Oleh: mimtulungagung | November 9, 2008

Membedah Kitab Ibanah Al-Ahkam

Karya As-Sayyid ‘Alawiy Al-Malikiy (1328 – 1391 H)

Pendahuluan
sejarah telah membuktikan pada mata dunia bahwa kejayaan Islam itu dapat dilihat dari banyaknya karya-karya yang ditulis oleh ulama-ulama / intelektual-intelektual muslim. Mereka adalah pahlawan yang menegakkan sendi kejayaan Islam pada Abad Pertengahan.
Karya-karya tersebut masih banyak yang tetap langgeng sampai pada generasi sekarang. Dan diantara sekian dari karya-karya intelektual muslim itu adalah kitab Bulugh Al-Maram yang ditulis oleh ulama mutaakhkhirin Ibn Hajar Al-Asqolaniy (773 – 852 H). Karya tersebut mendapat banyak sambutan dari intelektual-intelektual sesudahnya. Diantara mereka juga banyak yang berusaha men-syarahi-nya. Salah satu ulama yang men-syarahi kitab tersebut adalah As-Sayyid ‘Alawiy Al-Malikiy (1328 – 1391 H) dengan kitabnya yang terkenal dengan nama Ibanah Al-Ahkam.
Pada tulisan ini, penulis hendak membedah kitab hadits tersebut dengan mengkaji pada metodologi penulisannya saja.

Riwayat Hidup As-Sayyid ‘Alawiy Al-Malikiy
Nasab
Beliau adalah As-Sayyid Al-Allamah ‘Alawiy bin Abbas Al-Malikiy bin As-Sayyid Abdul Aziz bin Al-Arif billah As-Sayyid Muhammad Al-Malikiy Al-Makki Al-Hasani Al-Idrisy sampai pada As-Sayyid Idris Al-Azhar bin Idris Al-Akbar bin Abdullah Al-Kaamil bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan As-Sibth bin Sayyidina Ali dan Sayyidatina Fathimah Az-Zahra binti Sayyidina Rosulillah Shollallahu ‘Alaihi Wa As-Salaam. Beliau dilahirkan di Makkah Al-Mukarramah pada tahun 1328 H dan wafat pada 25 Shofar 1391 H dalam usia 63. Rahimahullah.

Masa Pendidikan
Pendidikan dasar dan sentralnya diasuh oleh orangtua beliau sendiri yaitu mendiang As-Sayyid Abbas Al-Malikiy. Pendidikan Qur’annya diasuh oleh pamannya yaitu As-Sayyid Hasan Al-Malikiy di Darus Sayyidah Khodijah Al-Kubro yang terletak di Zuqoqul Hajar yang sekarang lebih dikenal dengan Madrasatul Huffadz. Di sinilah beliau hafal Al-Qur’an dan menjadi imam sholat tarawih di Masjidil Haram dengan hafalan, ketika berusia 10 tahun. Kemudian setelah itu melanjutkan belajarnya di Madrasah Al-Falah yang cukup qualified dan bonafide.
Di samping itu beliau mendapat bimbingan dari orangtua yang waktu itu menjabat sebagai Mudirul Maarif, dengan mudzakarah dan mendengarkan hafalan-hafalan matan ilmu yang harus dimiliki oleh setiap santri. Memperoleh ijazah Ulya dari Madrasah Al-Falah pada tahun 1346 H dengan hasil yang sangat memuaskan, sehingga apa yang diharapkan orangtua beliau hendaknya sang putra kelak dapat membina halaqah ilmu di Masjidil Haram betul-betul dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Juga berkat doa Al-Walid dan doa As-Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Atthas perkembangan tambahan ilmu dan kaweruh beliau terlihat semakin mantap, yang kemudian dapat melanjutkan studinya di Masjidil Haram. Dorongan As-Sayyid Abbas Al-Malikiy (orang tua beliau) pada waktu itu cukup dominan. Di antara dorongannya, beliau berkata kepada sang putra tercinta,

“Ijazah seseorang adalah ilmunya dan kemanfaatan ilmu itu kepada manusia”

Dengan inilah kemudian beliau harus memacu ilmu sebanyak-banyaknya dari guru-guru besar. Guru-guru beliau antara lain :
1. As-Syekh Abdullah Hamduh
2. As-Syekh Muhammad Al-Arabiy At-Tabbaniy
3. As-Syekh At-Thayib Al-Murakisyi
4. As-Syekh Umar Hamdan
5. As-Syekh Isa Rawwash
6. As-Syekh Ahmad Nadhirin
7. As-Syekh Yahya Aman
8. As-Syekh Habibullah As-Singqithiy
9. As-Syekh Muhammad Aliy bin Husain Al-Malikiy
10. As-Syekh Jamal Al-Malikiy
11. As-Syekh Ahmad At-Tiji (Syaikhul Qurra’)
12. As-Syekh Hasan As-Said
dan masih banyak lagi yang lainnya.

Masa Mengajar
Pada tahun 1347 H, ketika berusia 20 tahun, beliau sudah diangkat menjadi guru di Madrasah Al-Falah dan diberi wewenang mengajar di Masjidil Haram. Di Khaswah Babussalam beliau memulai mengadakan halaqah ilmu yang dipadati oleh para santri. Kemudian dengan dorongan yang kuat dari ayahnya, beliau membuka majlis umum untuk pengajian dengan metode penyampaian yang dipakai oleh As-Syekh Ibrahim Arab, sehingga yang hadir dalam pengajian beliau ini lebih dari seribu orang.
Tiga puluh tiga tahun lamanya beliau membina kader ilmuwan di Madrasah Al-Falah, di samping menyebar ilmu di Masjidil Haram, di rumahnya dan di khalwatnya, dan nampaklah dari hasil pendidikan beliau ini beberapa Qodli, Ulama’, dan Asatidz, diantaranya adalah putra beliau sendiri yang cukup kita kenal yaitu As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawiy Al-Malikiy Al-Hasaniy, terutama juga orang-orang dari negeri kita Indonesia yang waktu kepulangan mereka sedang menghadapi kolonial Belanda dan menjadi kyai-kyai dan tokoh-tokoh perjuangan yang mempunyai andil besar dalam mengusir penjajah, sehingga terciptalah kemerdekaan Indonesia. Di antara murid beliau ialah K.H. Anwar Musaddad Garut, K.H. Syafi’i (almarhum) Jakarta, K.K. Thahir Rahiliy Jakarta, dan lain-lain.

Ibanah Al-Ahkam diantara Syarah-syarah Kitab Bulugh Al-Maram
Ibanah Al-Ahkam adalah kitab yang men-syarahi (menjelaskan) kitab Bulugh Al-Maram karya Al-Hafidl Ibn Hajar Al-Asyqalaniy. Dan kalau kita lihat karya ulama-ulama besar yang men-syarahi kitab itu sudah banyak dan yang terkenal antara lain :
Kitab Ifham Al-Afham, karya As-Said Yusuf bin Muhammad Al-Ahdal, meninggal tahun 1242 H
Kitab Al-Badi Al-Tamam, karya Al-Qodli Syarfu Ad-Din Al-Husainiy bin Muhammad bin Sa’id Al-La’i, meninggal tahun 1119 H
Subul As-Salaam, karya Muhammad bin Isma’il Al-Amii Al-Yumna As-Shan’aniy, meninggal tahun 1107 H
Fath Al-’Allam, karya Abi Ath-Thoyyib Shodiq bin Hasan Al-Qonuji
Dan diantara kitab-kitab tersebut yang paling klasik adalah Subul As-Salaam.

Banyaknya komentator terhadap kitab Bulugh Al-Maram disebabkan karena kitab tersebut adalah kitab hadits yang membahas fiqh. Hal inilah yang menjadikan daya tarik ulama untuk men-syarah-i kitab tersebut. Dan disamping itu karena pengarangnya memang seorang yang ahli dan cakap di bidang hadits sehingga mengundang banyak orang ‘alim untuk selalu mengkritisi karya-karyanya.
Kondisi itu juga ada pada diri As-Sayyid ‘Alawiy Al-Malikiy. Dimana beliau merasa terpanggil juga untuk mengkritis kitab tersebut sesuai dengan keahlian beliau di bidang hadits dan fiqh. Dan karena karya beliau muncul pada era modern, maka bisa jadi sistematika penulisannya disesuaikan dengan jamannya. Dan inilah nantinya yang akan membedakan dengan kitab-kitab (syarah) sebelumnya.

Ibanah Al-Ahkam
Kitab Ibanah Al-Ahkam setelah dikaji oleh penulis dan juga dibandingkan dengan kitab-kitab lainnya, maka penulis melihat ada beberapa hal yang positif pada kitab ini; antara lain :
Kitab ini memudahkan bagi pemula terhadap pengkajian hadits terutama hadits-hadits yang ada dalam kitab Bulugh Al-Maram. Baik kemudahan dari sisi memahami perawi hadits, makna hadits dari sisi lafadl, maupun makna hadits dari sisi fiqh. Hal ini karena sistematika penulisan yang dibuat sangat representatif untuk bisa cepat dimengerti.
Kitab ini lebih berorientasi pada kombinasi fiqh hadits. Dan ini bisa dilihat bagaimana beliau menjelaskan suatu hadits dengan mengkombinasikan maknanya dengan pendapat tokoh-tokoh / ulama-ulama madzhab tanpa justifikasi pembenaran pada salah satu pendapat. Misalnya : ketika beliau mengomentari hadits yang diriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudri r.a. dimana Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya  air itu suci dan sesuatu tidak bisa membuatnya najis” (lihat bab Ahkam Al-Miyah hadits ke-2).
Beliau mengomentari hadits tersebut terutama yang berkaitan dengan kalimat “syaiun” (sesuatu) dengan mengkaitkan pada pendapat / komentar ulama-ulama madzhab. Ia menukil bahwa menurut Imam Malikiy yang dimaksud “syaiun” tersebut tidak dibatasi oleh jumlah; artinya, bila ada air yang kemasukan benda asing baik sedikit atau banyak selama benda itu bukan najis, maka air itu tetap suci. Dan hal itu berbeda dengan yang dikemukakan Imam Syafi’i, Hanafi dan Hambali, yang mereka membatasi sesuatu itu pada faktor jumlah (banyaknya). Artinya kalau sesuatu itu sedikit namun bisa mengubah sifat air, maka air itu tidak dianggap suci.
Ini hanya contoh, bagaimana Sayyid ‘Alawiy menerangkan satu hadits dengan mengkombinasikan dengan kajian-kajian fiqh klasik dan tentu sangat bermanfaat bagi pelajar-pelajar yang hendak mendalami fiqh hadits.
Sebagaimana diungkapkan di atas bahwa kitab Ibanah Al-Ahkam ini dari sisi penulisannya berbeda dengan kitab-kitab (syarah) sebelumnya. Kitab ini memiliki sistematika sebagai berikut :
Ma’na Ijmali : pemahaman ma’na global. Dalam fase ini, sebuah hadits dipahami secara global dengan mengkaitkan pada Asbab Al-Wurud hadits itu. Sehingga bagi pembaca akan sangat paham konteks hadits tersebut ketika diucapkan oleh Rasulullah. Contoh : hadits yang diriwayatkan dari Amr bin Hharijah r.a. bahwasanya ia berkata,
“Rasulullah Saw berkhutbah pada kami di Mina sedangkan beliau berada di atas unta dan unta itu berliur yang jatuh pada paha saya” (lihat bab Al-Aniah hadits ke-24).

Sayyid ‘Alawiy menjelaskan konteks hadits tersebut bahwa Rasulullah Saw itu sedang berkhutbah di atas unta pada waktu Haji Wada’, beliau menjelaskan tentang haji. Dan pada waktu itu air liur unta menetes pada salah satu sahabat dan Rasulullah mengetahuinya dan ada memerintahkan untuk menghilangkannya. Konteks hadits ini yang dibahas pada fase ma’na Ijmali akan lebih memudahkan pemahaman hadits secara komprehensif dan integral.
Tahlili Al-Lafadl : memperinci makna kata demi kata
Fiqh Al-Hadits : pemahaman hadits yang integral dan komprehensif.
Pada fase ini kecerdasan dan kejelian akan penelitiannya terhadap suatu hadits sangat luar biasa. Hal ini bisa dilihat karena ketika ia memahami suatu hadits, tidak hanya tertumpu pada pendapat ulama madzhabnya. Namun beliau bisa menginterpretasikan pemahaman yang baru hasil ijtihadnya. Contoh hadits yang diriwayatkan oleh Ammar bin Yassir r.a., ia berkata :
“Telah mengutusku Nabi Muhammad untuk suatu kebutuhan. (Di tengah perjalanan) saya berjinabat (dan hendak mandi) tidak menemukan air, maka saya bertayamum dengan bergulung-gulung di tanah, seperti bergulung-gulungnya binatang. Kemudian saya mendatangi Rasulullah dan menceritakan hal itu. Maka Rasulullah bersabda : “Sebenarnya kamu cukup menepukkan tanah di tanganmu …” (lihat bab Tayyamum hadits ke-108).
Dalam memahami hadits ini beliau tidak hanya bersandar pada fiqh tayammum saja, namun beliau menafsirkan hal-hal di luar itu, yaitu : bahwa bagi orang yang berpendapat / berijtihad tidak perlu dicela jika salah. Karena — menurut beliau — beliau Rasulullah tidak memarahi sahabatnya ketika melakukan kesalahan, justru sebaliknya meluruskan dan mengarahkan kepada yang benar. Di sinilah yang dimaksud interpretasi baru yaitu bahwa hadits itu menurut Sayyid Alawiy mengandung pesan-pesan yang bernuansakan pendidikan.

Kajian Perawi Hadits. Dalam kajian perawi hadits, beliau hanya menjelaskan perawi I dan tidak menjelaskan seluruh perawi yang ada dalam sand hadits. Hal ini mungkin karena keterbatasan waktu.

Penutup
Demikianlah bedah kitab Ibanah Al-Ahkam karya As-Sayyid ‘Alawiy Al-Malikiy. Kitab ini menurut penulis sangat layak untuk dikaji di perguruan-perguruan tinggi Islam terutama pada jurusan Syari’at atau Hadits. Namun sayang buku ini tidak bisa dilanjutkan karena As-Sayyid ‘Alawiy keburu meninggal dunia sebelum menyelesaikan bab Mu’amalatnya. Semoga amal beliau diterima Allah SWT. Amin.

Wa Allahu A’lamu.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: