Ta’dhim (Pengagungan)

Bila dilihat dengan akal jernih, akan ditemukan tiga macam ta’dhim dalam ajaran Islam, yang tentunya memiliki posisi yang berbeda satu sama lain.

a. Ta’dhim kepada Allah SWT

Penta’dhiman Allah harus dilakukan secara mutlak. Dilakukannya penta’dhiman ini haris di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Artinya tidak diperkenankan melakukan penta’dhiman pada makhluk-Nya di atas penta’dhiman pada Nya. Kalau hal itu terjadi, maka termasuk perbuatan sirik, karena Allah sendiri berfirman dalam QS Al Baqarah,

“Janganlah kalian menjadikan pada diri Allah tandingan-tandingan, sedangkan kalian mengetahui hal itu.”

Penta’dhiman yang sama antara Allah dengan makhluk-Nya, secara tidak langsung menjadikan makhluk itu sebagai tandingan bagi Allah. Ini adalah dosa sangat besar yang tidak akan diampuni, kecuali bagi orang yang bertaubat. Allah berfirman dalam QS An Nisa’ : 38,

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni orang yang mensirikkan diriNya.”

b. Ta’dhim kepada Manusia

1.    Para Nabi

Penta’dhiman para nabi jangan diartikan sebagai ta’dhim yang menjadi tandingan bagi Allah, karena penta’dhiman pada nabi-nabi Allah ini berdasarkan atas perintah-Nya juga. Lebih-lebih penta’dhiman Rasulullah yang tidak sampai mensifatinya dengan sifat-sifat Allah. Artinya bahwa penta’dhiman pada para Nabi tidak sampai mengangkat derajat kenabian mereka pada derajat ketuhanan. Kalau hal itu dilakukan, maka ia telah berbuat sirik, dan boleh dihukumi kufur. ()

Para sahabatpun sangat mengagungkan Rasulullah SAW. Hal itu bisa dilihat, betapa senangnya jika Rasuluillah telah datang dari musafir atau dari peperangan, seraya menari-nari atau berhajal, yaitu melemparkan seseorang kepada yang lain, karena gembiranya atas kedatangan Rasulullah atau karena melihat Rasulullah SAW. Bahkan ada yang sampai bernadzar untuk menabuh rebana di atas kepala Rasulullah, jika Rasulullah kembali dengan selamat dari peperangan.

Dalam riwayat Ibnu Majah dari Anas, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah lewat di sebagian gang-gang kota Madinah, maka tiba-tiba ada gadis-gadis (di kota Madinah) memukul rebana-rebana mereka, mereka menyanyi dan berkata, “Kami gadis-gadis dari Bani Najar, alangkah bagusnya Muhammad sebagai tetangga.”

Kemudian Rasulullah bersabda,”Allah mengetahui sesungguhnya saya mencintai kalian.”

Dan dalam riwayat At Tirmidzi pada manaqib Umar bin Buraidah ia berkata, Rasulullah bepergian pada sebagian perangnnya, maka ketika berpaling (pulang dari perang) datanglah seorang gadis yang berkulit hitam (Negro), seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya telah bernadzar bahwa jika Allah mengembalikan engkau dalam keadaan selamat, saya akan memukul rebana di depanmu dan saya akan menyanyi.” Rasulullah bersabda, “Jika engkau telah bernadzar maka lakukanlah, kalau tidak, maka jangan.”

Dikeluarkan Al ‘Uqoily dan Abu Nu’aim dari hadits Jabir bin Abdillah, ia berkata, “Ketika Ja’far datang dari negeri Habasyah, Rasulullah menemuinya. Maka ketika Ja’far melihat Rasulullah SAW, ia berhajal.”   ()

Dari riwayat-riwayat di atas bisa dipahami bahwa mengagungkan Rasulullah selama tidak sampai pada tingkat ketuhanan adalah boleh. Pengagungan terhadap Rasulullah haruslah melebihi pengagungan terhadap makhluk-makhluk yang lain. Sedangkan orang-orang yang melarang menggunakan kalimat Sayyidina atau berdiri dalam menyambut Rasulullah adalah tidak berdasarkan pada dalil ‘aqly maupun naqly. Karena secara ‘aqly menyebut Sayyidina adalah salah satu bentuk penghormatan kita pada beliau, lebih-lebih kalimat tersebut jika diartikan pada bahasa Indonesia/Inggris berarti “Tuan/Mr”, yang secara budaya sering digunakan manusia ketika mereka memanggil seseorang yang dipandang terhormat. Adapun secara naqly, Rasulullah pernah memerintahkan para sahabat untuk berdiri menghormati sayyid-sayyid mereka, dengan sabda beliau,

“Berdirilah kamu semua pada tuan-tuan kalian.”

2. Penta’dhiman para Ulama dan Orang-orang yang Sudah Tua

Penta’dhiman di sini jelas berbeda dengan penta’dhiman pada Allah dan Rasul-Nya. Kalau penta’dhiman pada Allah disebabkan Dia adalah Sang Pencipta, dan kita sebagai makhluk wajib mengagungkan zat yang bisa mematikan dan menghidupkan kita. Pengagungan kita pada-Nya adalah bentuk keimanan kita, yang kemudian diwujudkan dalam amal-amal ibadah, seperti sholat, puasa, zakat, dan lain-lain. Sedangkan pengagungan kita pada para Rasul adalah pengagungan/penta’dhiman yang memang diperintah oleh Allah SWT sebagai wujud syukur kita pada-Nya dengan mengutusnya Rasulullah pada kita sehingga kita memperoleh hidayah-Nya dengan baik. Penta’dhiman pada mereka ini tidak sampai pada derajat ketuhanan.

Adapun penta’dhiman kita pada orang-orang sholih dan berilmu, disebabkan oleh syariat Islam sendiri yang mengajurkan supaya yang muda menghormati dan memuliakan yang tua. Orang yang tidak berilmu menghormati dan memuliakan orang yang berilmu. Jika kita menafikan derajat kenabian dengan meremehkannya, tidak mengagungkannya, maka kita telah berdosa besar, bahkan bisa termasuk dalam kategori kufur, jika kemudian merendahklan martabat dan derajat keagungan para Nabi. Sedangkan meremehkan orang yang lebih tua dan orang yang berilmu lagi sholih, maka kita telah berdosa karena telah melanggar anjuran syariat Islam.

Dan yang dimaksud penta’dhiman pada ulama adalah memuliakan mereka karena ilmu-ilmu syariat mereka dan hal-hal yang harus ada pada seorang ulama meskipun usianya masih muda. Sedangkan yang dimaksud ta’dhim pada orang tua adalah menghormati mereka karena usianya, meskipun mereka tidak berilmu. ()

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Hendaklah dekat denganku orang-orang dewasa dan yang pandai, kemudian orang-orang yang di bawah mereka”, beliau mengulanginya tiga kali. “Janganlah kamu sekalian bercampur baur seperti orang pasar.”  (HR Muslim)

Dari Abu Musa ra, Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya di antara (yang termasuk) mengagungkan Allah Ta’ala adalah memuliakan orang Islam yang tua, orang yang pandai dalam masalah Al Qur’an yang tidak merasa sombong dan tidak mengabaikannya, serta memuliakan penguasa yang adil.”   (HR Abu Dawud)
Abu Sa’id Samurah bin Jundub ra berkata, “Pada masa Rasulullah saya masih muda, tetapi saya banyak hafal terhadap apa yang beliau sampaikan. Namun di sini saya tidak akan banyak bicara karena banyak orang yang lebih tua daripada saya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ulasan di atas, bisa disimpulkan sebagai berikut :

a.    Mengagungkan ulama sangat dianjurkan, bahkan wajib.
b.    Mengagungkan ulama’ dan orang tua, tidak boleh sampai menganggap mereka suci dari kesalahan dan tidak mengangkat mereka pada derajat kenabian, lebih-lebih pada derajat ketuhanan. Karena pengagungan (ta’dhim) terhadap mereka semata disebabkan oleh usia atau ketinggian ilmu mereka.
c.    Untuk bentuk-bentuk pengagungan, hukumnya adalah mubah, karena terkait dengan budaya setempat. Misalnya, mengagungkan orang yang sudah tua atau ulama dengan cara membungkuk seperti orang Jepang, atau mencium tangan mereka seperti budaya Indonesia, atau dengan mencium pipi mereka seeperti budaya Arab, dan lain-lain, kecuali sujud sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shohihnya dari Ibnu Abi Aufa ra, berkata, “Ketika Mu’adz bin Jabal ra datang dari Syam dan ia melihat orang-orang di Syam datang bersujud pada pendeta-pendeta mereka sehingga ia berkehendak untuk menirunya pada Rasulullah. Namun Rasulullah melarangnya seraya bersabda, “Jangan melakukan itu, maka seandainya aku diperintah untuk menyuruh sesuatu sujud pada sesuatu yang lain, maka aku perintahkan agar isteri sujud pada suaminya ….””   ()   Yang penting adalah unsur pemuliaan dan mendahulukan mereka dari orang yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dari Aisyah ia berkata,

“Rasulullah bersabda, Tempatkanlah manusia itu sesuai dengan kedudukannya.” (HR Abu Dawud)

Hadits ini muncul ketika Aisyah membedakan pengemis yang kotor dengan pengemis kotor yang lain.
d.    Guru adalah posisi yang pantas dan sesuai dengan hadits-hadits di atas, karena guru adalah orang yang lebih tua dari kita dan lebih berilmu dari kita. Oleh karena itu ia adalah yang lebih pantas kita muliakan dan kita dahulukan kepentingannya daripada yang lain. Berkata Asy Syafi’i rahimakumullah,

“Aku utamakan guruku daripada orang tuaku (dalam hal-hal ajaran Islam, karena guru lebih paham daripada mereka) meskipun orang tuaku yang memberikan kemuliaan dan kelebihan padaku karena gurukulah yang mendidik jiwaku dan jasadku.”

e.    Ulama yang boleh dimuliakan adalah Ulama yang sholih yang mengamalkan syariat Islam, bukan ahli bid’ah dan kurafat.
f.    Ta’dhim kita pada ulama tidak harus menghilangkan kekritisan kita terhadap ilmu syariat, artinya bahwa dibolehkan pada kita untuk mendiskusikan sesuatu hal yang belum jelas, sampai kemudian masalah itu bisa dipahami. Namun tetap dengan rasa tawadldlu’ dan tidak sombong. Hal itu sering dilakukan sahabat seperti diskusinya Abu Bakar dengan Umar bin Khaththab dalam masalah pembukuan Al Qur’an.

3. Ta’dhim pada Benda-benda

Penta’dhiman benda-benda seperti hajar aswad, ka’bah dan lain-lain adalah merupakan pelaksanaan syariat yang diperintah Allah. Hakekat ta’dhim tersebut tetap tidak sampai pada pensirikan, misalnya menganggap batu (hajar) aswad yang memberikan manfaat atau yang menolak madlorot, karena hal seperti itu hanyalah haq Allah. Adapun pemuliaan benda-benda yang tidak ada nashnya, seperti keris, batu besar, kereta keraton Solo dan lain-lain, maka pemuliaan tersebut adalah suatu dosa dan akan menjadi dosa besar (sirik) jika sampai merusak keyakinan pada Allah SWT.

Orang-orang yang memuliakan benda-benda yang tidak ada perintah atasnya adalah dosa, tidak sampai sirik, karena kebodohan mereka. Ini berdasarkan ketika para sahabat dengan Rasulullah SAW keluar (untuk perang), melihat pohon yang memiliki akar-akar yang menggantung, tempat kebiasaan orang musrikin menggantungkan pedang-pedang mereka pada akar pohon itu, dan dengan itu mereka meyakini pertolongan akan datang, maka berkata sebagian orang-orang muslim pada Rasulullah, gantungkan pedang-pedang kami pada pohon itu sebagaimana orang-orang dahulu melakukannya, mendengar ucapan itu, Rasulullah bersabda,

“Demi jiwaku ditanganNya, sungguh kamu telah berkelakuan seperti orang-orang sebelum kamu.”  (HR Tirmidzi)

Dari hadits ini, mereka sekedar berdosa saja karena kebodohan dan kelalaian mereka, dan tidak sampai berbuat sirik, karena keyakinan mereka masih utuh. Indikasinya, karena Rasulullah tidak bersabda,

“Kalian telah musyrik.”

Dan hadits di atas sesuai dengan firman Allah QS Al Ahzab,

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang engkau khilaf (lalai), tetapi (yang ada dosanya) apa yang engkau sengaja (yakini) oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  ()

II.    KESOMBONGAN

Makhluk yang pertama kali melakukan kesombongan di jagad raya ini adalah iblis. Dan jika manusia melakukan kesombongan, maka ia termasuk pasukannya iblis, sehingga tidak akan masuk surga sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

“Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebiji sawi kesombongan.”

Adapun definisi sombong (takabbur) adalah,

a.    menurut bahasa (terminilogi) berarti merasa besar, agung. ()
b.    menurut istilah (etimologi) yaitu mencegah diri menerima kebenaran, sekaligus menentangnya () atau sesuai dengan sabda Rasulullah SAW ketika menerangkan  makna takabbur,

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan makhluk.”  ()

Dari definisi di atas, manusia yang selalu menolak kebenaran dari Allah, seperti meninggalkan segala perintah-Nya dan melaksanakan larangan-Nya dan merasa besar diri dengan meremehkan dan merendahkan manusia lain, maka ia telah berlaku sombong, dan sama dengan iblis dalam perilakunya menolak perintah Allah sekaligus menganggap dirinya paling baik dari yang lain. Sungguh Allah tidak mencintai orang-orang yang berperilaku sombong.

“Sesungguhnya Dia tidak menyenangi orang-orang yang sombong.”

Wallahu ‘A’lam bish Showaab

Membedah Kitab Ibanah Al-Ahkam

Karya As-Sayyid ‘Alawiy Al-Malikiy (1328 – 1391 H)

Pendahuluan
sejarah telah membuktikan pada mata dunia bahwa kejayaan Islam itu dapat dilihat dari banyaknya karya-karya yang ditulis oleh ulama-ulama / intelektual-intelektual muslim. Mereka adalah pahlawan yang menegakkan sendi kejayaan Islam pada Abad Pertengahan.
Karya-karya tersebut masih banyak yang tetap langgeng sampai pada generasi sekarang. Dan diantara sekian dari karya-karya intelektual muslim itu adalah kitab Bulugh Al-Maram yang ditulis oleh ulama mutaakhkhirin Ibn Hajar Al-Asqolaniy (773 – 852 H). Karya tersebut mendapat banyak sambutan dari intelektual-intelektual sesudahnya. Diantara mereka juga banyak yang berusaha men-syarahi-nya. Salah satu ulama yang men-syarahi kitab tersebut adalah As-Sayyid ‘Alawiy Al-Malikiy (1328 – 1391 H) dengan kitabnya yang terkenal dengan nama Ibanah Al-Ahkam.
Pada tulisan ini, penulis hendak membedah kitab hadits tersebut dengan mengkaji pada metodologi penulisannya saja.

Riwayat Hidup As-Sayyid ‘Alawiy Al-Malikiy
Nasab
Beliau adalah As-Sayyid Al-Allamah ‘Alawiy bin Abbas Al-Malikiy bin As-Sayyid Abdul Aziz bin Al-Arif billah As-Sayyid Muhammad Al-Malikiy Al-Makki Al-Hasani Al-Idrisy sampai pada As-Sayyid Idris Al-Azhar bin Idris Al-Akbar bin Abdullah Al-Kaamil bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan As-Sibth bin Sayyidina Ali dan Sayyidatina Fathimah Az-Zahra binti Sayyidina Rosulillah Shollallahu ‘Alaihi Wa As-Salaam. Beliau dilahirkan di Makkah Al-Mukarramah pada tahun 1328 H dan wafat pada 25 Shofar 1391 H dalam usia 63. Rahimahullah.

Masa Pendidikan
Pendidikan dasar dan sentralnya diasuh oleh orangtua beliau sendiri yaitu mendiang As-Sayyid Abbas Al-Malikiy. Pendidikan Qur’annya diasuh oleh pamannya yaitu As-Sayyid Hasan Al-Malikiy di Darus Sayyidah Khodijah Al-Kubro yang terletak di Zuqoqul Hajar yang sekarang lebih dikenal dengan Madrasatul Huffadz. Di sinilah beliau hafal Al-Qur’an dan menjadi imam sholat tarawih di Masjidil Haram dengan hafalan, ketika berusia 10 tahun. Kemudian setelah itu melanjutkan belajarnya di Madrasah Al-Falah yang cukup qualified dan bonafide.
Di samping itu beliau mendapat bimbingan dari orangtua yang waktu itu menjabat sebagai Mudirul Maarif, dengan mudzakarah dan mendengarkan hafalan-hafalan matan ilmu yang harus dimiliki oleh setiap santri. Memperoleh ijazah Ulya dari Madrasah Al-Falah pada tahun 1346 H dengan hasil yang sangat memuaskan, sehingga apa yang diharapkan orangtua beliau hendaknya sang putra kelak dapat membina halaqah ilmu di Masjidil Haram betul-betul dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Juga berkat doa Al-Walid dan doa As-Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Atthas perkembangan tambahan ilmu dan kaweruh beliau terlihat semakin mantap, yang kemudian dapat melanjutkan studinya di Masjidil Haram. Dorongan As-Sayyid Abbas Al-Malikiy (orang tua beliau) pada waktu itu cukup dominan. Di antara dorongannya, beliau berkata kepada sang putra tercinta,

“Ijazah seseorang adalah ilmunya dan kemanfaatan ilmu itu kepada manusia”

Dengan inilah kemudian beliau harus memacu ilmu sebanyak-banyaknya dari guru-guru besar. Guru-guru beliau antara lain :
1. As-Syekh Abdullah Hamduh
2. As-Syekh Muhammad Al-Arabiy At-Tabbaniy
3. As-Syekh At-Thayib Al-Murakisyi
4. As-Syekh Umar Hamdan
5. As-Syekh Isa Rawwash
6. As-Syekh Ahmad Nadhirin
7. As-Syekh Yahya Aman
8. As-Syekh Habibullah As-Singqithiy
9. As-Syekh Muhammad Aliy bin Husain Al-Malikiy
10. As-Syekh Jamal Al-Malikiy
11. As-Syekh Ahmad At-Tiji (Syaikhul Qurra’)
12. As-Syekh Hasan As-Said
dan masih banyak lagi yang lainnya.

Masa Mengajar
Pada tahun 1347 H, ketika berusia 20 tahun, beliau sudah diangkat menjadi guru di Madrasah Al-Falah dan diberi wewenang mengajar di Masjidil Haram. Di Khaswah Babussalam beliau memulai mengadakan halaqah ilmu yang dipadati oleh para santri. Kemudian dengan dorongan yang kuat dari ayahnya, beliau membuka majlis umum untuk pengajian dengan metode penyampaian yang dipakai oleh As-Syekh Ibrahim Arab, sehingga yang hadir dalam pengajian beliau ini lebih dari seribu orang.
Tiga puluh tiga tahun lamanya beliau membina kader ilmuwan di Madrasah Al-Falah, di samping menyebar ilmu di Masjidil Haram, di rumahnya dan di khalwatnya, dan nampaklah dari hasil pendidikan beliau ini beberapa Qodli, Ulama’, dan Asatidz, diantaranya adalah putra beliau sendiri yang cukup kita kenal yaitu As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawiy Al-Malikiy Al-Hasaniy, terutama juga orang-orang dari negeri kita Indonesia yang waktu kepulangan mereka sedang menghadapi kolonial Belanda dan menjadi kyai-kyai dan tokoh-tokoh perjuangan yang mempunyai andil besar dalam mengusir penjajah, sehingga terciptalah kemerdekaan Indonesia. Di antara murid beliau ialah K.H. Anwar Musaddad Garut, K.H. Syafi’i (almarhum) Jakarta, K.K. Thahir Rahiliy Jakarta, dan lain-lain.

Ibanah Al-Ahkam diantara Syarah-syarah Kitab Bulugh Al-Maram
Ibanah Al-Ahkam adalah kitab yang men-syarahi (menjelaskan) kitab Bulugh Al-Maram karya Al-Hafidl Ibn Hajar Al-Asyqalaniy. Dan kalau kita lihat karya ulama-ulama besar yang men-syarahi kitab itu sudah banyak dan yang terkenal antara lain :
Kitab Ifham Al-Afham, karya As-Said Yusuf bin Muhammad Al-Ahdal, meninggal tahun 1242 H
Kitab Al-Badi Al-Tamam, karya Al-Qodli Syarfu Ad-Din Al-Husainiy bin Muhammad bin Sa’id Al-La’i, meninggal tahun 1119 H
Subul As-Salaam, karya Muhammad bin Isma’il Al-Amii Al-Yumna As-Shan’aniy, meninggal tahun 1107 H
Fath Al-‘Allam, karya Abi Ath-Thoyyib Shodiq bin Hasan Al-Qonuji
Dan diantara kitab-kitab tersebut yang paling klasik adalah Subul As-Salaam.

Banyaknya komentator terhadap kitab Bulugh Al-Maram disebabkan karena kitab tersebut adalah kitab hadits yang membahas fiqh. Hal inilah yang menjadikan daya tarik ulama untuk men-syarah-i kitab tersebut. Dan disamping itu karena pengarangnya memang seorang yang ahli dan cakap di bidang hadits sehingga mengundang banyak orang ‘alim untuk selalu mengkritisi karya-karyanya.
Kondisi itu juga ada pada diri As-Sayyid ‘Alawiy Al-Malikiy. Dimana beliau merasa terpanggil juga untuk mengkritis kitab tersebut sesuai dengan keahlian beliau di bidang hadits dan fiqh. Dan karena karya beliau muncul pada era modern, maka bisa jadi sistematika penulisannya disesuaikan dengan jamannya. Dan inilah nantinya yang akan membedakan dengan kitab-kitab (syarah) sebelumnya.

Ibanah Al-Ahkam
Kitab Ibanah Al-Ahkam setelah dikaji oleh penulis dan juga dibandingkan dengan kitab-kitab lainnya, maka penulis melihat ada beberapa hal yang positif pada kitab ini; antara lain :
Kitab ini memudahkan bagi pemula terhadap pengkajian hadits terutama hadits-hadits yang ada dalam kitab Bulugh Al-Maram. Baik kemudahan dari sisi memahami perawi hadits, makna hadits dari sisi lafadl, maupun makna hadits dari sisi fiqh. Hal ini karena sistematika penulisan yang dibuat sangat representatif untuk bisa cepat dimengerti.
Kitab ini lebih berorientasi pada kombinasi fiqh hadits. Dan ini bisa dilihat bagaimana beliau menjelaskan suatu hadits dengan mengkombinasikan maknanya dengan pendapat tokoh-tokoh / ulama-ulama madzhab tanpa justifikasi pembenaran pada salah satu pendapat. Misalnya : ketika beliau mengomentari hadits yang diriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudri r.a. dimana Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya  air itu suci dan sesuatu tidak bisa membuatnya najis” (lihat bab Ahkam Al-Miyah hadits ke-2).
Beliau mengomentari hadits tersebut terutama yang berkaitan dengan kalimat “syaiun” (sesuatu) dengan mengkaitkan pada pendapat / komentar ulama-ulama madzhab. Ia menukil bahwa menurut Imam Malikiy yang dimaksud “syaiun” tersebut tidak dibatasi oleh jumlah; artinya, bila ada air yang kemasukan benda asing baik sedikit atau banyak selama benda itu bukan najis, maka air itu tetap suci. Dan hal itu berbeda dengan yang dikemukakan Imam Syafi’i, Hanafi dan Hambali, yang mereka membatasi sesuatu itu pada faktor jumlah (banyaknya). Artinya kalau sesuatu itu sedikit namun bisa mengubah sifat air, maka air itu tidak dianggap suci.
Ini hanya contoh, bagaimana Sayyid ‘Alawiy menerangkan satu hadits dengan mengkombinasikan dengan kajian-kajian fiqh klasik dan tentu sangat bermanfaat bagi pelajar-pelajar yang hendak mendalami fiqh hadits.
Sebagaimana diungkapkan di atas bahwa kitab Ibanah Al-Ahkam ini dari sisi penulisannya berbeda dengan kitab-kitab (syarah) sebelumnya. Kitab ini memiliki sistematika sebagai berikut :
Ma’na Ijmali : pemahaman ma’na global. Dalam fase ini, sebuah hadits dipahami secara global dengan mengkaitkan pada Asbab Al-Wurud hadits itu. Sehingga bagi pembaca akan sangat paham konteks hadits tersebut ketika diucapkan oleh Rasulullah. Contoh : hadits yang diriwayatkan dari Amr bin Hharijah r.a. bahwasanya ia berkata,
“Rasulullah Saw berkhutbah pada kami di Mina sedangkan beliau berada di atas unta dan unta itu berliur yang jatuh pada paha saya” (lihat bab Al-Aniah hadits ke-24).

Sayyid ‘Alawiy menjelaskan konteks hadits tersebut bahwa Rasulullah Saw itu sedang berkhutbah di atas unta pada waktu Haji Wada’, beliau menjelaskan tentang haji. Dan pada waktu itu air liur unta menetes pada salah satu sahabat dan Rasulullah mengetahuinya dan ada memerintahkan untuk menghilangkannya. Konteks hadits ini yang dibahas pada fase ma’na Ijmali akan lebih memudahkan pemahaman hadits secara komprehensif dan integral.
Tahlili Al-Lafadl : memperinci makna kata demi kata
Fiqh Al-Hadits : pemahaman hadits yang integral dan komprehensif.
Pada fase ini kecerdasan dan kejelian akan penelitiannya terhadap suatu hadits sangat luar biasa. Hal ini bisa dilihat karena ketika ia memahami suatu hadits, tidak hanya tertumpu pada pendapat ulama madzhabnya. Namun beliau bisa menginterpretasikan pemahaman yang baru hasil ijtihadnya. Contoh hadits yang diriwayatkan oleh Ammar bin Yassir r.a., ia berkata :
“Telah mengutusku Nabi Muhammad untuk suatu kebutuhan. (Di tengah perjalanan) saya berjinabat (dan hendak mandi) tidak menemukan air, maka saya bertayamum dengan bergulung-gulung di tanah, seperti bergulung-gulungnya binatang. Kemudian saya mendatangi Rasulullah dan menceritakan hal itu. Maka Rasulullah bersabda : “Sebenarnya kamu cukup menepukkan tanah di tanganmu …” (lihat bab Tayyamum hadits ke-108).
Dalam memahami hadits ini beliau tidak hanya bersandar pada fiqh tayammum saja, namun beliau menafsirkan hal-hal di luar itu, yaitu : bahwa bagi orang yang berpendapat / berijtihad tidak perlu dicela jika salah. Karena — menurut beliau — beliau Rasulullah tidak memarahi sahabatnya ketika melakukan kesalahan, justru sebaliknya meluruskan dan mengarahkan kepada yang benar. Di sinilah yang dimaksud interpretasi baru yaitu bahwa hadits itu menurut Sayyid Alawiy mengandung pesan-pesan yang bernuansakan pendidikan.

Kajian Perawi Hadits. Dalam kajian perawi hadits, beliau hanya menjelaskan perawi I dan tidak menjelaskan seluruh perawi yang ada dalam sand hadits. Hal ini mungkin karena keterbatasan waktu.

Penutup
Demikianlah bedah kitab Ibanah Al-Ahkam karya As-Sayyid ‘Alawiy Al-Malikiy. Kitab ini menurut penulis sangat layak untuk dikaji di perguruan-perguruan tinggi Islam terutama pada jurusan Syari’at atau Hadits. Namun sayang buku ini tidak bisa dilanjutkan karena As-Sayyid ‘Alawiy keburu meninggal dunia sebelum menyelesaikan bab Mu’amalatnya. Semoga amal beliau diterima Allah SWT. Amin.

Wa Allahu A’lamu.

Pengagungan Antara Ibadah dan Adab

Oleh : Djunaidy Sahal

Kebanyakan manusia salah dalam memahami hakekat ta’dhim (pengagungan) dan hakekat ibadah. Mereka mencampurkan dua masalah tersebut secara samar, dengan menganggap bahwa segala bentuk pengagungan adalah merupakan ibadah bagi yang diagungkannya. Maka (seperti) berdiri, mencium tangan dan mengagungkan Nabi Besar Muhammad SAW dengan kalimat Sayyidina dan Maulana, serta berhenti di depan beliau pada waktu berkunjung dengan adab yang santun, serius dan tenang (tawadlu’), semua pengagungan itu dianggap terlalu berlebihan yang mengarah pada peng-ibadah-an selain kepada Allah SWT. Anggapan tersebut, pada hakekatnya, adalah suatu anggapan yang bodoh dan mempersulit diri yang Allah dan Rasul-Nya tidak meridloi anggapan itu.Hal itu adalah pemaksaan yang tidak dikehendaki oleh syari’at Islam.

Nabi Adam adalah makhluk pertama dari kalangan manusia dan juga yang pertama dari kalangan hamba Allah yang sholih. Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai pemuliaan dan pengagungan atas ilmu yang diberikan Allah kepadanya, dan juga merupakan pengumuman kepada para malaikat atas penunjukan Adam (sebagai Nabi) bagi seluruh makhluk-makhluk-Nya.

Allah berfirman dalam QS Al Isra’ : 61 – 62,

“Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman pada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, lalu mereka sujud, kecuali Iblis. Dia berkata, ‘Apakah aku akan sujud pada orang yang Engkau ciptakan dari tanah ?’ Dia (iblis) berkata, ‘Terangkanlah kepadaku, inikah orang yang Engkau muliakan atas diriku ?’ ”

Dan di dalam QS Al Hijr : 30-31, Allah berfirman,

“Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama kecuali iblis, ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu.”

Dalam QS Ash Shad : 76,

“Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.’ ”

Malaikat ‘alaihis salam semuanya mengagungkan Nabi Adam, yang Allah juga mengagungkannya. Dan iblis takabbur untuk sujud pada orang yang diciptakan Allah dari tanah. Maka ia (iblis) adalah makhluk pertama yang mengkiaskan (menganalogikan) agama dengan akalnya, seraya berkata, “Saya lebih baik daripadanya.” Ia (iblis) membuat alasan dengan alasan penciptaan, bahwa ia diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam AS diciptakan dari tanah, sehingga ia (iblis) enggan untuk memuliakannya dan tidak mau bersujud kepadanya. Maka dialah (makhluk) pertama dari kalangan orang-orang yang sombong, yang tidak mau mengagungkan manusia padahal Allah mengagungkannya. Maka ia dijauhkan dari rahmat Allah karena kesombongannya pada hamba yang sholih (Nabi Adam AS). Dia adalah (lambang) dari hakekat kesombongan pada Allah, karena sesungguhnya sujud adalah untuk Allah semata. Sedangkan “perintah sujud” pada Nabi Adam adalah sebagai pengagungan dan pemuliaan baginya di atas para malaikat. Iblis sejak dulu termasuk makhluk yang bertauhid, maka (semenjak pembangkangannya) tidak ada lagi manfaat atas ketauhidannya.

Bukti dari pengagungan orang-orang yang sholih adalah firman Allah SWT dalam QS Yusuf : 100, ketika Dia mengagungkan Nabi Yusuf AS,

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya keatas singgahsana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Nabi Yusuf.”

Sujud di sini sebagai penghormatan, pemuliaan dan pengagungan pada Nabi Yusuf AS atas para saudaranya. Sujudnya saudara-saudara Nabi Yusuf AS padanya ke tanah, ditunjukkan dengan kalimat (firman Allah) “merebahkan diri”. Barangkali sujud di antara manusia diperkenankan dalam syariatnya Nabi Yusuf, atau seperti sujudnya malaikat pada Nabi Adam, yang merupakan sujud penghormatan, pemuliaan dan menjalankan perintah Allah. Sujudnya saudara-saudara Nabi Yusuf padanya sebagai ta’wil mimpinya, karena mimpi para Nabi adalah wahyu.

Adapun tentang Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, Allah berfirman dalam  QS Al Fath,

“Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, supaya kalian semua beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menguatkan agama-Nya dan membesarkan-Nya.”

Firman Allah dalam QS Al Hujurat : 1,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan rasul-Nya.”

Pada ayat selanjutnya Allah berfirman,

“Janganlah kalian menjadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebahagian kalian dengan sebahagian yang lain.”

Adalah sebuah larangan jika mendahului Rasul dengan ucapan dan sebuah perangai yang buruk jika mendahului percakapannya. Berkata Sahal bin Abdullah, “Janganlah kalian berkata sebelum beliau (rasul) berkata, dan jika beliau berkata maka dengarkanlah dan diamlah kalian. Dan cegahlah dirimu dari mendahului dan ketergesa-gesaan dalam menjalankan suatu perkara sebelum perkaranya (selesai). Dan janganlah mereka berfatwa dengan sesuatu (secara tergesa-gesa) seperti masalah peperangan atau yang lain dari masalah agama kecuali atas perintahnya. Dan janganlah mereka mendahuluinya. Kemudian Allah menasihati mereka dan memberi peringatan pada mereka dengan firman-Nya pada akhir ayat 1 dari QS Al Hujurat,

“Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dan berkata As Sulamy, “Takutlah kalian kepada Allah dalam melanggar hak Rasulullah dan melalaikan kehormatannya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar ucapan kalian lagi Maha Mengetahui segala aktivitas kalian. Kemudian Allah melarang mereka untuk meninggikan suara di atas suara beliau, yaitu mengeraskan ucapan, seperti mengeraskan ucapan sebahagian mereka dengan sebahagian yang lain dan meninggikan di atas Rasulullah.”

Dan ada yang mengatakan, “Seperti memanggilnya kalian pada sebahagian yang lain dengan menggunakan namanya.”

Berkata Abu Muhammad Makky, “Janganlah kalian mendahului ucapannya dan berkata kasar kepadanya. Dan jangan pula kalian memanggil dengan namanya, seperti panggilan sebagian kalian dengan sebagian yang lain. Akan tetapi agungkanlah beliau dan muliakanlah serta panggillah dengan panggilan yang paling baik dan yang paling hakiki, seperti: Wahai Rasulullah, Wahai Nabiyullah. Inilah yang dimaksud ayat :

“Janganlah menjadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian dengan sebagian yang lain.”

Tentang ayat itu, telah menafsirkan dengan penafsiran yang berbeda dengan Abu Muhammad Makky, yaitu, “Janganlah kalian berkata padanya kecuali bagi orang-orang yang butuh untuk bertanya. Dan kemudian Allah menakut-nakuti mereka (orang yang berkata mendahului Rasul) dengan gugurnya amal-amal mereka jika mereka melakukan perbuatan itu.” Sedangkan ayat tersebut di atas diturunkan pada sekelompok manusia yang mendatangi Nabi Muhammad SAW seraya memanggil beliau dengan panggilan, “Ya Muhammad, keluar engkau pada kami ! ”  Maka kemudian Allah mengecam mereka dengan ungkapan bodoh dan mensifati mereka dengan sifat orang-orang yang tidak berfikir (yaitu orang-orang yang tidak menggunakan akalnya).

Berkata Amru bin ‘Ash ra, “Tidak ada seorangpun yang paling aku cintai kecuali Rasulullah SAW, dan tidak ada yang paling aku agungkan di mataku kecuali beliau. Dan aku tidak mampu memenuhi mataku dengan keagungannya. Dan jika engkau meminta untuk mensifatinya, maka aku tidak mampu, karena mataku tidak bisa menampung keagungannya.”

Telah meriwayatkan At Tirmidzi dari Anas, bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari keluar (menemui) sahabat-sahabatnya dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Ketika itu mereka sedang duduk-duduk. Di antara mereka ada Abu Bakar dan Umar. Maka tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat pandangannya pada Rasulullah, kecuali Abu Bakar dan Umar. Karena sesungguhnya mereka berdua memandang Rasulullah dan Rasulullah pun memandang mereka berdua, dan mereka berdua tersenyum pada beliau, dan beliau juga tersenyum pada mereka.

Diriwayatkan dari Usamah bin Sarik, ia berkata, “Saya mendatangi Rasulullah SAW, ketika itu sahabat-sahabatnya berada di sekitarnya, seakan-akan di kepala mereka ada burung.” Dalam mensifatinya, jika berbicara, maka orang-orang yang duduk sambil menundukkan kepala seakan-akan di kepala mereka ada burung.

Berkata ‘Urwah bin Mas’ud, ketika Quraisy mengutusnya pada tahun Qodliyah kepada Rasulullah SAW. Ia melihat pengagungan sahabat-sahabat pada Rasulullah SAW seperti apa yang ia lihat, bahwa Rasulullah SAW tidak berwudlu kecuali para sahabat bersegera untuk mengambil air wudlu Rasulullah (sisa air wudlunya). Mereka (pada waktu itu) saling berebutan. Rasulullah tidak meludah serta tidak mengeluarkan ingus kecuali mereka (para sahabat) menerima ludah / ingus tadi dengan telapak-telapak tangannya kemudian mengusapkannya pada wajah dan tubuh mereka. Tidak jatuh satu rambut pun dari Rasulullah, kecuali para sahabat segera mengambilnya. Jika beliau memerintah pada sahabat dengan suatu perintah, mereka segera melaksanakan perintahnya dan jika berbicara, maka mereka merendahkan ucapan mereka di hadapan Rasulullah. Mereka pun tidak menajamkan pandangan pada Rasul, sebagai penghormatan padanya.

Maka ketika ‘Urwah bin Mas’ud kembali ke Quraisy, ia berkata, “Wahai orang-orang Quraisy, saya pernah datang ke Kisra (Persi), Kaisar (Romawi) dan Kerajaan Najasy. Sungguh, demi Allah, saya tidak melihat kerajaan dari kaum manapun seperti (yang dimiliki) oleh Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya.” Dalam riwayat (yang lain), “Saya tidak pernah melihat kerajaan dari kaum manapun yang para sahabat mengagungkan Nabi Muhammad SAW, dan sungguh saya telah melihat kaum yang selalu pasrah kepadanya.”

Dikeluarkan oleh Ath Thobarony dan Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya dari Usamah bin Syarik ra, ia berkata, “Kami duduk bersama Nabi SAW , seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Tidak seorangpun dari kami yang berbicara. Ketika datang seseorang kepada beliau sambil berkata pada beliau, ‘Siapa orang yang paling dicintai Allah SWT ?’ Maka Nabi menjawab ‘Adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.'”   ()

Dikeluarkan oleh Abu Yaila dan dishohihkannya, dari Al Barra’ bin ‘Azib ra, ia berkata, “Sungguh dulu saya pernah akan bertanya pada Rasulullah SAW tentang suatu perkara, maka saya tunda pertanyaan itu sampai dua tahun karena kehebatan (wibawa) Rasulullah SAW.”

Dikeluarkan oleh Al Baihaqy dari Az Zuhry, ia berkata, “Berkata padaku orang yang tidak bisa dituduh (kevalidannya) dari kalangan Anshor, bahwa Rasulullah SAW ketika berwudlu atau membuang ingus, maka mereka (sahabat) segera (berebut) ingusnya, kemudian mereka mengusapkan ingus tersebut pada wajah mereka dan kulit-kulit mereka. Maka bersabda Rasulullah SAW, ‘Mengapa kalian melakukan hal itu ?’ Mereka menjawab, ‘Kami mencari berkah darimu.’ Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa yang menginginkan untuk dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka berkatalah yang jujur, melaksanakan amanat dan tidak menyakiti tetangganya’.”  ()

Kesimpulannya, ada dua perkara tentang pengagungan yang harus diperhatikan :

Pengagungan pada Nabi Muhammad SAW, dan mengangkat derajatnya di atas segala makhluk.
Pentauhidan akan Ketuhanan, meyakinkan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala berdiri sendiri atas dzat-Nya, sifat-sifat-Nya dan aktivitas-aktivitas-Nya dari seluruh ciptaan-Nya.

Barang siapa yang meyakini bahwa makhluk dapat disejajarkan pada Allah SWT dalam sesuatu, maka ia telah berbuat sirik. Seperti orang-orang musyrikin yang meyakini ketuhanan berhala-berhala dan memberikan hak kepada berhala untuk disembah.

Siapa yang membatasi derajat Rasulullah SAW maka dia telah bermaksiat atau telah kafir. Adapun orang-orang yang mengagungkan Rasulullah SAW dengan segala macam pengagungan sebatas tidak mensifatinya dengan sifat ketuhanan, maka dia telah melakukan kebenaran dan menjaga sifat ketuhanan dan kerisalahan secara bersama.

Jika ditemukan pada ucapan orang-orang yang beriman tentang penyandaran sesuatu selain pada Allah SWT, maka harus ditafsiri dengan arti kiasan, dan tidak ada jalan untuk mengkafirinya, karena arti kiasan banyak digunakan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Kelompok-kelompok Islam dalam Pandangan Syara’

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Di dunia Islam – semenjak runtuhnya Imperium Islam di Turki tahun 1924 – banyak sekali kelompok ummat Islam yang berusaha mengembalikan kekuatan ummat dengan menegakkan kembali tatanan sistem Islam.

Berawal dari suatu negeri, kelompok-kelompok tersebut berdiri dan kemudian menyebar serta mengakar ke seluruh pelosok negeri di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, kelompok-kelompok tersebut lebih banyak di terima di kalangan kampus. Sehingga bisa dilihat, banyak sekali nama-nama kelompok yang kadangkala berbeda dengan nama kelompok asalnya, namun ide yang dikembangkan sama – di samping ada pula yang tetap menggunakan nama kelompok asalnya. Dari mereka pula lahirlah istilah-istilah seperti : Usrah, Harakah, Jama’ah, Halaqah, dll.

Ada juga kelompok-kelompok pribumi, yaitu kelompok-kelompok yang tidak ada korelasi ideologis dengan kelompok-kelompok Timur Tengah, namun mereka lahir atas tuntutan atau kebutuhan kondisi waktu itu. Kelompok ini agak moderat dan kooperatif dengan sistem yang ada – di samping ada juga yang non-kooperatif dan bersifat radikal.

Keberadaan Kelompok-kelompok Islam dalam Pandangan Syara’

Kelompok Islam juga sering disebut dengan Ormas KeIslaman, Harakah dan Jama’ah Da’wah. Harakah — berdasarkan etimologi Bahasa Arab – diambil dari kata At-Taharruk, yang artinya bergerak atau berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain .

Istilah ini kemudian populer dengan arti : Sekelompok orang atau suatu gerakan yang mempunyai target tertentu dan mereka berusaha bergerak serta berupaya untuk mencapainya.

Dari penjelasan tersebut, Harakah bisa dilakukan oleh individu dan juga oleh suatu organisasi atau jama’ah; karena sifat Harakah adalah pengguliran pemikiran, di mana dengannya diharapkan tujuannya akan tercapai.

Sedangkan Jama’ah — secara etimologi – berasal dari akar kata Al-Jam’u, artinya berkumpul. Arti yang lebih populer : Sekelompok individu yang berkumpul untuk mencapai cita-cita dengan rencana dan pengaturan yang telah dirumuskan.

Dari penjelasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa Harakah dan Jama’ah ada korelasi yang sangat erat; bahwa setiap Jama’ah adalah Harakah, namun tidak sebaliknya, karena Harakah bisa dilakukan oleh individu.

Allah membenarkan adanya kelompok Islam yang bertugas untuk Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, yaitu suatu aktivitas untuk mengingatkan manusia akan pelaksanaan hukum-hukum syara’ secara universal (Lihat Q.S. Ali-‘Imran : 104 dan Q.S. An-Nahl : 89).

Rasulullah SAW sendiri bersabda : dari Umamah beliau berkata : “Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang berada (berpegang-teguh) pada agamanya. Mereka menang dan mengalahkan musuhnya. Tidak merugikan bagi mereka orang-orang yang menyalahi mereka, kecuali rasa sakit, hingga datang pada mereka putusan Allah dan mereka tetap begitu (yaitu tetap di atas kebenaran) … “ (H.R. Abdullah bin Ahmad Wijadah, Ath-Thabraniy dan Ahmad).

Dari sini dapat dijelaskan juga tentang kriteria kelompok/jama’ah menurut hukum Islam sebagai berikut :

Selalu berada dalam kebenaran aqidah Islam
Aktivitas-aktivitasnya terikat terhadap hukum syara’ secara menyeluruh, tidak parsial.
Kelompok tersebut sebagai reformer dari ummat
Ada target yang jelas, dilandasi oleh aqidah Islam dan hukum-hukum syara’
Ada metode yang sesuai dengan hukum syara’ dalam meraih target tersebut.

Problem yang Terjadi Antar Kelompok

Selingkuh dan perselisihan antar kelompok-kelompok Islam kerap terjadi. Hal ini disebabkan adanya perbedaan penafsiran hukum syara’ dalam menentukan target dan metodenya.

Kalau kita lihat fakta di lapangan, maka pada aktivitas kelompok-kelompok Islam tersebut ada beberapa target berbeda yang diambil oleh mereka, yaitu :

Target memperbaiki individu dengan aqidah dan akhlaq
Target memperbaiki masyarakat dengan aktivitas sosial keIslaman, seperti : mengadakan pendidikan Islam, memelihara anak yatim, dan membuka jaringan internet Islam, dsb
Target memperbaiki sistem yang melahirkan masyarakat

Dari beragamnya target yang mereka tentukan, tentunya akan berbeda pula metode mereka dalam menjalankan dan mengaplikasikan target tersebut.

Perbedaan yang terjadi di antara kelompok-kelompok Islam tersebut berakar dari perbedaan pemahaman terhadap hukum syara’, terlebih Siirah Nabawiy.
Untuk lebih jelasnya, penulis akan menjelaskan satu demi satu dalil-dalil mereka di bawah ini.

1.     Dalil-dalil yang digunakan oleh kelompok pertama :
a.     Al-Qur’an. Surat Al-Maidah : 105

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk … “
Q.S. Al-Maidah : 105

b.     Al-Qur’an. Surat Al-Jumu’ah : 2

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah …”
Q.S. Al-Jumu’ah : 2

c.     Al-Qur’an. Surat Ali-‘Imran : 164

“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah …”
Q.S. Ali-‘Imran : 164

d.    Siirah Nabawiy.
Bahwa da’wah pertama kali yang disampaikan oleh Rasulullah SAW adalah melalui perbaikan individu-individu terhadap aqidah mereka, hingga mencapai 40 orang yang dikumpulkan di rumah Al-Arqam bin Abiy Al-Arqam.

2.     Dalil-dalil yang digunakan oleh kelompok kedua :
a.     Al-Qur’an. Surat Huud : 116

“Maka mengapa tidak ada dari ummat-ummat yang sebelum kamu mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang dzalim hanya mementingkan keni’matan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.”
Q.S. Huud : 116

b.    Al-Qur’an. Surat Ali-‘Imran : 104

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; dan merekalah orang-orang yang beruntung.”
Q.S. Ali-‘Imran : 104

Al-Ma’ruf — menurut mereka – bersifat umum; apakah itu aktivitas sosial atau politik. Dan ayat umum tetap keumumannya kecuali ada ayat-ayat yang mengkhususkannya. Imam At-Thabariy memberikan pengertian tentang Al-Ma’ruf sebagai segala sesuatu yang baik menurut syara’ berupa perkataan dan perbuatan. Sedangkan Al-Munkar adalah sesuatu yang buruk menurut syara’ berupa perkataan dan perbuatan.

c.    Siirah Nabawiy.
Aktivitas pertama yang dilakukan Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah adalah membangun masjid sebagai pusat aktivitas da’wah dan mempersaudarakan Muhajirin dengan Anshor. Baru setelah itu Rasulullah membangun sistem Islam dengan dibuatnya Piagam Madinah.

3.     Dalil-dalil yang digunakan oleh kelompok ketiga :
a.    Kelompok ini menafsirkan Al-Qur’an Surat Ali-‘Imran : 104 tentang lafadh Al-Ma’ruf dengan tafsiran bahwa Al-Ma’ruf yang paling agung adalah tegaknya sistem Islam (Khilafah).
b.    Dalam Siirah Nabawiy, menceritakan maksud kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah adalah untuk mendirikan Daulah Islamiyah .
c.    Fakta sekarang menunjukkan tidak mungkin berda’wah tanpa mengubah sistem secara total, karena aktivitas sosial yang ada sekarang ini adalah tugas penguasa Islam, bukan tugas ummat. Oleh karena itu, ummat Islam harus berkonsentrasi terhadap aktivitas untuk mewujudkan penguasa Islam tersebut — yang memiliki otoritas internasional.

Akar Masalah yang Menyebabkan Perbedaan Tersebut

Akar masalah tersebut adalah Siirah Nabawiy; para ‘ulama memandangnya sebagai suatu khasanah keIslaman yang wajib diketahui oleh setiap muslim. Ia merupakan kumpulan hadits yang membicarakan biografi Nabi Muhammad SAW. Al-Maghaziy karya Ibnu Ishaq merupakan kitab siirah yang pertama disusun. Sedangkan Siirah Ibnu Hisyam merupakan siirah yang terkenal dan layak dipakai sebagai referensi sarjana muslim. Ibnu Hisyam adalah murid Ibnu Ishaq (seorang Thabi’in yang meninggal pada tahun 154 H).

Sikap kita terhadap Siirah adalah sama dengan sikap kita terhadap hadits-hadits Rasulullah SAW. Kadangkala bersifat marfu’, mauquf, dan maqfu’ – ini jika dilihat dari sisi sanad. Sedangkan dari sisi kevalidan sanad-nya ada yang shahih, lemah (dha’if) dan palsu. Dan dari sisi periwayatannya ada yang mutawatir serta ahad.

Kalau kita teliti, ternyata jika kita melihat Siirah secara per peristiwa, maka Siirah tersebut bisa dha’if, shahih, bahkan palsu – ini dari sisi keberadaan Siirah. Sedangkan dari sisi dlilalah (pemahaman), maka Siirah bisa bersifat Dzanniy dan ada yang bersifat Qath’iy, seperti turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama kali, para ‘ulama berbeda pendapat; demikian pula ayat yang terakhir kali turun.

Bisa disimpulkan bahwa metodologi dalam meraih target serta penentuan targetnya adalah bersifat Dzanniy. Oleh karena itu, ia merupakan lahan ijtihad. Sedangkan hal-hal yang bersifat ijtihadiyyah adalah benar menurut yang ber-ijtihad.

Bagaimana Kita Bersikap ?

1.    Apapun yang kita lakukan, selama terikat dengan hukum syara’, maka sah adanya. Oleh karena itu, kita harus berlapang dada terhadap perbedaan itu – yang secara alami memang berbeda. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, Surat Huud : 115
“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan”
Q.S. Huud : 115

Bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap aktivitas seorang muslim, bahkan sekecil apapun aktivitas itu. Rasulullah bersabda :

“Janganlah kalian menghina aktivitas baik, sekecil apapun”
(H.R. Muslim)

Kita harus bercermin dan berpedoman dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hujurat : 11-12 ketika kita hidup dalam interaksi dengan kelompok-kelompok Islam, baik di kampus maupun di masyarakat.
Wa Allahu A’lam

Perbedaan Antara ‘Aqidah dan Syari’ah

Pendahuluan

Kerapkali dalam kehidupan masyarakat dijumpai adanya fakta – yang mungkin sulit untuk dibantah — bahwa ternyata Islam itu tidaklah satu (ummatan waahidah). Soal penetapan awal Idul Fithri misalnya; sudah berapa kali kita menghadapi ‘ketidakbersamaan’ dalam merayakan hari kemenangan itu. Belum lagi hal-hal ‘kecil’ yang sudah teramat akrab di telinga kita, semacam sholat shubuh; ada yang pakai qunut, ada yang tidak – sementara yang jarang atau tidak sholat shubuh luput begitu saja dari pembahasan.

Hal ini belum lagi jika ditambah dengan semakin banyaknya istilah yang mungkin bagi orang kebanyakan boleh jadi membingungkan. Apalagi jika istilah tersebut memberikan kesan peng-kotak-an Islam menjadi kelompok-kelompok tertentu. Ada Islam kiri, Islam abangan, Islam modernis, Islam tradisionalis, Islam kejawen, Islam radikal, dan sebagainya. Dan agaknya tidak enak juga untuk tidak menyebut Islam NU dan Islam Muhammadiyah. Sehingga tidak aneh jika ada yang bertanya : sebenarnya Islam itu ada berapa, sih ?

Persoalan semacam ini sebenarnya sudah lama muncul dalam blantika perkembangan Islam. Kita kenal aliran-aliran teologis semacam : mu’tazilah, qadariyah, jabariyah, dan ahlu as-sunnah muncul sejak jamannya Hasan al-Bashri. Bahkan sampai sekarang pun kelompok tersebut masih memiliki pengaruh pada pemikiran-pemikiran umat, sehingga beberapa waktu yang lalu tak heran jika ada yang – masih – mem-blow up adanya neo-mu’tazilah misalnya. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa bagaimanapun persoalan itu turut ambil bagian dalam proses terpuruknya peradaban Islam sampai seperti sekarang ini. Bukankah heterogenitas lebih menyimpan potensi disintegrasi yang lebih besar ?

Banyak sebenarnya latar belakang munculnya ‘keberbedaan’ di kalangan umat tersebut. Satu di antaranya — yang akan dibahas pada makalah sederhana ini – adalah masih adanya kekurangpahaman umat terhadap persoalan kapan bisa berbeda dan kapan harus senada, pada persoalan yang bagaimana bisa berbeda pendapat dan pada persoalan yang bagaimana pula harus sepakat bulat. Persoalan dimaksud adalah persoalan ‘aqidah dan syari’ah; sebuah persoalan yang menurut Bang Imad sebagai buntut dari perbedaan pendapat tentang pemimpin dan kepemimpinan pasca al-khulafa-u ar-rasyidin. Kekurangpahaman pada kedua persoalan tersebut pada saatnya memiliki andil terhadap terjadinya ‘keberbedaan’ itu.
‘Aqidah

Secara lughawiyah (etimologis), ‘aqidah berakar dari kata : ‘aqoda – ya’qidu – ‘agdan wa ‘aqiidatan. ‘Aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Sehingga, ‘aqiidatan atau ‘aqiidah – untuk selanjutnya ditulis ‘aqidah — berarti keyakinan; ‘aqada ‘alaihi al-qalbu, apa-apa yang hati meyakini atasnya, atau keyakinan yang tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian. ‘Aqada ‘alaihi berarti pula jazama bihi, memastikan / memutuskan dengannya, atau shadaqahu yaqiinan, membenarkannya (apa-apa yang di dalam hati) secara yakin. Muhammad Husain ‘Abdullah menambahkannya dengan athma-anna ilaihi, merasa tentram kepadanya.

Pembenaran ini umum sifatnya, meliputi pembenaran atas segala sesuatu. Hanya saja, pembenaran terhadap sesuatu itu harus dilihat kepada sesuatu yang dibenarkan itu. Jika sesuatu itu bersifat amrun asasiyyun (persoalan mendasar) atau merupakan cabang dari sesuatu yang mendasar, maka sesungguhnya sah-sah saja jika dikatakan sebagai sebuah ‘aqidah. Oleh karena itu, sesuatu itu layak untuk dipakai sebagai miqyas (tolok ukur standar /standar penilaian) bagi sesuatu yang lain. Dengan demikian akan ada atsar (pengaruh) yang jelas pada hati dalam meyakini sesuatu itu.

Namun, apabila sesuatu yang diyakini tersebut bukan suatu perkara yang mendasar dan bukan pula merupakan cabang dari suatu perkara yang mendasar, maka sesungguhnya sesuatu itu bukanlah ‘aqidah. Karena keyakinan hati terhadap sesuatu itu tidak menimbulkan atsar (pengaruh) apapun sama sekali. Maka, tidaklah akan didapatkan dengan meyakininya itu suatu faedah apapun.

Adapun apabila hati dalam meyakini sesuatu (yang mendasar) tersebut mampu menimbulkan atsar maka akan mampu mendorongnya dalam menentukan sikap – sebagai buah dari keyakinan itu — dalam pembenaran terhadap sesuatu atau pengingkaran terhadap sesuatu. Itulah ‘aqidah.

Oleh karena itu, ‘aqidah merupakan al-fikroh al-kulliyyah, yaitu pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, kehidupan dan apa-apa yang terjadi sebelum kehidupan dunia dan sesudahnya serta hubungan antara sebelum dan sesudah kehidupan dunia itu. Seperti itulah ‘aqidah diberikan pengertian, khususnya ‘Aqidah Islamiyyah, dimana ‘aqidah Islamiyyah memasukkan pula ke dalamnya persoalan-persoalan yang mughayyabat (ghaib).

Pemikiran yang menyeluruh inilah yang mampu membuka persoalan besar (al-‘uqdatu al-kubro) manusia yang lahir dari pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang : siapa yang menjadikan yang ada ini dari ketiadaannya ? Mengapa ? Dan kemana semua ini akan dikembalikan ? Jika manusia bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan dan meyakinkan atas persoalan besar itu, maka hal itu akan mengantarkannya kepada sebuah ‘aqidah, sampai kepada ‘aqidah yang shahih; yakni dengan pemecahan yang baik sesuai dengan fitrah, memuaskan akal, maupun menentramkan hati.

Dengan demikian, iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qadha’ dan qadar yang baik dan buruk itu datangnya dari Allah; itulah ‘aqidah Islamiyyah. Maka, iman kepada syurga, neraka, malaikat, syaithon, atau apa-apa yang semisal dengannya adalah ‘aqidah Islamiyyah. Khabar atau apa-apa yang berhubungan dengannya dari hal-hal yang bersifat ghaib, dimana panca indra boleh jadi tidak bisa membuktikan keberadaannya, bisa dianggap sebagai ‘aqidah Islamiyyah pula.

Syari’ah

Sedangkan syari’ah atau hukum syara’ adalah khithaabu asy-syari’ (seruan pembuat syara’) yang berhubungan dengan permasalahan af’ali al-‘ibad (aktivitas hamba). Dengan kata lain, hukum syara’ adalah pemikiran-pemikiran tentang aktivitas dari aktivitas-aktivitas manusia atau sifat dari sifat-sifat yang dimiliki manusia yang bisa dikategorikan sebagai aktivitas. Dengan bahasa lain, ‘ulama ushul fiqih mendefinisikan hukum syara’ sebagai doktrin (khithab) syari’ yang bersangkutan dengan perbuatan orang-orang mukallaf secara perintah, diperintah memilih atau berupa ketetapan (taqrir).

Dengan demikian, maka perniagaan, berdagang, melakukan riba, sholat, berzakat, dan sebagainya masuk sebagai persoalan hukum syara’.  Demikian pula bersikap adil, bersabar atas musibah, dan sebagainya.

Dari definisi hukum syara’ menurut ‘ulama ushul tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hukum itu bukan satu macam saja, karena hukum itu adakalanya bersangkutan dengan perbuatan mukallaf dari segi perintah atau diperintah memilih maupun dari segi ketetapannya. Sehingga hukum syara’ terbagi menjadi dua bagian, yaitu : Hukum Taklifi dan Hukum Wadh’i.

1.  Hukum Taklifi

Ialah hukum yang menghendaki dilakukannya suatu pekerjaan oleh mukallaf, atau melarang mengerjakannya, atau melakukan pilihan antara melakukan dan meninggalkannya.

Misalnya hukum yang menghendaki dilakukannya perbuatan oleh mukallaf sebagaimana firman Allah :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.”
(Q.S. At-Taubah : 103)

Contoh hukum yang menuntut meninggalkannya, sebagaimana firman Allah :

“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kelompok yang lain.”
(Q.S. Al-Hujuraat : 11)

Contoh hukum yang memberikan pilihan untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sebagaimana firman Allah :

“… Dan apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi …”
(Q.S. Al-Jumu’ah : 10)

Hukum seperti ini disebut hukum taklifi karena mengandung tuntutan (taklif) kepada mukallaf untuk mengerjakan, meninggalkan atau memilih mengerjakan atau meninggalkannya. Dari sinilah muncul pengertian : Wajib, Sunnat (Nadb), Haram, Makruh dan Mubah.

2.  Hukum Wadh’i

Ialah hukum yang menghendaki meletakkan sesuatu sebagai suatu sebab, syarat atau penghalang bagi sesuatu yang lain.

Contoh hukum yang menghendaki meletakkan sesuatu sebagai sebab dari yang lain sebagaimana firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku-siku.”
(Q.S. Al-Maidah : 6)

Contoh hukum yang menghendaki meletakkan sesuatu sebagai syarat dari yang lain sebagaimana firman Allah :

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”
(Q.S. Ali-Imran : 97)

Contoh hukum yang menghendaki meletakkan sesuatu sebagai penghalang dari yang lain sebagaimana sabda Rasulullah :

“Tidaklah sah nikah itu kecuali dengan (dipersaksikan) oleh dua orang saksi.”                                 (H.R. _________ )

Perbedaan Antara ‘Aqidah dan Syari’ah

Dari sini kita bisa melihat bahwa ada perbedaan antara ‘aqidah dan syari’ah (hukum syara’). ‘Aqidah adalah pembenaran secara pasti terhadap sesuatu sesuai dengan fakta dan dalil yang qath’iy; dimana sesuatu tersebut merupakan persoalan asasi atau cabang dari persoalan asasi. Sedangkan hukum syara’ adalah seruan asy-syari’ yang berkaitan dengan permasalahan aktivitas hamba dan cukup baginya dalil-dalil dhanniy.

Oleh karena itu, sholat sunnah fajar dua raka’at merupakan bagian dari hukum syara’ dilihat dari sisi sholatnya. Oleh karena itu, apabila kita tidak mengerjakannya, tidaklah mengapa, walaupun kalau mengerjakannya akan mendapatkan pahala. Demikian pula, sholat sunnah dua rakaat Maghrib merupakan hukum syara’ dilihat dari sisi sholatnya.

Namun dilihat dari sisi ‘aqidah, pembenaran terhadap keberadaan sholat sunnah fajar dua rakaat merupakan sesuatu perkara yang harus dan karenanya ingkar terhadapnya berarti kufur, karena periwayatan adanya sholat sunnah tersebut mutawatir. Sedangkan meyakini keberadaan sholat sunnah dua rakaat Maghrib memang dituntut, namun ingkar terhadapnya tidaklah digolongkan kufur, oleh karena periwayatan perintah tersebut dari sisi dalil yang dhanniy, yaitu hadits ahad, di mana hadits ahad tidak bisa dijadikan hujjah dalam persoalan ‘aqidah.

Dari sini jelas bahwa seringkali persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat sehingga terjadi peng-kotak-an sedemikian rupa ternyata bukan karena persoalan mendasar (‘aqidah). Bahkan juz’iyyah atau furu’iyyah yang tentunya berasal dari dalil-dalil yang sifatnya dhanniy. Sedangkan dalil-dalil dhanniy menyimpan potensi untuk banyak penafsiran, bahkan bisa saja diinkari pembenaran terhadap keberadaannya. Oleh karena itu, perbedaan di dalam lapangan ini menjadi wajar saja terjadi. Dengan begitu, sebenarnya masih ada pertanyaan tersisa ketika – dalam konteks saat ini – perbedaan di lapangan itu masih saja terjadi : sebenarnya ada apa ?

Wa Allahu A’lamu