amalan di hari Asyuro

1. puasa asyuro atau hari ke-10 di bulan Muharrom

2. Puasa sehari sebelum atau sesudah hari asyuro

3. memperbanyak istighfar, ada ibroh bahwa pada hari asyuro itu Alloh Ta’ala menerima taubat atau menerima istighfar :

a. Nabi Adam

b. Nabi Nuh

c. Nabi Yunus

d. Nabi Musa

e. Nabi Ayyub

karena itu tidaklah berlebihan jika juga membaca istighfar nabi-nabi tersebut juga yang terhebat lagi jika kita baca istighfar Rosululloh yang beliau menyebutnya sebagai SAYYIDUL ISTIGHFAR atau Penghulunya Istighfar. Kemudian bisa ditambahkan bacaan Hasbanah 70 kali sebagiamana fatwa seorang ulama Makkah bernama Abu Zabibah kepada murid-muridnya; di antara adalah Gus Rouf putra ulama sepuh kharismatik saat ini mbah Maimun Zubair Sarang Jawa Tengah.

amalan istighfar

dasar rujukan istighfar tersebut adalah :

dasar rujukan istighfarot

Selain itu ada amalan yang juga patut kita lakukan di hari Asyuro Yaitu :

1. Menambah belanja kepada istri atau keluarga

2. Menyantuni anak yatim dengan mengelusap/mengelus ubun-ubunnya serta memberikan hadiah kepadanya

700 Batako datang

01

Besok pembangunan asrama ma’had ibnu mas’ud dimulai. Hari ini Rabu 9 januari 2008 tepat setelah rapat syuro dan sholat asar pak zen menerima kiriman batako 700 biji. Dan malam ini juga segera akan diambil di rumah Bapak Iwan di jalan Bangau putih blok g no.32 perum bangauan Tulungagung sepick-up batu pondasi dan sejumlah genteng.

Alhamdulillah, sampai hari akhir tahun 1428 H ini panitia pembangunan mim.tulungagung mempunyai dana yang terkumpul dari para dermawan sebanyak Rp.4.200.000 yang dipegang bendahara LPI Al-Azhaar Bu Nursiami dan 1 juta dari akhi Ahzam Surabaya yang masih dipegang ustadz imam mawardi. Jadi total dana awal pembangunan sampai hari akhir tahun 1428 H terkumpul Rp.5.200.000. Selain itu ada yang menjanjikan hari ini dikirim 10 sak semen dan 2 truk pasir.

Bismillah laa quwwata illaa billaah.

SYARAH “NIDA’ULLOHIL MU’MINI LI’IBAADIHIL MU’MINIIN

NIDAAULLOHIL MU’MINI

LI ‘IBAADIHIL MU’MINIIN

BIMBINGAN ABUYA

SYARAH AYAT-AYAT YANG DIAWALI DENGAN KALIMAT “YAA AYYUHAL-LADZIINA AAMANUU”

DISADUR DAN DITERJEMAHKAN DARI KITAB TAFSIR MONUMENTAL KARYA IBNU KATSIR

1. SURAT ALBAQOROH AYAT 104.

albaqoroh 104

104. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih[80]. Asbabun nuzul
[80]. Raa ‘ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Di kala para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa’ina padahal yang mereka katakan ialah Ru’uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa’ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa’ina. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa dua orang Yahudi bernama Malik bin Shaif dan Rifa’ah bin Zaid, apabila bertemu dengan Nabi SAW mereka mengucapkan: “Ra’ina sam’aka was ma’ ghaira musmai’in.” Kaum Muslimin mengira bahwa kata-kata itu adalah ucapan ahli Kitab untuk menghormati Nabi-nabinya. Mereka pun mengucapkan kata-kata itu kepada Nabi SAW. Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 2: 104) sebagai larangan untuk meniru-niru perbuatan kaum Yahudi.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari as-Suddi.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kata “Ra’ina” dalam bahasa Yahudi berarti caci maki yang jelek. Sehubungan dengan itu ada peristiwa sbb: Ketika kaum Yahudi mendengar sahabat-sahabat Nabi SAW memakai perkataan itu (Ra’ina) mereka sengaja mengumumkan agar perkataan itu biasa dipergunakan dan ditujukan kepada Nabi SAW. Apabila para shahabat Nabi mempergunakan kata-kata itu, maka mereka menertawakannya. Maka turunlah ayat ini (S. 2: 104). Ketika salah seorang shahabat, yaitu Sa’d bin Mu’adz mendengar ayat ini, berkatalah ia kepada kaum Yahudi: “Hai musuh-musuh Allah! Jika aku mendengar perkataan itu diucapkan oleh salah seorang di antaramu sesudah pertemuan ini akan kupenggal batang lehernya.”
(Diriwayatkan oleh Abu Na’im di dalam kitab ad-Dala’il dari as-Suddi as-Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 104) ketika seorang laki-laki berkata: “Ari’na sam’aka”.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ad-Dlahhak.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa pada waktu itu ada beberapa orang Yahudi yang mengatakan: “Ari’na sam’aka” yang ditiru oleh beberapa orang Islam. Akan tetapi Allah membencinya dengan menurunkan ayat ini (S. 2: 104).
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Athiyyah.)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika kaum Muslimin mengucapkan “Ra’ina sam’aka”, datanglah kaum Yahudi dan berkata seperti itu. Maka turunlah ayat ini (S. 2:104).
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 10) sehubungan dengan ucapan “ra’ina”, yaitu bahasa yang dipakai kaum Anshar di zaman Jahiliyyah, dan karenanya dilarang oleh ayat ini (S. 2: 104).
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Atha’.)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa sesungguhnya orang Arab apabila bercakap dengan salah seorang temannya berkata: “Ari’na sam’aka.” Kemudian mereka dilarang menggunakan kata-kata itu dengan turunnya ayat ini (S. 2:104).
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abil-‘Aliah.)

 

Melalui ayat ini Alloh Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman menyerupakan diri dengan orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan. Demikian itu karena orang-orang yahudi selalu menggunakan ucapan-ucapan yang di dalamnya terkandung makna sindiran untuk menyembunyikan maksud sebenarnya, yaitu menghina nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Semoga Alloh melaknati mereka. Untuk itu apabila mereka hendak mengatakan, “sudilah kira anda mendengar (memperhatikan) kami,” maka mereka mengatakan menjadi ROO’INAA; mereka menyindir dengan kata-kata yang berarti kebodohon (ketololan), diambil dari akar kata “ar-ro’uunah”, seperti yang disebutkan dalam firmanNya dalam surat An-Nisaa’ 46 yang artinya:

 

46. Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya[302]. Mereka berkata : “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya[303]. Dan (mereka mengatakan pula) : “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa[304]. Dan (mereka mengatakan) : “Raa’ina”[305], dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.
[302]. Maksudnya: mengubah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi.[303]. Maksudnya mereka mengatakan : Kami mendengar, sedang hati mereka mengatakan: Kami tidak mau menuruti.[304]. Maksudnya mereka mengatakan: Dengarlah, tetapi hati mereka mengatakan: Mudah-mudahan kamu tidak dapat mendengarkan (tuli).

 


Majelis Dzikir SBY ke MIMTULUNGAGUNG

Alhamdulillah. terimakasih, jazakumulloh kami ucapkan kepada pimpinan redaksi dan seluruh karyawan juga para pembina majalah “dzikir”. Hari ini selasa 8 januari 2008 kami telah terima 2 majalah dzikir edisi No.007 bulan Desember 2007/Dzulqaidah-Dzulhijjah 1428H dari pak pos tulungagung. Semoga bermanfaat.

Hormat dan salam kami juga kami haturkan kepada seluiruh anggota dan peserta di Yayasan Majlis Dzikir SBY. Sedikit berita dari kami juga sudah kami kirim lewat email:redaksi@majalahdzikir.com.dibarengi dengan do’adibarengi dengan do’a Saat ini kami sedang melangsungkan ujian semester Pertama tahun pelajaran santri 1428-1429H / 2007-2008. Dan pada hari kamis besok tepatnya pada moment tahun baru hijriyyah atau 1 Muharrom 1429 kami mohon do’a restu serta dana dan apa saja demi berlangsungnya awal pembangunan asrama pesantren kami. selengkapnya bisa dilihat di blog kami: mimtulungagung.blogspot.com

download tawajjuhat

Adalah Saudara Thoriq Ahmadi dari Bojonegoro namun sekarang tinggal di Kalimantan yang telah memohon kepada Khuwaidimul ma’had (pengasuh) Ibnu Mas’ud untuk membimbing dalam mengamalkan sholawat munjiyaat. maka kami menyarankan untuk downlood sholawat tersebut di kitab tuntunan dzikir kami yaitu dalam kitab TAWAJJUHAAT ma’had Nurul Haromain Pujon Malang. selengkapnya disini tawajjuhaat