sowan ke Habib Hamid bin Ahmad Al-Muhdlor

Bersama Pak Adrian orang Rimba Karya Timur Kepatihan Tulungagung pada Kamis malam jum’at 25 Romadlon 1429 H saya sowan ke Habib Hamid bin Ahmad Al-Muhdlor Wates Sumbergempol Tulungagung. Kami nyampe di kediaman habib yang sangat taat pada abahnya ini pukul 21.00 namun beliau baru saja keluar, kata istri habib. Ternyata Habib berada di bangunan sekolah yang beliu tukangi sendiri. Kemudian kami diajak masuk ke ndalem habib. Setelah kenalan dan ramah-tamah, kami melanjutkan obrolan menjadi tanya jawab tentang profil ayah habib yang masih keturunan sunan Ampel Surabaya ini. “Kesabaran, ketabahan dan keistiqomahan Abah luar biasa”. jelas habib. “Sampai-sampai pernah saat Abah naik sepeda ada orang kampung yang menabuhi dengan kendang, Tapi abah cuwek aja.” lanjut cerita Habib yang punya banyak famili di Sumatra ini.

Banyak hal yang dibicarakan habib, mulai dari cerita awal Abah habib berdakwah hingga rencana dan obsesi habib sendiri dalam mengembangkan misi dakwah islam saat ini. Dan beberapa saat sebelum pulang Pak Adrian nyeletuk sebuah pertanyaan yang sangat mengagetkan saya, “Jadi hari raya kapan, Bib?” tanya Pak Adrian. Lebih kaget lagi jawaban Habib Hamid ini : “Ya hari Ahad, insya Alloh. Tapi gak usah diributkan, yang berangkat dahulu ya nyampe dahulu”. Tegas habib yang penampilannya sangat jawa sekali ini. Cara penentuan awal Romadlon dan Syawal ini habib dapatkan langsung dari Habib Ahmad ayah beliau. “Abah puasa Romadlon 30 hari terus, jika kemarin saya mulai puasa hari Jum’at 29 Agustus maka tahun depan insya Alloh saya mulai puasa Romadlon hari Selasa”. Kata habib rinci. Namun saat saya berkata :”Habib, saya boleh ikut?” Dengan tegas habib menjawab “Jangan.., Jangankan pada orang lain, Abah gak pernah ngajak istrinya untuk ikut mulai puasa sama dengan Abah”.

Keterangan habib ini ditegaskan juga oleh pak Juwemi, orang kepercayaan habib yang menyambungkan kami untuk bisa bertemu habib malam itu. “Saya ini dulu tukang adu ayam, tapi entah kenapa saya koq mantab dengan abah, padahal abah gak pernah ngajak. Selama saya di sini Abah ngajak saya hanya untuk sholat jamaah dan kerja di bangunan dan kerjabakti lainnya di pondok ini. Alhamdulillah sekarang saya gak pernah adu ayam lagi.”

Subhaanalloh, sangat simpel, sederhana tapi mantab. Dalam hati saya hanya bisa bergumam ; “Inikah contoh konkrit wejangan imam Asy-Syafii :

مَا خَرَجَ مِنَ الْقَلْبِ وَصَلَ إلَى الْقَلْبِ

apa yang keluar dari hati maka sampailah pada hati…!!!?”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s