid Ibnu Ishaq (seorang Thabi’in yang meninggal pada tahun 154 H).

Sikap kita terhadap Siirah adalah sama dengan sikap kita terhadap hadits-hadits Rasulullah SAW. Kadangkala bersifat marfu’, mauquf, dan maqfu’ – ini jika dilihat dari sisi sanad. Sedangkan dari sisi kevalidan sanad-nya ada yang shahih, lemah (dha’if) dan palsu. Dan dari sisi periwayatannya ada yang mutawatir serta ahad.

Kalau kita teliti, ternyata jika kita melihat Siirah secara per peristiwa, maka Siirah tersebut bisa dha’if, shahih, bahkan palsu – ini dari sisi keberadaan Siirah. Sedangkan dari sisi dlilalah (pemahaman), maka Siirah bisa bersifat Dzanniy dan ada yang bersifat Qath’iy, seperti turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama kali, para ‘ulama berbeda pendapat; demikian pula ayat yang terakhir kali turun.

Bisa disimpulkan bahwa metodologi dalam meraih target serta penentuan targetnya adalah bersifat Dzanniy. Oleh karena itu, ia merupakan lahan ijtihad. Sedangkan hal-hal yang bersifat ijtihadiyyah adalah benar menurut yang ber-ijtihad.

Bagaimana Kita Bersikap ?

1.    Apapun yang kita lakukan, selama terikat dengan hukum syara’, maka sah adanya. Oleh karena itu, kita harus berlapang dada terhadap perbedaan itu – yang secara alami memang berbeda. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, Surat Huud : 115
“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan”
Q.S. Huud : 115

Bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap aktivitas seorang muslim, bahkan sekecil apapun aktivitas itu. Rasulullah bersabda :

“Janganlah kalian menghina aktivitas baik, sekecil apapun”
(H.R. Muslim)

Kita harus bercermin dan berpedoman dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hujurat : 11-12 ketika kita hidup dalam interaksi dengan kelompok-kelompok Islam, baik di kampus maupun di masyarakat.
Wa Allahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s